Ke Pengadilan


Ini bagian kedelapan belas dari serial My American Stories. Bagian ketujuh belas dapat dibaca di sini.

Gara-gara kejadian yang saya ceritakan sebelumnya, kami harus ke pengadilan untuk membuat pengaduan resmi dan meminta perlindungan hukum.

Diantar oleh manajer tempat indekos, kami menghadap ke panitera pengadilan Northhampton County yang terletak di kota Easton sehari setelah kejadian itu. Di hadapan panitera kami menceritakan kembali kronologi kejadian untuk dicatat dan diarsipkan, dan mendapatkan Temporary Protection From Abuse Order (Perintah Sementara Perlindungan dari Tindak Kekerasan) dan salinan surat pemberitahuan untuk menghadap ke pengadilan (notice of hearing).

Pada surat Perintah Sementara Perlindungan dari Tindak Kekerasan yang ditandatangani oleh hakim county itu, kami para pelapor (saya, Ali, dan Zhan Fu) mendapatkan perlindungan dari pengadilan yang  melarang si terlapor (Chen atau Alex) untuk menghubungi atau mendekati kami dengan cara apapun, secara langsung maupun tidak langsung (melalui pihak ketiga, lewat telepon, dan lain-lain). Pelanggaran terhadap perintah ini dapat berakibat si terlapor dikenakan denda dan/atau dipenjara. Kami diberitahu oleh panitera bahwa kami harus selalu membawa surat ini kemanapun kami pergi dan kami dapat  setiap saat menghubungi polisi kalau Chen mencoba mendekati kami dalam jarak tertentu dan/atau melakukan hal-hal lain yang dilarang oleh perintah pengadilan itu.

Pada Notice of Hearing, kami diminta untuk menghadap ke pengadilan untuk didengar keterangan kami bersama-sama dengan pihak terlapor. Hearing itu dijadwalkan tanggal 31 Desember, atau seminggu setelah kami melapor.

Tanggal 31 Desember kami berangkat ke pengadilan lagi. Kali ini untuk bertemu dengan hakim di ruang pengadilan. Sebelum berangkat, sempat terbayang di benak saya adegan-adegan di pengadilan yang sering saya tonton di film-film televisi. Maklumlah, sebelum kejadian ini, hanya lewat citraan-citraan yang ditayangkan lewat film-film Amerikalah saya mengenal pengadilan di Amerika.

Apa yang terjadi di ruang pengadilan — dan di hadapan hakim — ternyata tidak sedramatis adegan-adegan yang saya saksikan di film-film Hollywood. Ini hanya hearing. Kami — pihak pelapor dan terlapor — hanya dimintai keterangan yang akan dijadikan dasar oleh hakim untuk membuat keputusan.

Setelah menunggu giliran di luar ruang sidang sekitar 30 menit, kami dipanggil. Ada sedikit perasaan berdebar-debar ketika saya memasuki ruangan sidang. Di dalam ruangan yang cukup luas itu, ada beberapa orang yang kasusnya juga akan didengar oleh hakim pagi itu. Seingat saya, kami mendapatkan giliran terakhir. Panitera memanggil nama dan nomor kasus kami, dan kami maju ke meja hakim. Si terlapor juga dipanggil. Namun rupanya dia dan/atau penasehat hukumnya tidak hadir waktu itu, sehingga hakim memutuskan untuk memperpanjang surat Perlindungan Dari Tindak Kekerasan (Protection From Abuse) hingga tanggal 30 bulan berikutnya.

Saya tidak begitu faham apa yang terjadi setelah itu. Saya hanya tahu bahwa di dalam surat itu ada ketentuan-ketentuan yang menyatakan bahwa perintah pengadilan (perlindungan) ini tetap berlaku meskipun/bahkan jika pihak pelapor dan terlapor memutuskan tinggal berasama lagi, dan bahwa kami — pihak pelapor dan terlapor — bisa meminta kasus ini untuk didengar lagi di hadapan hakim. Kami tidak meminta kasus ini untuk didengar lagi, demikian juga pihak Chen — yang sejak kejadian itu tidak pernah kami dengar lagi keberadaannya. Saya sempat mendengar dari Zhan Fu bahwa sejak ditangkap oleh polisi, Chen (Alex) dirawat di rumah sakit untuk mengobati gangguan kejiawaan yang dialaminya. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mungkin oleh keluarganya dia dipindahkan ke kota lain, atau mungkin dibawa pulang ke Taiwan.

Ada beberapa hal yang sangat berkesan dari pengalaman ini. Pertama, saya sangat terkesan dengan kepastian hukum dan kecepatan reaksi para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya memberikan perlindungan hukum kepada warga yang membutuhkan perlindungan. Selain itu, saya juga terkesan dengan kehadiran orang-orang dari kelompok advokasi di gedung pengadilan. Orang-orang ini secara aktif mendekati korban-korban kekerasan yang kasusnya sedang diproses di pengadilan dan memberikan nasihat serta daftar lembaga-lembaga yang bisa dihubungi untuk membantu mereka mendapatkan perlindungan dan bantuan yang dibutuhkan. Tentu saja pengalaman ini tidak bisa secara langsung saya bandingkan dengan pengalaman serupa di tanah air karena saya belum pernah  — dan mudah-mudahan tidak akan pernah — mengalami kasus hukum apapun di negeri sendiri.

Barangkali tidak banyak mahasiswa Indonesia di Amerika, terutama mahasiswa penerima beasiswa Fulbright, yang pernah mengalami kasus hukum dan harus pergi ke pengadilan seperti saya.  Oleh karena itu, saya menganggap pengalaman ini sangat istimewa. Dengan kejadian ini, saya bisa mengalami dengan mata kepala sendiri bagaimana hukum dan penegakan hukum bekerja di negara ini.

Bersambung.

Satu pemikiran pada “Ke Pengadilan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s