Musim Dingin


Ini bagian kesembilan belas dari serial My American Stories. Bagian kedelapan belas bisa dibaca di sini.

Di antara musim-musim di “negeri atas angin”(?), musim dingin bukanlah favorit saya. Meskipun eksotis karena saljunya, yang tak bisa kita temui dan alami dalam kehidupan sehari-hari di tanah air, musim ini terlalu ekstrem untuk manusia tropis yang terbiasa dengan iklim yang serba cukup dan sedang-sedang saja seperti saya. Musim favorit saya adalah musim gugur, yang eksotis penuh warna, sangat sejuk tapi tak terlalu menggigit seperti musim dingin. Namun begitu, musim dingin punya keasyikannya sendiri karena pengalaman-pengalaman baru yang diberikannya.

Musim dingin pertama saya di Amerika sebenarnya bukan musim dingin pertama saya. Saya sudah mengalaminya bertahun-tahun sebelumnya ketika saya masih mahasiswa S1 yang mengikuti program pertukaran pemuda ke Jepang. Itulah kali pertama saya melihat salju turun dari langit, menyentuh dan bermain-main dengannya dengan penuh takjub dan dengan keriangan seperti anak kecil yang mendapatkan oleh-oleh mainan tak terduga. Kami — saya dan teman-teman — bersorak-sorak gembira, berlari-lari dan menengadahkan kepala dan menadahkan tangan kegirangan, menyentuh dan menggenggamnya, melemparkannya, bahkan menjilatinya dengan penuh keingintahuan. Salju yang turun di awal November di sebuah kuil di pegunungan di wilayah Wakayama itu selamanya akan menjadi salju pertama saya, musim dingin pertama saya.

Salju di Wakayama itu sebenarnya tak sempurna, belum lagi sempurna, karena turun ketika musim dingin belum lagi masuk. Teksturnya agak kasar, mirip es gosrok yang biasa saya beli waktu saya masih di sekolah dasar dulu; butiran-butirannya agak  kasar seperti es batu yang diparut (digosrok), lalu dicetak dengan setangkup tutup gelas, ditusuk dengan sebatang bambu tipis, dan dikucuri sirop warna-warni yang manis rasanya.

Ketika saya memilih Universitas Lehigh sebagai tempat belajar saya (selain Lehigh saya diterima di dua universitas lain), saya tahu bahwa kawasan timur laut Amerika dikenal memiliki musim dingin yang ekstrem, konon lebih dingin dari banyak tempat lain di Amerika. Namun justru itulah salah satu daya tariknya: saya ingin betul-betul merasakan dan mengalami musim dingin yang sesungguhnya. Oleh karena itu — selain pertimbangan-pertimbangan lain — saya memilih universitas yang berlokasi di wilayah timur laut.

Maka, ketika musim gugur mulai melesak semakin dalam ke bulan-bulan menjelang musim dingin dan ketika pepohonan yang penuh warna telah nyaris sepenuhnya meranggas dan tak ada lagi dedaunan yang bisa digugurkannya, aku mulai menghitung hari: seperti ada pengharapan yang menggantung, mungkin sore ini atau esok pagi salju akan mulai turun … lebat! Lalu kubayangkan semua akan putih, putih, dan putih tertutup salju dan aku bisa bermain-main dengannya.

Namun apa boleh dikata, salju pertama di musim dingin pertama saya di Amerika justru turun di malam hari ketika aku tengah tertidur lelap. Aghhhh! Sepertinya alam sengaja menyembunyikan keajaiban yang kutunggu-tunggu itu dari mataku. Aku mengetahuinya waktu terbangun … Kulihat di luar jendela dunia menjadi putih. Aku segera berlari ke bawah dan keluar rumah. Aahhh, betapa indahnya. Aku hirup udara dalam-dalam dan kuhembuskan lagi … Ada uap terlihat jelas keluar dari mulut dan hidungku. Pagi itu pastilah dingin sekali. Hari masih cukup gelap. Namun aneh, dingin itu tak terlalu kurasakan.

Tampaknya salju yang turun malam itu tak terlalu deras.  Jejak-jejaknya tipis-tipis saja. Tapi pasti sangat dingin. Aku melihat ada icicles bergelantungan di bawah mobil yang diparkir di luar rumah, juga di ranting-ranting pohon yang ada di depan jendela kamar tidurku.

Winter has come! Snow has fallen!

Meskipun agak kecewa karena ia datang dengan sembunyi-sembunyi di tengah malam dan tak membiarkan aku melihat keajaiban saat-saat pertama kedatangannya, aku cukup senang. Aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan menyentuh dengan tanganku sendiri salju yang putih bersih dan sangat lembut. Lebih lembut dari yang aku lihat dulu di Wakayama.

