Tebak-tebakan Dokter


Dokter juga suka main tebak-tebakan. Nama permainan itu: diagnose.

Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Pergilah ke beberapa dokter kalau kamu sedang sakit dan perhatikan bagaimana mereka menebak-nebak penyakitmu.

Tentu ada landasan yang mereka pakai untuk melakukan permainan itu, tebak-tebakan itu: ilmu, pengalaman, data yang mereka dapatkan dari dan tentang si pasien — kompetensi medis!

Maka, alangkah bahayanya kalau dokter-dokter itu terlalu sibuk atau terlalu memikirkan uang dan tak melakukan proses yang semestinya untuk mendapatkan data yang mereka perlukan. Mereka bermain dengan nyawa para pasiennya.

_________

Maaf kalau ceritaku masih tentang dokter, dan bernada kesal.

Kemarin aku memutuskan untuk menemui dokter lain. Praktik swasta. Bukan dokter di rumah sakit pemerintah yang penuh sesak. Dengan bayaran yang lebih mahal.

Ternyata sama saja. Tiga menit saja, atau kurang. Mereka tak mau meluangkan waktu lebih banyak bertanya jawab untuk menggali informasi tentang keluhan saya dan melakukan pemeriksaan yang semestinya agar tebakan mereka lebih jitu.

Pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan pun hanya dijawab dengan satu dua kata. Dia buru-buru menuliskan resep, seolah-olah ingin saya segera pergi, agar dia bisa melayani sebanyak mungkin pasien dan meraup sebanyak mungkin uang. Dari tempat praktik ini — di sebuah apotek — dia mungkin harus ke tempat-tempat lain yang memajang nama dan gelarnya. Tempat-tempat itu, dalam bayanganku, seperti bubu-bubu yang dipasang oleh petani yang memncoba menangkap sebanyak mungkin ikan di sungai.

Resep yang aku tebus di apotek itu, tentu saja, sangat mahal. Harga itu, saya tahu, termasuk prosentase fee yang akan diberikan oleh apotek dan perusahaan farmasi kepadanya. Saya punya beberapa teman dan kerabat dokter dan saya tahu betul praktik-praktik semacam ini.

Oh ya, dokter ini meminta saya kontrol (periksa ulang) dua minggu lagi. Saya mencoba untuk tidak suudzon mengenai hal ini, meskipun logika saya mengatakan, kalau dia telah melakukan diagnosa dengan benar dan cukup teliti, mungkin dia tidak perlu menunggu waktu dua minggu untuk coba-coba obat.

____________

Sekali lagi maaf kalau nada tulisan saya tentang dokter sember. Pengalaman saya, kami — keluarga kami, dan beberapa teman tentang dokter memang negatif.

Dulu almarhum ayah saya, yang terkena stroke, akhirnya harus menjadi lumpuh sebelah karena para dokter yang menanganinya di rumah sakit tak segera dan dengan tegas menanganinya, meskipun dokter-dokter yang menanganinya melakukan kunjungan setiap beberapa jam. Saya lihat mereka tidak melakukan apapun, hanya cek tekanan darah? Saya tahu, setiap kunjungan mereka mendapatkan fee, karena dalam tagihan rumah sakit yang kami bayar, ada tercantum fee itu. Seorang kolega yang juga terkena stroke lebih baik nasibnya, karena dia tidak mau berlama-lama di rumah sakit dan segera mengambil tindakan pergi ke pengobatan alternatif. Dia selamat dan bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.

Dulu saya juga pernah sakit saraf yang sangat menyiksa. Very painful, sampai-sampai untuk bergerak pun saya tak mampu karena terlalu sakit. Di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah, saya ditangani oleh dokter saraf yang tampak tak terlalu antusias menangani. Saya diberikan resep yang amat mahal setiap minggu, selama beberapa minggu. Penyakit itu kunjung tak sembuh. Hanya rasa sakitnya saja berkurang ketika obat bekerja. Setelah itu, muncul lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk ke klinik herbal. Hanya dua minggu dan satu kali resep herbal dengan harga tak lebih dari seratus ribu rupiah. Penyakit itu pelan-pelan lenyap dan tak kambuh lagi.

Saya merenung, selain kasus-kasus besar yang sempat masuk ke media massa, berapa banyak kasus salah diagnose yang lenyap ditelan angin karena dokter yang terlalu sibuk, terburu-buru, dan terlalu memikirkan uang dan keuntungan finansial? Kasus-kasus itu tak menjadi perhatian publik karena pasien tak mengerti, pasrah, dan menerima saja.

Tanpa regulasi dan penegakan hukum yang tegas, di negara yang nyaris tanpa hukum ini, dokter bisa jadi monster.

_____________

Tulisan ini, dan tulisan sebelum ini, tidak menafikan adanya dokter-dokter yang baik dan penuh tanggung jawab menjalankan profesinya. Saya tidak percaya manusia-manusia dalam satu profesi semuanya jahat atau bermotif jelek. Dalam profesi yang jahat pun, saya kira, masih ada orang-orang yang berkonstitusi baik. Namun saya yakin, dalam sistem yang buruk, orang baik pun dapat dengan mudah menjadi buruk.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s