Sekolah = Pabrik


Kita tahu: sekolah adalah bagian bagian penting dari pendidikan. Sedemikian pentingnya sekolah, sampai-sampai bagi sebagian besar orang — awam terutama — penyebutan kata pendidikan akan langsung berasosiasi dengan sekolah. Pendidikan telah bersinonim dengan sekolah, berpendidikan memiliki makna yang setali tiga uang dengan bersekolah, dan sistem pendidikan sama dengan sistem persekolahan.

Pengertian ini tentu tidak salah. Sekolah adalah wujud dari upaya sistematik umat manusia untuk mewariskan ilmu pengetahuan dan mendidik generasi penerus agar memiliki nilai dan sikap yang sesuai dengan ekspektasi sistem nilai yang berlaku dalam masyarakatnya serta menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi keberlangsungan masyarakat itu. Sekolah, dengan kata lain, adalah upaya sistematik umat manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya sendiri.

Dengan alasan seperti itu, sekolah tentu tidak pernah lepas dari sistem nilai dan kepentingan dominan yang berlaku dalam masyarakat tempatnya berada. Dalam masyarakat agraris, nilai-nilai masyarakat agraria dan ilmu pengetahuan serta ketrampilan yang mendukung keberlangsungannya akan mewarnai sistem persekolahannya. Dalam masyarakat industri pun demikian, demikian juga dalam masyarakat pascaindustri.

Interaksi sekolah dengan masyarakatnya adalah timbal-balik: sekolah dipengaruhi oleh perkembangan masyarakatnya dan pada gilirannya juga mememengaruhi perkembangan masyarakatnya.

Ini bukan hal baru. Semua calon pendidik belajar tentang hal itu di tahun-tahun awal pendidikan profesi mereka. Saya yakin mereka tidak akan pernah melupakan hal ini.

Sebagai sebuah bangunan (institusi, pranata), sekolah memang mulia. Ia lahir untuk tujuan yang mulia. Namun, sebagaimana pranata-pranata lain yang diciptakan oleh akal budi manusia, sekolah juga cenderung menyamaratakan manusia. Bangunan memiliki dinding-dinding yang membatasi, dan lewat batasan-batasan yang diciptakan oleh dinding-dinding itulah, apa yang lahir daripadanya akan mengikuti bentuk dinding-dinding itu. Sebagaimana pranata-pranata lain, sekolah adalah cetakan yang membentuk orang-orang yang masuk ke dalamnya menjadi serupa.

Wacana ini juga bukan hal baru, meskipun — saya menduga — seringkali terlupakan di tengah deru arus utama yang cenderung menganggap apa yang ramai sebagai fakta dan kebenaran yang tak perlu dipertanyakan.

Saya tidak mengatakan bahwa upaya standarisasi — mencetak dan menghasilkan produk yang kurang lebih serupa — salah. Perkembangan peradaban sangat bergantung pada hal ini. Tanpa standarisasi, perkembangan peradaban akan tertatih-tatih karena harus mencurahkan banyak energinya untuk mengurusi segala macam idiosyncracies (kekhasan yang beragam). Standarisasi/penyeragaman membuat gerak langkah peradaban lebih  padu dan mudah dikendalikan, barangkali seperti sepasukan tentara yang berseragam dan diatur serta taat pada seperangkat aturan yang sama lebih mudah diatur dan dikomando dibandingkan dengan segerombolan orang bersenjata yang tak berseragam dan tak mengenal aturan.

Namun penyeragaman juga menegasikan atau, paling tidak, kurang mengakui beberagaman yang menjadi salah satu fitrah manusia. Sekolah — karena sifatnya yang cenderung menyeragamkan itu — menjadi tak ubahnya seperti pabrik. Ia memperlakukan manusia (murid, mahasiswa, peserta didik) sebagai bahan mentah seperti bahan mentah yang sama yang masuk ke dalam pabrik: Dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (memenuhi atau tidak memenuhi syarat untuk masuk dan diproses), diklasifikasikan ke dalam kotak-kotak tertentu (bahan baku kualitas A, B, C, atau reject), mengikuti proses-proses yang sama dan terstandar agar pada akhir proses itu tercetak manusia-manusia yang berpola sama, seperti halnya pabrik menghasilkan kain berpola sama (atau panci atau apapun), lalu produk itu ditawarkan dan dijual ke pasar dalam kemasan dan harga jual yang sesuai dengan kualitasnya.