Pagi dan siang itu salju tak lagi turun. Namun sore harinya, apa yang aku nanti-nantikan terjadi. Salju turun dengan lebatnya. Langit gelap, lampu-lampu dinyalakan bahkan ketika matahari seharusnya belum tenggelam. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bermain, bermain, dan bermain, memotret, memotret, dan memotret. Semua putih tertutup salju tebal, sampai-sampai aku harus berjalan terseok-seok untuk menembusnya. Tapi semua itu, dan dinginnya yang menyayat, tak kupedulikan, tak kurasakan. Rasa takjub dan riang membuat semua itu tak terasa. Orang-orang setempat tampaknya lebih suka berada di dalam rumah saat salju turun deras seperti itu. Jalanan lengang, kecuali beberapa anak yang kulihat bermain-main seperti aku.

Sore itu aku pulang ke rumah dengan perasaan puas. Agak kedinginan. Tapi cukup terobati dengan teh hangat dan kehangatan radiator pemanas ruangan yang lamat-lamat memancarkan hawa hangat ke seluruh ruangan.

Tapi karena radiator dan pemanasan ruang itu pula kami sempat panik ketika kami harus membayar tagihan heating oil yang melonjak tajam di awal bulan berikutnya. Saya tidak ingat persis berapa jumlahnya. Tapi saya kira hampir lima ratusan dolar, karena masing-masing dari kami — yang tinggal 3 orang — harus membayar hampir dua ratus dolar. Karena hal itu, bulan berikutnya kami memutuskan untuk mematikan sistem pemanas di rumah kami. Sebagai gantinya, masing-masing kami membeli kipas angin pemanas. Kipas ini cara kerjanya mirip pengering rambut atau kompor listrik yang dipadukan dengan kipas angin. Di belakang kipasnya ada elemen pemanas. Panas dari elemen itulah yang ditiupkan oleh kipasnya. Kami membeli kipas angin pemanas ini di Walmart. Harganya sekitar dua puluh lima dolar, kalau tidak salah. Buatan Cina.

Tentu saja kemampuan kipas ini terbatas. Saya harus menyalakannya cukup lama agar seluruh kamar terasa hangat. Tapi tak mengapa, karena kipas ini cukup kecil dan dapat dengan mudah dipindah-pindahkan. Kalau saya ingin segera merasakan kehangatannya, saya bisa mendekatkannya ke kaki atau meletakkannya di atas meja belajar, atau mendekatkannya ke tempat tidur saat akan tidur.

Meskipun wattnya cukup besar, kipas ini terbukti cukup hemat. Rekening listrik kami memang naik, tapi kenaikan itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami bayarkan jika kami menggunakan heating oil untuk pemanas ruangan. Resikonya tentu ada. Seluruh ruangan rumah jadi dingin, kecuali di kamar tidur. Namun hal itu tidak jadi soal. Penghematan uang lebih penting, karena kami mahasiswa dengan uang saku yang terbatas. Lagipula kami memang jarang berada di luar kamar tidur kalau kami berada di rumah, terutama di musim dingin. Satu-satunya ruangan tempat kami kadang-kadang bertemu dan ngobrol adalah dapur. Di musim panas, saat kami bisa membuka jendela-jendela rumah, kami juga kadang-kadang duduk berasama di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.

Ada banyak  pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama musim dingin. Salah satunya adalah soal sepatu dan pakaian hangat. Sebelum berangkat dari Bandung, saya sudah menyiapkan jaket (sangat) tebal yang saya beli di salah satu toko penjual peralatan pendakian gunung, dan sweater. Ini terbukti sangat membantu, meskipun dalam jangka panjang tentu saja saya memerlukan tambahan pakaian hangat untuk salin. Saya bisa saja membelinya di JC Penney — depatment store yang menjual pakaian atau di toko-toko lain di mal. Tapi lagi-lagi karena alasan keuangan dan demi penghematan, saya memutuskan untuk membelinya di thrift shop — toko pakaian bekas untuk kaum miskin yang biasanya dikelola oleh yayasan amal atau gereja. Di sini saya bisa mendapatkan sweater yang menurut saya masih cukup bagus dan layak dengan harga antara satu sampai tiga dolar saja. Pilihan di toko ini tentu saja tak sebanyak yang ada di mal. Ada barang bagus, yang model dan warnanya saya suka, tapi ukurannya tidak pas — kebesaran atau kekecilan. Atau sebaliknya, ada sweater yang ukurannya pas, tapi model dan warnanya kurang pas. Begitulah, namanya juga toko barang bekas. Namun karena butuh dan demi melindungi diri dari suhu yang menggigilkan, saya akhirnya membeli juga beberapa lembar pakaian hangat yang kurang pas itu.

