Dokter Makan Orang


Dengan hanya satu pertanyaan dan tanpa memeriksa apapun kecuali dengan lirikan matanya, dokter itu langsung menuliskan resep — sambil terus sibuk berbica di ponselnya.

Di instalasi apotek, saya dibuat terkejut dengan harga obat yang harus saya bayar: tiga ratus lima puluh ribu rupiah!

Saya putuskan untuk tidak membayar obat itu, membatalkan pembeliannya. Bukan cuma soal jumlah uangnya, tapi karena resep itu ditulis tanpa melakukan diagnose yang sewajarnya. Mungkinkah seorang dokter, apalagi seorang dokter spesialis, menuliskan resep tanpa melakukan diagnose?

Aku marah dan mengutuki dokter itu.

Aku — pasien umum yang masih membayar — diperlakukan seperti itu. Bagaimana pula nasib para pasien miskin yang datang dengan Jamkesmas dan semacamnya?

Lalu aku menulis seperti ini di Facebook-ku:

Biaya pendidikan dokter super mahal. Orang-orang yang idealis tapi tak punya uang tak kan bisa jadi dokter. Orang-orang yang bermotif bisnis dan punya uang, bisa. Untuk menutupi biaya yang sudah dikeluarkan, para dokter kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan farmasi untuk memeras pasien. Layanan rumah sakit umum dan pengobatan gratis hanya gimmick (siasat) politik. Pasien kere tak betul-betul diperiksa atau dilayani. Ditolak dan dipingpong bisa jadi, dan sering. I don’t generally believe in doctors, hospitals, just as I will never give blank cards to politicians.

Saya menganggap perilaku dokter tadi sebagai pemerasan terselubung. Sudah menjadi rahasia umum dokter menerima kickback (persenan) dari penjualan obat yang diresepkannya.

Tapi apa boleh dikata, mungkin dia terpaksa melakukan itu. Biaya pendidikannya mahal. Untuk menjadi dokter, apalagi dokter spesialis, dia pasti telah menghabiskan ratusan juta. Rasanya tak ada orang waras yang akan mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa mengharapkan imbal balik yang semestinya. Kalau itu sebuah investasi, pastilah harus ada untungnya, labanya. Dan laba itu tak mungkin didapatkannya dari gaji dan tunjangan yang diterimanya sebagai pegawai pemerintah di rumah sakit. Maka, selain praktik sana sini, buka lapak sana sini, dia pun memanfaatkan kekuasaannya dengan menuliskan resep-resep mahal pesan sponsor perusahaan farmasi yang mau menjajikan atau telah memberikan sekian puluh atau ratus juta ke kantongnya.

Ada beberapa komentar menarik dari teman-teman yang membaca status itu. Tiga di antaranya.

Saya malah sempat terpikir pak, kalo biaya pendidikan dokter yg super mahal jangan2 hanya untuk membuat gap yg besar antara supply dan demand dari dokter dan pasien agar selalu tetap besar di negara2 berkembang, kalo gap ini selalu besar maka keuntungan yg besar dari industri ini akan selalu terjaga.

Nggak heran industri farmasi menempati urutan kedua terbesar dalam perlutaran uang setelah minyak.

Ada sebuah cerita ” Ada dokter spesialis bedah. Buka klinik didekat rumahnya. setiap ada pasien yang akan melahirkan selalu ditangani dengan bedah tidak perlu lahir normal. Jadi buah bibir di sektar daerahnya. Tuh dokter nu sok ngabedelan awewe reuneuh. Yang datang ke sana selalu ditangani dgn bedah dan jg biaya lannya dgn tarif tinggi. wah ini mah pasti biar cepat balik modal. Memang saya lihat rumah dan kliniknya bagus mentereng. sore hari jg dia praktek umum di tmpat praktek lainya. Mengerikan melihat dokter seperti ini.

Betul, pak Eki..

Apalagi pasien ber-ASKES, JAMSOSTEK, JAMKESMAS, etc. Kesehatan mereka bakalan dikebiri. Bahkan pasien dijadikan boneka percobaan alat2 baru/metode baru mereka. Sy pernah mengalami saat periksa kehamilan, dijadikan uji coba USG 4 dimensi oleh mahasiswa2 Pascasarjana Kedokteran Umum. Bayangkan, saat hamil 9 bln sy di USG lbh dr 2 jam. Hadeeeuuuh.. Sy komplain mrk,lalu mrk kasih reward Rp.50rb untk kelelahan sy.

Pendidikan dokter adalah satu pangkal utama yang harus dibenahi untuk membenahi kekacauan ini. Calon-calon dokter tak seharusnya dipilih dan diterima dengan pertimbangan kemampuan membayar seperti diindikasikan selama ini, namun pada kemampuan akademik dan idealisme. Selama itu terjadi, motif mencari untung akan terus tumbuh dan berkembang dan merugikan masyarakat.