Dan siapakah yang berkuasa dalam sistem yang memerlakukan manusia seperti komoditas yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah yang cara kerjanya seperti pabrik?

Pasar!

Ya, pasarlah yang berkuasa. Manusia-manusia yang ‘dicetak’ di sekolah adalah panci, sepatu, kain tenun, daging kalengan: Kedua-duanya telah melalui proses yang serupa — seleksi dan klasifikasi bahan mentah yang serupa, tempaan dan cetakan ‘mesin’ yang serupa,  pengemasan yang serupa, penggolongan kualitas dan pricing yang serupa — untuk kemudian ditawarkan dan dijual ke pasar dengan mekanisme dan proses yang serupa pula: komoditas berkualitas tinggi dan/atau berkemasan baik ditawarkan dengan harga lebih mahal, barang-barang dengan kualitas di bawahnya ditawarkan dan dijual dengan harga sesuai dengan peringkat kualitasnya. Kelebihan pasokan akan menurunkan harganya, kelangkaan akan meningkatkan nilai jualnya. Barang yang laku keras akan diproduksi lebih banyak oleh lebih banyak pabrik, barang yang kurang peminat tak akan diproduksi karena tak akan mendatangkan laba bagi produsennya.

Pasar mengendalikan segala-galanya.

Maka tujuan mulia sekolah sebagai sarana pewarisan nilai dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan menjadi ternomorduakan. Posisi sekolah kedokteran — yang mendatangkan banyak laba — dan jurusan bahasa dan sastra daerah — yang tak terlalu menjanjikan keuntungan — barangkali bisa menjadi renungan perbandingan tentang paralelisme sekolah dan pabrik dalam hubungannya dengan kekuatan Sang Tuan Pasar. Meskipun kedua-dua bidang kajian itu penting bagi keberlangsungan hidup suatu masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya, demi dan karena pasar kajian bahasa dan sastra daerah lambat laun akan tergusur, kecuali tentu jika ada campur tangan politik yang mengangkat kembali muruahnya.

Saya guru. Saya bekerja pada sebuah sekolah dan untuk sebuah sistem persekolahan. Saya tidak bisa melawan sekolah dan sistem yang sedemikian besar ini. Namun saya juga tak ingin murid-murid saya masuk dan keluar sekolah tanpa kesadaran akan proses yang harus mereka lalui yang tidak tak seperti komoditas pabrik. Saya tak ingin mereka menganggap sekolah segala-galanya (meskipun saya juga tak ingin mereka memandang sekolah dengan sebelah mata). Saya tak ingin mereka menganggap sekolah sebagai sinonim utuh pendidikan. Saya ingin mereka belajar lebih dalam dan lebih luas daripada apa yang diberikan dan mereka dapatkan di sekolah. Saya ingin mereka memiliki otonomi dan pilihan; belajar bukan hanya mengikuti proses yang dimaui oleh pabrik saja, tapi karena keingintahuan dan semangat yang lebih dari itu. Saya ingin mereka memiliki nilai-nilai, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang tidak semata-mata didiktekan oleh kehendak Sang Tuan Pasar, namun oleh misi awal yang melandasi lahirnya sekolah dan sistem persekolahan: menjaga dan mewariskan nilai-nilai baik yang dimiliki masyarakatnya, mengembangkan nilai-nilai baru yang akan melesatkan masyarakatnya ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik, memuliakan manusia dan kemanusiaan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena itulah misi kita sebagai khalifah Tuhan.

Satu pemikiran pada “Sekolah = Pabrik

  1. Pendidikan tak mengenal ruang ataupun waktu. itu yang akan memotivasi diri. sebaik apa diri kita, harus tetap menjadi Siswa yang yang baik. Tak ada orang Bodoh yang ada hanya orang Malas. kapanpun dimanapun kita bisa belajar. lebih dari itu masih banyak orang yang perlu akan ilmu, maka disinilah aku bisa jadi Guru yang tak kenal ruang dan waktu apalagi uang. indahnya hidup ini.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s