Kesan-kesan di Malaysia dan Singapura (Bagian Kedua)


image
Patung air mancur Merlion di Marina Bay.

Singapura termasuk negara yang paling sering saya singgahi, dalam arti yang sesungguhnya. Kunjungan saya ke negara pulau itu biasanya memang dalam rangka singgah dalam perjalanan dari dan ke negara lain. Kunjungan terlama saya ke negara itu, seingat saya, adalah dua hari dua malam. Tidak pernah lebih.

Singkatnya kunjungan itu bisa jadi ada hubungannya dengan ukuran Singapura yang mini. Luas wilayah daratannya, yang hanya 714,3 kilometer persegi, hanya sedikit lebih luas dari keseluruhan wilayah daratan DKI Jakarta — di luar wilayah perairan di teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu — yang 661,52 kilometer persegi. Sangat mini untuk ukuran sebuah negara. Barangkali karena ukurannya yang mini itulah, saya merasa tidak perlu berlama-lama bertandang ke negara itu: jika kita berwisata secara “efektif” dan “efisien”, kita bisa menikmati atraksi-atraksi utama wisatanya dalam waktu dua atau tiga hari.

Bisa jadi itu cuma kesan saya, karena meskipun kecil ukurannya, turisme Singapura adalah salah satu yang paling jagur (robust) di kawasan ASEAN. Ia adalah negara ketiga paling banyak dikunjungi setelah Malaysia dan Thailand. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Sekretariat ASEAN, tahun 2011 Singapura dikunjungi oleh lebih dari 13 juta wisatawan mancanegara (wisman); sementara itu Malaysia dan Thailand — yang menduduki peringkat pertama dan kedua — masing-masing dikunjungi oleh 24,7 dan 19 jutaan wisman. Angka-angka ini jauh di atas kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang pada tahun itu hanya mencapai 7,6 jutaan orang. Jadi besar kecilnya wilayah tampaknya tidak ada hubungannya dengan ukuran kejaguran pariwisata.

image
Kolam di tengah Kebun Raya Singapura (Singapore Botanic Gardens).

Salah satu daya tarik Singapura, saya kira, adalah kenyamanannya. Negara ini begitu bersih dan teratur. Semua serba diatur dan semua aturan ditegakkan, sampai-sampai negara ini diberi julukan “a fine city” oleh warganya sendiri. Fine, kita tahu, bisa berarti indah atau denda. Dan di negara ini, kedua arti itu bisa menjadi deskripsi yang pas. Namun karena itu juga Singapura, yang harus diakui memiliki banyak atraksi wisata yang menarik, bagi saya terasa “dingin”, kurang adventurous. Semua destinasi wisata di negara ini, setahu saya, adalah buatan — sengaja dibuat atau ditata untuk keperluan menarik pengunjung. Dan ini menjadi alasan lain kenapa saya tidak perlu merasa berlama-lama berkunjung ke negara ini.

Sama seperti dalam persinggahan-persinggahan sebelumnya di negeri ini, kali ini pun tidak ada destinasi khusus yang ingin saya nikmati di Singapura. Saya hanya ingin mencoba perjalanan darat dari Kuala Lumpur ke kota singa ini, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, dan ternyata lebih asyik karena saya bisa melihat dan mengalami lebih banyak ketimbang apa yang bisa dialami dan dilihat kalau melakukan perjalanan udara.

Karena waktu yang terbatas dan perencanaan yang seadanya, pagi itu setelah sarapan di warung India muslim di pojok jalan dekat hotel tempat kami menginap di Lorong 20 Geylang, kami memutuskan untuk naik taksi ke kawasan Marina Bay dan terkenal dengan ikon-ikon khas Singapura-nya itu: Taman dan patung air mancur Merlion,  Esplanade,  Marina Bay Sands, Singapore Flyer, dan lain-lain.

Karena kami hanya punya waktu kurang lebih setengah hari untuk berjalan-jalan, setiba kami di kawasan Singapore Bay, kami memutuskan untuk mengikuti tur yang ditawarkan oleh Singapore Duck Tour, meskipun saya sempat agak ragu-ragu karena ongkos tur ini lumayan mahal. Untuk day tour tak terbatas, di mana kami bisa naik turun bus-bus wisata manapun yang mereka sediakan (termasuk bus tingkat tak beratap) ke destinasi-destinasi wisata utama, kami dikenakan biaya $25 Singapura per orang. Namun karena pertimbangan waktu, kami akhirnya mengambil juga paket ini.

Ternyata dengan mengikuti tur ini pun, kami hanya sempat menyambangi tiga destinasi utama. Selain the Promenade (kawasan Marina Bay dan sekitarnya), kami hanya sempat berkunjung ke Kebun Raya Singapura (Singpore Botanic Gardens) dan Orchard Road yang terkenal karena pusat-pusat perbelanjaannya.

Kunjungan saya ke Kebun Raya Singapura adalah kunjungan kedua. Waktu masih mahasiswa S1 dulu saya juga pernah ke sini. Bedanya, waktu itu saya berkunjung sebagai anggota delegasi program pertukaran pemuda. Jadi, saya tidak terlalu memperhatikan kebunnya karena kami harus melakukan banyak kegiatan. Pada kunjungan kali ini, saya bisa berjalan-jalan dan betul-betul menikmati koleksi tanaman, suasana, dan penataan lanskap-nya.

image
Salah satu sudut Kebun Raya Singapura.

Kebun raya yang konon sudah dirintis sejak zaman Raffles ini sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor dan sedikit lebih muda  (luas Kebun Raya Singapura adalah 74 hektare, sementara Kebun Raya Bogor memiliki luas area sekitar 87 hektare; Kebun Raya Singapura resmi didirikan pada 1859, dan Kebun Raya Bogor pada tahun 1817). Namun kedua-duanya memiliki jumlah koleksi tanaman hidup yang hampir sama, yaitu sekitar 30-an ribu tanaman.

Saya mendapatkan kesan bahwa Kebun Raya Singapura ditata dan dikelola dengan lebih baik dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor. Untuk masuk ke kebun ini, kita tidak perlu membayar. Di gerbang resepsi, petugas yang masih muda-muda dan berpakaian layaknya resepsionis hotel, dengan ramah dan sigap melayani setiap pertanyaan pengunjung. Leaflet dan brosur juga banyak tersedia untuk membantu pengunjung mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, suasana di dalam kebun sendiri tenang, sehingga kita bisa menikmati suasana alami sebagaimana seharusnya di dalam kebun alam. Ketenangan itu barangkali karena hari itu bukan hari libur. Namun, dari informasi yang saya dapatkan, manajeman kebun raya menerapkan peraturan yang sangat ketat tentang kegiatan-kegiatan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan di dalam kebun. Semua kegiatan diatur dengan sistem perijinan yang ketat.

Dari kebun raya, kami melanjutkan perjalanan ke Orchard Road yang  dilalui dalam perjalanan kembali ke pusat kota. Sayangnya, saya tak dapat menikmati kunjungan ke pusat perbelanjaan ini karena teman saya ketinggalan tas di kebun raya dan harus kembali untuk mengambilnya. Tas itu bisa ditemukan di tempatnya tertinggal. Sungguh melegakan, dan menunjukkan betapa keamanan di negara ini sangat baik, saya kira.

Sore hari kami kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang bawaan kami yang kami titipkan di resepsionis hotel dan bergegas ke Beach Road untuk naik bus ke Kuala Lumpur.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s