Genre: Epos dan Fiksi


Genre – klasifikasi teks atau karya sastra berdasarkan kesamaan struktur dan subjeknya – telah lama menjadi perhatian teori sastra. Sepanjang sejarah, beragam kategori teks sastra telah diusulkan. Namun di antara semuanya, ada tiga kategori yang terbukti memiliki tingkat keberterimaan yang paling luas, yaitu epos (sering juga disebut epik atau wiracarita), drama, dan puisi.

Karena perkembangan bentuk-bentuk baru karangan prosa pada abad ke-18 dan ke-19 – yang ditandai antara lain dengan kemunculan novel – istilah epos kemudian diganti dengan fiksi untuk lebih mencerminkan perkembangan yang terjadi dalam struktur dan subjek karangan yang non-puisi, non-drama itu.

Epos dan Fiksi
Epik dan fiksi memiliki banyak kemiripan, terutama dalam hal struktur naratifnya, penokohan, pola-pola plot, dan panjang ceritanya. Namun demikian ada sejumlah perbedaan yang perlu dicermati dari keduanya:

Epos, terutama yang tradisional, umumnya ditulis dalam bentuk syair (verse). Epos umumnya berisi kisah-kisah yang berskala besar dan diceritakan dalam beberapa episode. Kisah-kisah itu umumnya berpusat pada tokoh-tokoh yang dihadapkan pada tugas-tugas mahapenting bagi semesta (menegakkan kebajikan dan melawan angkaramurka) atau kebangsaan (menyelamatkan bangsa atau negara dari kehancuran). Kisah-kisah dalam epos klasik biasanya diambil dari mitos, sejarah, atau agama dan oleh karena itu mengandung cara padang tentang kosmos (worldview) yang utuh dari zaman atau bangsa tempat epos itu berasal.

Contoh epos yang paling jelas dan dikenal cukup luas di Indonesia, terutama di tanah Jawa, adalah Ramayana dan Mahabharata. Kedua epos yang berasal dari anak benua India ini memiliki semua ciri yang disebutkan di atas: kedua-duanya ditulis dalam bentuk syair yang sangat panjang dan terbagi dalam beberapa episode, kisahnya terpusat pada tokoh-tokoh yang secara alegoris menjadi perlambang bagi gagasan-gagasan besar seperti kebajikan dan angkaramurka; selain itu, kedua-duanya juga mengandung kisah-kisah yang menjadi alegori ajaran agama Hindu.

Berlainan dengan epos, fiksi umumnya ditulis dalam bentuk prosa. Isinya pun tidak berskala besar seperti epos, melainkan kisah-kisah tentang individu-individu dan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, meskipun isinya cerita rekaan, fiksi tetap memiliki realisme.

Dewasa ini kita mengenal dua bentuk utama fiksi, yaitu novel dan cerita pendek (cerpen). Kedua bentuk fiksi ini sebenarnya relatif baru. Novel pertama kali muncul di Spanyol pada abad ketujuh belas dan di Inggris pada abad kedelapan belas. Cerpen muncul nyaris pada saat yang bersamaan dengan novel, yaitu pada abad kedelapan belas, seiring dengan perkembangan media massa seperti koran dan majalah yang menyediakan tempat bagi diterbitkannya cerita-cerita yang dapat dibaca dengan sekali duduk.

Kemunculan novel dan cerpen dapat dikatakan sebagai penanda kelahiran era modern yang mengikis cara pandang yang utuh tentang dunia (Weltanschauung) dan menggantikannya dengan relativisme yang menyusup di semua wacana kehidupan. Berlainan dengan epos yang memiliki dimensi kosmik dan alegoris, novel dan cerpen sangat kental dengan ciri realis dan individualis: plot kedua jenis fiksi ini dibingkai dalam konteks realitas historis dan geografis tertentu. Tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya pun tidak lagi bersifat alegoris dan mengejawantah sebagai perwujudan gagasan-gagasan ideal, melainkan sebagai individu dengan sifat-sifat yang realistik sebagaimana manusia layaknya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s