Selain sweater dan sejenisnya, saya juga membeli long john. Yang ini tentu saja saya tidak bisa membeli yang bekas, karena ini adalah pakaian dalam. Lagi-lagi saya membelinya di Walmart, karena memang di sinilah adanya barang-barang dengan harga miring dan grosir. Selain itu, saya juga harus membeli sepatu boot. Saya sengaja tidak membeli atau menyiapkan sepatu boot dari tanah air, karena saya diberitahu oleh teman saya bahwa kualitas sepatu boot yang dijual di Amerika lebih baik. Namun saya tidak menduga bahwa saya harus membelinya lebih cepat dari yang saya rencanakan semula. Sepatu yang saya bawa dari Bandung memang tidak diciptakan untuk iklim sedingin ini. Beberapa kali saya hampir tergelincir karena solnya tidak bisa mencengkeram es yang sudah membeku. Selain itu, dalam beberapa minggu saja solnya sudah pecah, sehingga dingin es menyusup masuk ke kaki saya dan membuat kaos kaki basah.

Teman saya benar, sepatu boot yang dijual di Amerika memang lebih bagus kualitasnya. Sepatu itu sampai sekarang masih ada dan saya simpan. Sepatu boot kulit buatan Cina yang saya beli di Walmart seharga kurang lebih enam puluh dolar itu cukup awet dan sudah menemani saya ke banyak tempat.

Meskipun musim dingin terasa begitu menyenangkan pada awalnya, lama-lama saya kewalahan juga. Saya  bosan dengan dingin yang sangat menyayat, bahkan ketika matahari tampak bersinar cerah, sampai-sampai suatu ketika saya berseru di dalam hati, ya Allah … aku rindu pada tanah airku, aku rindu pada mataharinya yang hangat … Aku ingin berjemur di pantai, di antara nyiur, dan hanya berkaos oblong dan bercelana pendek saja. Tidak seperti di sini, setiap keluar rumah harus berlapis-lapis pakaian harus aku kenakan. Berat. Repot. Di puncak musim dingin itu, aku menantikan dengan penuh kerinduan datangnya musim semi, lalu musim panas, yang lebih bersahabat. Lagi-lagi aku menghitung hari, menandai kalender, dan melingkari angka-angka yang yang menyatakan datangnya musim semi.

Musim dingin adalah musim yang berat dan sulit untuk bepergian ke mana-mana, terutama untuk mahasiswa seperti saya yang tak punya mobil. Meskipun trotoar (dan juga jalan-jalan) sering dikeruk dan ditaburi garam agar terbebas dari es, tetap saja dalam keadaan-keadaan tertentu sangat licin, terutama jika tiba-tiba suhu turun drastis dalam keadaan salju tidak turun. Dalam keadaan seperti itu, air yang membeku dan sisa salju yang memadat menjadi black ice — lapisan es bening yang, karena beningnya, tak terlihat dan bisa menggelincirkan pejalan kaki di trotoar atau mobil di jalan raya. Istilah black ice konon diberikan karena di aspal — yang hitam — lapisan transparan ini tak terlihat. Beberapa kali saya nyaris tergelincir dan jatuh saat berjalan di trotoar karena lapisan es seperti itu. Sekali bahkan saya pernah kepengkok (Jawa: jatuh terduduk di atas pantat karena tergelincir) karena berjalan tergesa-gesa.

Di musim dingin, pejalan kaki (dan juga pengendara mobil) memang tidak bisa berjalan cepat. Saat salju turun dengan lebatnya, kita tidak bisa berjalan cepat karena lapisan salju yang tebal membuat kita seperti berjalan di atas pasir yang melesak; atau, saat salju tak lagi turun, lapisan es yang padat/memadat membuat trotoar menjadi licin, sehingga kalau tidak hati-hati kita bisa tergelincir.

Pernah suatu ketika saya hendak ke mal untuk berbelanja beberapa keperluan. Agar tidak menunggu terlalu lama di halte, saya sengaja berangkat dari rumah mendekati waktu kedatangan bis kota di halte yang saya tuju. Rupanya perhitungan saya agak meleset. Karena jalanan yang licin, saya berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Dan alamaaaak ….! Beberapa meter menjelang sampai di halte yang saya tuju, saya melihat bisnya datang dan hanya beberapa saat kemudian, setelah menurunkan dan menaikkan penumpang, mulai bergerak lagi. Saya melambai-lampaikan tangan sambil berteriak-teriak, “Wait! Wait! … “ sambil berusaha berlari mengejar …

Tak ada gunanya! Bis tetap saja melaju. Gara-gara terlambat beberapa detik itu, saya harus menunggu satu jam lagi di tengah suhu yang mencekam untuk bisa naik bis dengan rute yang sama. Duuuh ….! Saya hanya bisa menggerutu. Aaghhhh … Andaikan ada angkot!😦 Cuma itu yang terlintas di benak saya saat itu. Terus terang, waktu di tanah air, saya sering membenci angkot yang suka seenaknya berhenti dan menaik-turunkan penumpang di manapun, ngetem seenak perut sopirnya, menyebabkan kemacetan, dan membahayakan pengguna jalan lain. Ironisnya, di saat seperti itu, saya justru merindukannya.

Bersambung …

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s