Epistemologi Dan Kebenaran Akademik


Seorang kandidat doktor sedang diuji dalam sidang terbuka untuk memertahankan desertasinya.

Di dalam desertasinya itu, dia menulis sebuah catatan kaki seperti ini: “Diberitahukan kepada penulis di Hotel Roosevelt pada tanggal 14 Januari 1981, dipersaksikan oleh Arthur Lingeman dan Jerrold Gross.”

Catatan kaki itu, tentu saja, dimaksudkan sebagai semacam dokumentasi atas sebuah kutipan yang dipakainya.

Apa yang terjadi?

Seperti bisa ditebak, para pengujinya menganggap kutipan itu tak layak dan tak sahih dan harus diganti dengan kutipan yang berasal dari buku atau artikel. Salah seorang penguji itu menegurnya “Anda bukan pewarta.” Yang lain, “Bukankah Anda ini seharusnya seorang sarjana (scholar)?”

Si kandidat, yang mungkin tak dapat menemukan sumber lain dalam bentuk yang dituntut oleh para pengujinya itu (yaitu tulisan terpublikasi), mencoba sekuat tenaga untuk memberikan pembelaan. Dia menganggap, kehadiran para saksi — yang bisa dihadirkan untuk bersaksi —  bisa menjadi jaminan atas keakuratan kutipan itu. Dia juga mendebat bahwa bentuk gagasan yang disampaikan tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Lagipula, katanya, ada tiga ratusan rujukan terpublikasi di dalam desertasinya yang mungkin tak akan pernah diperiksa satu-satu oleh para pengujinya itu. Maksudnya tentu adalah untuk mempertanyakan keberatan para pengujinya itu: Kenapa Anda menganggap rujukan yang berasal dari sumber tercetak lebih akurat, sementara rujukan lisan tidak?

Cerita yang saya sadur dari buku Neil Postman berjudul “Amusing Ouselves to Death” (1986, pp. 20 – 21) itu mengilustrasikan bahwa kebenaran tidak pernah lepas dari bentuk wahana yang digunakan untuk menyampaikannya.

_________

Insiden di atas bisa menjadi salah satu ilustrasi epistemologis tentang kebenaran akademik.

Selama ini kita beranggapan bahwa kebenaran akademik adalah kebenaran berderajat tinggi, yang mengungguli jenis-jenis kebenaran lain karena keyakinan atas kecermatannya. Boleh jadi ini benar. Sumber tertulis — yang merupakan bahan dasar pengetahuan akademik — dianggap lebih kukuh dan lebih otentik karena, berlainan dengan sumber lisan yang diungkapkan dengan sepintas lalu, sumber tertulis dianggap sebagai wujud gagasan atau pemikiran yang telah mengalami proses refleksi dan revisi oleh pengarangnya dan telah diperiksa oleh editor dan pihak-pihak yang berwenang untuk memeriksanya. Dengan demikian, ia lebih mudah diverifikasi atau dibantah.

Namun demikian, dengan alasan-alasan yang sama pula, kita seharusnya sadar bahwa pengetahuan atau kebenaran akademik pada substansinya adalah kebenaran yang dikonstruksi. Pada kata ‘konstruksi’ tersirat adanya upaya-upaya sengaja untuk mendesain, memilih bahan dan alat, dan menentukan tujuan dari konstruksi (bangunan) itu.

Kalau kebenaran akademik itu adalah sebuah bangunan dengan segala macam implikasinya sebagaimana disebutkan di atas, maka menjadi sebuah keniscayaan ada bangunan-bangunan lain kebenaran yang didesain dengan cara lain, dibangun dengan bahan-bahan dan alat-alat lain, dan dengan tujuan-tujuan yang lain. Inilah ranah epistemologi, yaitu asal-usul dan sifat ilmu pengetahuan.

Kebenaran akademik sebagaimana yang kita kenal dewasa ini bisa jadi berderajat tinggi. Namun derajat itu tidak bersifat inheren (ada dan menjadi bawaan diri), melainkan karena kita — subjek-subjek ilmu pengetahuan — lah yang memberinya derajat itu. Di masa lalu, derajat itu telah diberikan kepada bangunan-bangunan lain. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan derajat itu kita berikan kepada bentuk-bentuk dan cara-cara lain yang membentuk pengetahuan kita. Kebenaran, dalam arti ilmu pengetahuan, selalu bersifat dinamis. Ia berubah-ubah bentuk seiring dengan gerakan kita sebagai subjek.

Kebenaran dan ilmu pengetahuan dapat diibaratkan sebagai rumah. Kita membangunnya dengan gagasan-gagasan yang kita miliki (inginkan?), merenovasinya, merombaknya, bahkan meruntuhkan dan membangunnya lagi agar sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kita.

Begitu saya kira.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s