Tanpa pembenahan itu, di negara yang nyaris tanpa hukum ini, dokter makan orang, menghisap darah orang, akan menjadi normal seperti normalnya politisi — wakil-walik rakyat, pejabat-pejabat publik — yang makan orang, menghhisap darah orang, karena untuk menduduki posisi-posisi tersebut mahal biayanya.

Sistem pelayanan kesehatan di negeri ini amburadul. Banyak orang tidak lagi percaya pada dokter-dokter dan rumah sakit-rumah sakit di negeri ini. Bukan karena mereka tidak baik atau tidak memenuhi syarat sebagai penyedia layanan kesehatan. Banyak dokter-dokter kita yang mumpuni. Pendidikan dokter kita pun sangat baik kualitasnya. Riset dan capaian-capaiannya banyak yang bisa dibanggakan. Banyak orang dari negara-negara tetangga ingin menimba ilmu kedokteran di sini. Rumah sakit-rumah sakit kitapun memiliki fasilitas yang tak kalah baiknya dengan rumah sakit-rumah sakit di negara-negara tetangga. Namun karena sistem yang amburadul ini, keyakinan kita pada kualitas layanannya pun menjadi menguap. Gejala-gejalanya dapat dibaca dengan cukup gamblang, saya kira: Orang-orang kaya (termasuk para pejabat publik negeri ini) lebih suka memeriksakan kesehatannya di luar negeri. Orang-orang tak mampu merasa lebih baik tak bertemu monster dokter atau menyambangi rumah sakit. Mereka lebih memilih pengobatan alternatif, yang kini makin menjamur, yang mungkin dirasa lebih terjangkau dan manusiawi.

Bagaimana orang akan percaya, yakin, dan merasa tentram dengan layanan sosial kemanusiaan kalau kepentingan uang lebih berkuasa dari kepentingan sosial dan kemanusiaan itu sendiri? Bukankah layanan kesehatan adalah layanan sosial dan kemanusiaan?

2 pemikiran pada “Dokter Makan Orang

  1. Bismillah
    Entah benar atau tidak perasaan saya, saya rasa bapak menulis artikel ini tidak dalam keadaan damai atau jernih sehingga terasa memaksakan satu asumsi publik ke dalam sebuah generalisasi tanpa dibarengi upaya untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Namun, toh ini pendapat pribadi. Jadi bagaimanapun cara penyampainnya, memang terbit dari perasaan dan penilaian pribadi🙂.

    Saya pikir hal yang coba diketengahkan di sini, tentang dokter makan orang, atau pelayan publik makan orang, bisa juga dilayangkan ke profesi lain. Guru misal.
    Saya kira sudah menjadi asumsi publik bahwa guru, walaupun sudah diterbitkan kebijakan kontradiktif dari pemerintah, mendapat persenan dari penerbit yang buku atau LKSnya mereka jual ke siswa atau bahkan mereka sendiri yang menjadi distributor buku – buku tersebut. Dan bohong rasanya jika dibilang uang yang harus dikeluarkan orang tua untuk buku tersebut, walau ada dana BOS, hanya satu atau dua rupiah.

    Lantas, apakah ini artinya SEMUA guru makan darah orang? SEMUA guru money-oriented? Termasuk anda, sebagai praktisi di bidang pendidikan? Toh guru dan dokter sama – sama menjadi pelayan publik. Sama – sama menangani hal – hal dasar dalam kehidupan (kesehatan dan pendidikan).

    Saya tidak bermaksud untuk mengkontrakan apa yang menjadi fokus pembicaraan di artikel ini karena memang saya akui harga pelayanan kesehatan (sangat) mahal dan masih terdapat cacat – cacat dalam sistem pelaksanaanya. Hanya saja, saya berharap agar opini yang dituangkan Bapak dalam artikel ini tidak lantas menjadi pembenaran atas asumsi bahwa SEMUA dokter seperti itu dan bahwa negara ini tidak akan pernah becus menjamin hak – hak dasar warga negaranya.

    Mereka yang berobat ke luar negeri, saya pikir bukan murni dikarenakan tidak percaya dengan fasilitas yang diberikan, tapi alasan prestise sosial juga bisa jadi motivasi. Begitupun dengan pengobatan tradisional yang bisa saja ditempuh beberapa pasien bukan sebagai bentuk ketidakpuasan, tapi lebih kepada ikhtiar yang lebih banyak atau dalam bahasa Sunda”langkung soson-soson”.

    Semoga Bapak sempat membaca (atau mendengar) cerita – cerita dari dokter – dokter di luar sana yang rela tidak dibayar- bahkan harus mencari pekerjaan sampingan agar tetap hidup. Atau cerita tentang orang – orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tapi rela ke pusat pelayanan kesehatan desa yang jaraknya berkilo – kilo walau di desa mereka terdapat pengobatan alternatif.

    Saya berempati dengan ketidakpuasan Bapak dan saya do’akan agar Bapak kelak mampu menjadi pengingat banyak orang untuk menjadi lebih baik, bukan pengompor untuk setuju akan asumsi generalisasi subjektif.🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s