Pekerjaan Yang Paling Menyenangkan


Kalau kamu bertanya, pekerjaan apa yang paling menyenangkan, mungkin jawaban masing-masing orang akan berbeda-beda. Namun, pekerjaan yang paling menyenangkan, menurutku, paling tidak harus memenuhi tiga  hal ini:

Pertama, pekerjaan itu harus membuatmu merasa bermanfaat.  Semakin besar manfaat pekerjaanmu bagi orang lain, semakin terasa berharga dirimu, semakin menyenangkan terasa pekerjaan itu bagimu. Itulah intinya bekerja. Kita bekerja agar kehadiran kita, keberadaan kita di dunia ini, membuat perbedaan, bermanfaat. Kalau kita ada, tapi ada kita sama dengan tiada kita, maka sama saja seperti kita tak ada.

Kedua,  pekerjaan itu haruslah sesuai dengan ‘konstruksi’-mu: keperibadianmu, kecenderungan-kecenderunganmu, bakat-bakatmu, kemampuanmu, pengalaman-pengalamanmu. Ini penting. Kau tak akan bahagia dan merasa sejahtera kalau kau harus melakukan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang kau miliki; kalau kau harus melawan dirimu sendiri. Tanpa kesesuaian dengan bentuk-bangunmu, apapun yang kau lakukan tak akan sepenuh hati, tak akan sempurna. Bayangkan roda yang bersudut-sudut tajam; ia tentu tak akan bisa menggelinding sama seperti roda yang tanpa sudut, bundar, dan mulus.

Ketiga, pekerjaan itu harus dapat memberimu kehidupan yang layak. Betul, kau bekerja untuk memberikan manfaat kepada sesama, kepada semesta; tapi untuk terus hidup dan menjalankan fungsi itu dengan baik, kau  juga harus sejahtera, lahir dan batin. Bermanfaat dan menerima manfaat adalah hubungan imbal balik yang harus berkeseimbangan.

Ketiga hal itu, aku kira, universal — kebutuhan kita semua, keinginan kita semua.

Untukku sendiri, aku suka pekerjaan yang kreatif dan memberiku tingkat kemandirian yang tinggi. Aku suka berpikir, merenung, mencipta. Aku tak suka diikat, karena ikatan seringkali membelenggu jalan pikiran, perenungan, dan proses kreatifku. Proses mencipta adalah proses yang membutuhkan tingkat kemandirian yang tinggi.

Aku juga suka pekerjaan yang interaktif — pekerjaan yang membuatku berinteraksi dengan sesama manusia. Interaksi penting, karena ia bersifat menghubungkan. Meskipun berfikir, merenung, dan mencipta adalah proses internal, ia sulit (tak mungkin?) terjadi tanpa keterhubungan. Untuk berpikir dan merenung, kita perlu timbal balik menghubungkan diri dengan seluruh unsur pembangun semesta, dengan pikiran-pikiran lain, dengan gagasan-gagasan lain, dengan ciptaan-ciptaan lain. Untuk mencipta — berkreasi — kita perlu menghubung-hubungkan, menyusun, merekayasa apa-apa yang telah ada. Manusia bukan Tuhan yang mampu menciptakan ada dari ketiadaan yang mutlak. Kita hanya menyusun ulang apa yang telah ada, mencari dan menemukan hubungan-hubungan baru yang sebelumnya tak tampak atau tak terpikirkan melalui proses berpikir dan merenung lain.

Aku suka pekerjaan yang memungkinkanku untuk bergerak bebas — bereksplorasi dan mengeksplorasi ruang dan waktu, mengalami dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuan yang kumiliki. Keterkurungan dan keterbelengguan akan memutus energi yang kuperlukan untuk berpikir, merenung, dan berkreasi.

Aku tahu kekuatan-kekuatan dan keterbatasan-keterbatasanku. Aku telah belajar dari jatuh bangunku. Lama dan menguras energi. Tapi itulah harga pencerahan yang harus kubayar. Kau pun, aku yakin, akan belajar hal yang sama dari jatuh bangunmu sendiri untuk mengenali dirimu sendiri, asal kau tak menutup mata hati dan pikiranmu dari segala kemungkinan; selalu waspada dan membaca gerak batinmu sendiri.

Aku tak suka pekerjaan yang tak memberi waktu untuk menjadi diriku sendiri. Tak suka pekerjaan yang merampas seluruh waktuku untuk dan deminya. Aku tak suka bekerja ketika seharusnya aku tak lagi bekerja; ketika seharusnya aku mengurus diri dan orang-orang dan apa-apa yang aku cintai. Tentu ini seharusnya tak terjadi kalau tak ada sekat antara aku dan pekerjaanku; kalau bekerja adalah mengurus diri dan orang-orang serta apa-apa yang aku cintai adalah satu.

Aku tak suka pekerjaan yang tak mampu memberiku kesejahteraan lahir dan batin; yang membuatku khawatir tentang hari ini dan hari esok. Tak suka pekerjaan yang tak memampukanku untuk berkembang dan merealisasikan segala potensiku. Tak suka pekerjaan yang hanya membuat orang-orang menjadi budak struktur, uang, dan jabatan; yang membuat orang menghalalkan segala cara dan tipu daya dan lupa pada maslahat.

Bekerja tak seharusnya hanya demi bekerja dan mencari penghidupan semata. Bekerja adalah sesuatu yang transenden — pengabdian kita pada Tuhan, berbagi maslahat kita bagi sesama.

Satu pemikiran pada “Pekerjaan Yang Paling Menyenangkan

  1. Saya berpendapat kita kerja mendapat 2 macam penghasilan: Yang pertama, Jelas penghasilan Finasial, Yang kedua:yang sering tidak disadari atau dilupakan banyak orang, yaitu penghasilan emosional. Yang bapak tulis diatas biasa dianggap pengertian dari penghasilan emosional.
    So Pekerjaan menyenangkan = Penghasilan emosional yang besar

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s