Kelumpuhan Akibat Terlalu Banyak Tugas


Too much of anything can paralyze your system.

Ya, segala sesuatu yang terlalu, konon, memang tak baik.

Makan terlalu banyak, bisa membuat sistem pencernaan keblethengen, kewalahan, sehingga tak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Lama-lama, bisa rusak juga kalau keseringan.

Cinta, yang notabene abstrak dan tak seperti makanan, ternyata juga begitu. Dalam porsi yang semestinya, cinta menyehatkan. Tapi, “too much love can kill you,” kata Freddie Mercury. Barangkali kita tahu apa yang dimaksud dengan love oleh Freddie, yang mati karena komplikasi penyakit yang disebabkan oleh AIDS; tapi cinta-cinta yang lain, kalau terlalu, juga bisa jadi terasa membelenggu bagi objek yang mendapatkannya.

Tak sulit mencari contoh-contoh tentang segala sesuatu yang terlalu (ucapkan dengan pelafalan dan intonasi khas Rhoma Irama — yang sering diparodikan itu — agar emphasis-nya terasa).

Banyak orang mungkin pernah mengalami ini: ‘lumpuh’ dan sama sekali tak tergerak untuk melakukan apapun justru di saat banyak yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Di dunia perkomputeran hal itu mungkin mirip dengan apa yang disebut hang: suatu keadaan di mana semua proses pengolahan data dan tasks terhenti karena memori komputer mengalami overload, alias keblethengen, alias kewalahan.

Sama seperti komputer, sistem kita juga mengenal batas. Kalau batas ini terlampaui, semua akan melambat, tersendat-sendat, menggantung (hang), bahkan bisa crashed atau mengalami meltdown —  keruntuhan total.

Pada manusia, kejadian seperti itu bisa bermacam-macam gejalanya: kebingungan dan disorientasi (tidak tahu apa yang harus dilakukan, mana yang harus didahulukan), pelambatan proses dan ritme berpikir dan bekerja, stres (sulit tidur atau malah banyak tidur, tidak nafsu makan atau malah banyak makan, mudah marah, murung, melihat dunia dengan perspektif yang gelap dan pesimis), dan seperti halnya dengan  komputer, jika beban-beban itu tak dikurangi atau sistemnya tak di-refresh, manusia juga bisa mengalami crash atau total meltdown, alias gila!

Seperti halnya komputer — yang spesikasinya berbeda-beda — setiap manusia juga memiliki kapasitas yang berbeda-beda, tergantung pada jenis prosesor dan kapasitas memorinya. Mereka yang memiliki prosesor prima dan kapasitas memori yang sangat besar tentu akan lebih mampu menangani tasks yang lebih banyak dan lenih rumit dalam waktu yang bersamaan; yang lemot tentu akan lebih mudah hang atau crashed.

Yang penting, saya kira, setiap individu harus mengenali kemampuannya sendiri agar tidak sampai mengalami gejala-gejala penurunan produktivitas. Namun ini tidak berarti bahwa kita menerima begitu saja kelemahan diri, karena, seperti halnya komputer, kemampuan kita bisa di-upgrade, ditingkatkan. Sayangnya, kemampuan manusia tidak bisa ditingkatkan begitu saja dengan mengganti keping-keping chip atau memori seperti pada komputer. Pada manusia, peningkatan kemampuan itu hanya bisa dilakukan dengan perbaikan kualitas dan gaya hidup (makanan yang bergizi, olah raga, istirahat yang cukup dan teratur), dan latihan-latihan yang terstruktur agar yang bersangkutan bisa secara bertahap memanggul beban yang semakin berat dan kompleks.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s