Pastiche


The good old days, masa lalu itu indah.

Haruskah demikian? Atau, jangan-jangan ia hanya kerinduan dan angan-angan kosong yang mencerminkan kegelisahan kita pada masa kini: tentang kepastian yang belum lagi tergapai — dan mungkin tak akan tergapai lagi — karena wujudnya yang telah mencelat dari sejarah dan dibuat berkeping-keping oleh simulakra, hiperrealitas, dan implosinya Baudrillard?

Karena kegelisahan itu barangkali kita jadi mendambakan bertamasya ke masa lalu. Bukan karena masa lalu tak bermasalah atau tak menorehkan duka lara, tapi karena ia memberikan gambar kepastian, meskipun ia — sebagaimana gambar apapun — tetaplah ilusi: kita tak mampu memundurkan waktu; hanya menghadirkannya dalam bentuk-bentuk yang kita ciptakan lagi sebagai imitasi.

Maka, seperti diindikasikan oleh Frederic Jameson, kini kita melihat bangunan-bangunan a la masa lalu dan film-film a la masa lalu dengan segala pernak-perniknya.Efek-efek retro merambah segala bidang, dari makanan hingga fotografi dan sastra.

Tentu saja bangunan-bangunan a la masa lalu itu tak sepenuhnya masa lalu yang dihadirkan utuh. Kehadirannya bersifat “acak dan tanpa prinsip.” Ada gairah kanibalisasi dari gaya-gaya arsitektur masa lalu dalam “kombinasi yang terlalu merangsang gairah” (Jameson, hal. 19). Hal itu juga berlaku dalam hal-hal lain. Dalam fotografi, gaya-gaya unik dari masa lalu itu — retro, hitam putih, sepia, vintage, cross-processing, lomo — dapat dicomot dan disusun-gabung begitu saja demi hasrat merangsang gairah. Demikian juga dalam film-film nostagik, di mana konotasi gaya masa lalu dihadirkan sebagai kepingan-kepingan mode. Dalam sajian semacam itu, “sejarah yang sesungguhnya” telah digantikan oleh “sejarah gaya estetik”. Dalam karya-karya sastra pun, “novel-novel sejarah tak lagi ditulis untuk menyajikan masa lalu yang bersejarah; namun hanya ‘merepresentasikan’ gagasan-gagasan dan stereotipe kita tentang masa lalu (dan oleh karena itu sekaligus hanya menjadikannya sebagai ‘sejarah pop’ (‘pop history’))” (Jameson, hal 25).

Dalam beberapa hal, pastiche mirip dengan parodi posmodern-nya Linda Hutcheon. Perbedaan utamanya adalah: sementara Hutcheon menganggap parodi sebagai interpretasi politis yang memiliki nilai resistensi yang diperlukan untuk menjawab kontradiksi-kontradiksi yang terjadi dalam masyarakat posmodern, Jameson memandang pastiche dengan kaca mata yang lebih muram. Baginya, parodi posmodern adalah “parodi kosong” (“blank parody”) yang tak memiliki nilai politis apapun. Oleh karena itu, dia lebih suka menyebutnya sebagai pastische, yang didefinisikannya seperti ini:

 “Pastiche is, like parody, the imitation of a peculiar or unique, idiosyncratic style, the wearing of a linguistic mask, speech in a dead language. But it is a neutral practice of such mimicry, without any of parody’s ulterior motives, amputated of the satiric impulse, devoid of laughter” (Hal. 17)

(Sebagaimana halnya parodi, pastiche adalah imitasi dari suatu gaya istimewa yang khas atau unik, pengenaan topeng linguistik, ujaran dalam bahasa yang telah mati. Namun pastiche adalah praktik tak bermuatan dari mimikri semacam itu; ia tak memiliki motif tersembunyi sebagaimana yang dimiliki oleh parodi, [ia telah] diamputasi dari dorongan satir, kosong dari gelak tawa.”)

Pastiche adalah salah satu sifat produksi budaya (cultural production) era posmodern. Ia lahir sebagai akibat memudarnya individualitas unik para seniman dalam arti luas. Pemudaran itu terjadi karena meniadanya subjek otonom yang menjadi prasyarat mutlak bagi terciptanya karya seni sebagai produksi budaya. Keberadaan subjek otonom inilah, menurut Jameson, yang memungkinkan para seniman untuk menyapa konsumennya sebagai subjek dan memengaruhinya. Dengan memudarnya individualitas unik yang mereka miliki, para seniman dipaksa/terpaksa mereduksi cara berkomunikasi mereka dengan mengadopsi bentuk-bentuk netral dan terobjektifikasi dengan menarik hal-hal dari masa lalu, meniru gaya-gaya yang telah mati, melakukan “parodi kosong” yang tak memiliki makna mendalam atau tersembunyi.

Pastiche, menurut Jameson, melahirkan apa yang disebutnya “sejarah pop” (pop history): apa yang disajikan melalui (sebagai?) pastiche menjadi tak memiliki kebersejarahan; masa  lalu disajikan sebagai fatamorgana yang menarik yang dibangun atas imaji-imaji yang diciptakan oleh budaya komersil yang menyajikan stereotipe dangkal atas suatu masa yang tak mungkin kita gapai lagi.

Maka ungkapan good old days yang saya kutip di awal tulisan ini hanyalah citraan yang dicoba dihadirkan untuk menghibur, memuaskan dahaga kita pada sesuatu tak terjangkau dengan memaksa kita mengonsumsi parodi kosong yang menjadikan kita objek dari budaya komersil.

 

Eki Akhwan,

5 Mei 2013

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s