Dahsyatnya 200 Triliun Subsidi BBM (Bagian Kedua)


Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, barangkali perlu saya tegaskan sekali lagi bahwa saya tidak anti subsidi BBM. BBM murah ada dalam kepentingan saya dan keluarga saya dan tetangga saya dan orang-orang miskin yang saya kenal dan tak saya kenal, yang saya tahu jumlahnya sangat banyak dan kehidupannya sangat terpukul dengan pengurangan subsidi BBM dan akibat berantainya yang sangat memberatkan.

Saya juga tidak menutup mata terhadap argumen-argumen dan fakta-fakta bahwa banyak sekali anggaran negara ini yang bocor dan dirampok/dikorupsi oleh bermacam-macam kelompok perampok dan penyamun yang berada di dalam tubuh negara sendiri: di legislatif, di eksekutif, maupun di yudikatif. Jumlahnya, menurut koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Ucok Sky Khadafi, bisa mencapai sekitar 30 persen dari total APBN. Artinya, dalam angka, nilainya bisa berkisar antara 400 hingga 500 triliun. Angka yang sangat fantastis, tentu saja: dua kali atau lebih jumlah yang dikucurkan pemerintah untuk mensubsidi BBM.

Dengan fakta dan argumen ini, bisa dimengerti bila sejumlah kalangan menolak pengurangan subsidi BBM. Mereka percaya, dengan mengurangi kebocoran-kebocoran anggaran itu negara masih dan pasti mampu mempertahankan subsidi BBM agar rakyat kecil tak semakin susah hidupnya.

Namun, ada yang terlupa atau mungkin sengaja ditutup-tutupi dalam argumen itu.  Salah satunya adalah, bahwa subsidi BBM yang gebyah uyah itu tidak sepenuhnya dinikmati oleh kalangan strata ekonomi terbawah dalam masyarakat kita. Konon 70 persen BBM murah itu justru dinikmati oleh kalangan menengah ke atas: orang-orang yang mampu membeli mobil, bahkan mobil yang tegolong sangat bagus, yang tak malu-malu mengisi mobilnya dengan jenis-jenis bahan bakar bersubsidi. Mereka mengonsumsi jauh lebih banyak BBM bersubsidi daripada orang-orang yang bersepeda motor, apalagi orang-orang yang membeli sepeda motor pun mereka tak mampu.

Sebagai anggota masyarakat ekonomi menengah ke bawah, terus terang saya sangat sakit hati setiap kali menyaksikan orang-orang bermobil mewah itu mengisi puluhan liter BBM bersubsidi ke dalam tangki mobilnya:  orang-orang yang berpakaian mentereng, yang bisa bolak-balik Jakarta – Bandung atau Puncak atau manapun setiap minggu, jalan-jalan dan belanja di mal-mal mewah, makan di restoran-restoran mahal, menginap di hotel-hotel yang tarif per malamnya mungkin setara dengan penghasilan para buruh dalam sebulan. Bagi saya, ini korupsi dalam jenis yang lain.

Tidak ada keadilan dalam subsidi yang seperti itu. Rakyat kecil tetap menjadi pihak yang tidak diuntungkan. Mensubsidi BBM secara gebyah uyah (generalized) bukan cara menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat miskin. Cara pengelolaan subsidi seperti ini, menurut saya, ibarat menebar uang dari angkasa dan membiarkan orang-orang yang mempunyai jaring besar, orang-orang yang punya jaring kecil, dan orang-orang yang tak punya jaring sama sekali berebut secara bebas untuk mendapatkannya. Tentu, orang-orang yang mempunyai jaring besar akan mendapatkan lebih banyak daripada orang-orang yang mempunyai jaring lebih kecil. Sementara orang-orang yang sama sekali tak punya jaring mungkin hanya akan mendapatkan apa yang kebetulan terlepas dan tak tertangkap oleh jaring-jaring tadi. Mana mungkin pengemudi becak bersaing dengan pemilik mobil 1500 atau 2000 cc? Pastilah para pemilik mobil itu bisa memanfaatkan dan meraup lebih banyak BBM yang disubsidi. Tukang becak tak dapat apa-apa kecuali cipratan yang sangat, sangat kecil yang mungkin bisa dirasakannya dalam bentuk yang tak langsung (sembako murah mungkin?).

Subsidi yang berkeadilan, menurut saya, adalah subsidi yang diberikan pada target yang tepat, yaitu orang-orang yang betul-betul membutuhkannya. Itu tugas negara yang secara eksplisit diamanatkan oleh UUD 1945.

Caranya?

Tentu bukan dengan membagikan uang seperti BLT (dulu) atau BALSEM (sekarang). Baiklah, mungkin itu bisa dilakukan sebagai tindakan darurat sementara. Orang-orang yang lapar tentu harus makan dulu sebelum mereka dibantu untuk berusaha agar bisa mandiri. Namun dalam jangka panjang, yang harus diberikan adalah pancingnya: kesempatan, modal, bimbingan, dan tindakan-tindakan afirmatif lain agar mereka bisa membuka usaha yang dapat menopang kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Bersambung

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s