Berkhutbah Jumat di Amerika


Ini bagian kedua puluh dari serial My American Stories.

Seperti saya ceritakan sebelumnya, gara-gara ikut kegiatan tadarus di masjid MSA pada bulan Ramadan, saya dikenali oleh para brothers sebagai orang yang bisa membaca Alquran dengan baik. Sejak itu saya berkali-kali diminta agar bersedia menjadi khatib dalam shalat Jumat. Permintaan itu pada mulanya saya tolak karena saya merasa tidak cukup saleh dan memenuhi syarat untuk tugas seberat itu. Namun, suatu ketika saya tidak bisa menolak lagi permintaan itu. Dua brothers yang biasa mendapat giliran untuk berkhutbah Jumat tidak ada di tempat. Mereka sedang keluar kota. Yang lain juga tidak bisa  karena sedang dikejar tenggat untuk menyelesaikan laporan penelitiannya yang harus segera diserahkan kepada profesor-profesor pembimbingnya. Maka, dengan berat hati, akhirnya saya menyanggupi juga permintaan itu.

Anggota MSA di Universitas Lehigh, terutama yang betul-betul aktif, tidak banyak. Tugas menjadi khatib shalat Jumat, seingat saya, dipergilirkan di antara empat orang saja: Ali, ketua MSA dan mahasiswa S3 asal Mesir, seorang brother dari India, seorang brother asal Pakistan, dan seorang brother keturunan Aljazair yang sudah menjadi warga negara Amerika. Kadang-kadang kami juga mengundang/kedatangan khatib tamu. Namun itu sangat jarang.

Dalam pengamatan saya sebagai makmum, para khatib itu rata-rata membawakan topik-topik yang agak keras. Tanpa bermaksud mengolok-olok, saya menyebutnya khutbah mereka sebagai khutbah hell fire (api neraka) karena kata-kata itulah yang sering muncul dalam khutbah-khutbah mereka: ancaman api neraka bagi orang-orang yang melanggar aturan atau tidak menjalankan kewajiban agama. Dalam empat bulan sejak kedatangan saya ke mesjid itu, belum pernah rasanya saya mendengar khutbah yang berisi ajakan yang lemah lembut dan bukan kecaman dan ancaman. Beberapa topik bahkan pernah berulang karena para khatib itu menggunakan buku-buku kumpulan khutbah yang sama. Isi khutbah yang cenderung keras itu mungkin ada hubungannya dengan asal-usul para khatib itu, yang dari Timur Tengah dan Asia Selatan. Ini tentu saja cuma dugaan saya.

Karena alasan itu, saya memutuskan untuk memilih topik yang agak berbeda untuk khutbah saya. Saya ingin khutbah saya menyentuh sisi-sisi afektif, tanpa kecaman dan ancaman. Dan karena pada beberapa Jumat sebelumnya saya kebetulan mendengar seorang brother membicarakan dan mengecam brother lain yang saat berpapasan di jalan tidak didengarnya menjawab salamnya, sampai-sampai brother yang pertama itu menganggap brother yang kedua itu fasiq, saya memutuskan untuk mengangkat tema persaudaraan dalam Islam (brother/sisterhood in Islam).

Sebagai titik berangkat, saya mengangkat Surat Al Hujurat ayat 10 – 13, yang terjemahannya saya kutip di sini:

10. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua  saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

11. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang memperolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (sebab) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasiq0 setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim.

12. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalaha kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

13. Wahai manusia! Sungguh, Kamai telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

(Dikutip dari Alquran Terjemahan Departemen Agama)

Setelah mengenumerasi dan mengelaborasi apa saja yang dilarang oleh ayat-ayat itu, saya mengutip beberapa hadist tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban kaum muslimin terhadap sesamanya dalam persaudaraan Islam yang mengikat mereka.

Alhamdulillah, khutbah yang saya siapkan dengan tergesa-gesa itu mendapat  respon cukup bagus. Selesai shalat Jumat,  beberapa teman mendatangi saya dan mengatakan mereka menyukai khutbah yang saya sampaikan. Seorang jamaah bukan mahasiswa yang sudah sepuh bahkan mendatangi dan memeluk saya dengan mata nyaris berkaca-kaca sambil mengatakan bahwa khutbah tadi sangat menyentuh hatinya. Brother yang biasa menjadi khatib juga meminta agar saya bersedia dimasukkan ke dalam daftar khatib reguler. Sekali lagi saya menolaknya. Saya bilang kepadanya bahwa saya hanya mau menjadi khatib dalam keadaan darurat seperti hari itu saja, kalau betul-betul tidak ada yang lain.

Selama dua tahun di Amerika, saya hanya tiga kali menjadi khatib dan dua kali mengisi kultum pada bulan Ramadan.

2 pemikiran pada “Berkhutbah Jumat di Amerika

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s