Kenangan Berpuasa di Masa Kecil


Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai belajar berpuasa di bulan Ramadan. Mungkin saya mulai berpuasa penuh waktu saya berumur enam atau tujuh tahun. Sebelum itu, seperti banyak anak-anak dari keluarga muslim lainnya, saya sudah diajari berpuasa sampai tengah hari, lalu meningkat sampai pukul dua, sampai ashar, sebelum akhirnya bisa berpuasa full day.

Puasa untuk anak kecil tentu saja berat. Untuk menyiasatinya, saya dan teman-teman biasanya mencari permainan yang mengasyikkan dan bikin lupa waktu, seperti bermain Monopoli. Atau, tidur. Atau, membaca, kalau kebetulan saya sedang bermain ke rumah sepupu saya yang punya banyak koleksi komik dan buku anak-anak.

Saat yang paling berat — selain menunggu waktu berbuka — adalah waktu bangun sahur. Ayah saya sering harus bolak-balik ke kamar untuk membangunkan kami karena kami masih belum puas tidur. Namun setelah sahur dan shalat subuh, kantuk itu biasanya tak terlalu terasa lagi, bahkan ada kegairahan tersendiri, karena sepulang dari masjid, teman-teman sepermainan — bahkan remaja dan orang-orang tua — biasanya berjalan-jalan ke sawah untuk melihat matahari terbit dan baru pulang ke rumah setelah hari terang-benderang. Baru setelah itu saya bisa tidur lagi hingga menjelang waktu dzuhur.

Makanan menjadi obsesi dan kenangan tersendiri. Waktu itu rasanya setiap hari ada saja makanan lezat yang tersedia. Ibu, nenek, dan kerabat selalu masak makanan istimewa selama bulan Ramadan. Di sekitar rumah juga banyak penjual makanan-makanan khas. Bukan jajanan-jajanan standar warung yang berbungkus yang bisa dijumpai di mana saja seperti sekarang, tapi betul-betul jajanan-jajanan tradisional: ketan abang, ketan konyoh, gemblong ketan, kolak, kluban

Mungkin karena lapar, saya jadi terobsesi dengan makanan. Saya suka mengumpulkan makanan apa saja, kadang sebanyak-banyaknya, untuk waktu berbuka puasa. Apapun yang dikasih nenek — yang begitu memanjakan kami, cucu-cucu kecilnya yang sedang belajar berpuasa — yang dimasak dan disediakan oleh ibu, atau yang saya beli sendiri dengan uang jajan yang diberikan, saya kumpulkan. Saya ingat, saya punya kotak sendiri yang saya pakai untuk menyimpan makanan-makanan itu.

Pernah suatu ketika saya begitu tergoda dengan salah satu makanan yang saya kumpulkan itu, sampai-sampai saya tak tahan untuk tidak mencicipinya, padahal waktu itu sudah lewat waktu ashar, yang artinya maghrib dan waktu berbuka puasa sudah dekat. Meskipun tidak ada orang yang tahu karena saya terus berpura-pura melanjutkan puasa hingga waktu berbuka, saya menyesal. Perasaan bersalah itu membuat saya tidak mengulanginya lagi.

Ibu tampaknya mahfum saja dengan tingkah laku saya yang suka mengumpulkan makanan itu, meskipun kadang-kadang beliau juga mengingatkan: “Apa habis nanti itu semua? Apa ndak akan kekenyangan?”

Kadang-kadang memang begitu. Saya tidak bisa makan semuanya pada waktu berbuka karena sudah kekenyangan. Tapi dasar anak kecil, biasanya makanan-makanan itu habis juga tersantap sepanjang malam sebelum tidur. Padahal, setelah shalat isya dan tarawih, kami kadang-kadang juga masih jajan karena di dekat langgar tempat kami shalat tarawih banyak juga penjual makanan.

Jajanan yang dijual di dekat langgar berbeda dengan makanan-makanan yang saya kumpulkan di siang hari. Saya masih ingat, di emperan toko koperasi di Gang XIX, dekat langgar Haji Drahman (Abdurrahman) itu setiap malam ada penjual krupuk pindang tetel dan bakso yang lezat. Saya tidak ingat siapa nama penjual pindang tetel itu, tapi penjual baksonya kalau tidak salah namanya Mas No. Orang-orang harus antri untuk mendapatkannya.

Di desa saya banyak masjid dan langgar. Anak-anak kecil, para pemuda, dan sebagian bapak-bapak di dekat tempat tinggal saya lebih suka ke langgar Haji Drahman karena tarawihnya cepat dan singkat. Masjid At-Taqwa, masjid besar yang sebenarnya juga dekat dengan tempat tinggal kami, kurang laku karena tarawihnya lama dan lambat. Surat-surat yang dibaca panjang-panjang dan imamnya, yang sudah sepuh, membacanya juga seperti siput. Lambat sekali. Karena itu, masjid Taqwa (demikian kami menyebutnya dengan menghilangkan al-nya) hanya didatangi oleh orang-orang tua atau orang-orang yang betul-betul ingin khusuk dalam shalatnya.

Langgar Haji Drahman yang kecil itu seringkali penuh sesak dan jamaahnya meluber hingga ke pelataran karena imamnya bisa membaca surat-surat dalam Juz Amma dengan kecepatan supersonic🙂 — kecepatan yang tentu saja lebih cocok untuk generasi muda dari zaman pesawat terbang jet — sampai-sampai kami tidak tahu apakah dia sempat mengambil nafas di antara ayat-ayat yang dibacanya. Saya curiga, untuk surat-surat pendek seperti Al Asr atau Al Ikhlas, mungkin dia menyelesaikannya dalam satu tarikan nafas.

Dalam suatu kurun waktu tertentu, pernah ayah sayalah yang selalu ditunjuk sebagai imam, karena beliau memperkenalkan tarawih dalam versi yang mungkin paling pendek di seluruh desa kami, bahkan mungkin di manapun: 7 rakaat saja! (4 rakaat tarawih plus 3 rakaat witir, kalau tidak salah). Saya tahu ayah tidak ngawur karena dasarnya adalah hadist-hadist tentang shalat malam yang pernah dicontohkan Nabi. Tapi versi itu, yang membuat langgar Haji Drahman semakin full house, akhirnya dianulir dan dinyatakan tidak sesuai (dengan apa, saya tidak tahu) oleh pengurus Muhammadiyah setempat, sehingga kami harus kembali ke sebelas rakaat standar minimal.

Malam Bulan Ramadan selalu ramai di kampung kami, lebih ramai dari hari-hari  di bulan-bulan lain, karena kami — anak-anak — bisa bermain hingga larut malam. Permainan yang paling sering kami mainkan di malam hari adalah bung-bungan (kejar-kerjaran) dan rok umpet (petak umpet). Bung-bungan adalah permainan tim. Dua tim, yang masing-masing memilik home base, biasanya di bawah tiang listik (ting) yang terang, mencoba menguasai home base tim lawannya dengan cara mengirim anggotanya untuk berusaha menyentuh ting lawannya. Pihak lawan tentu tidak berdiam diri. Mereka berusaha mempertahankan benteng mereka dengan cara menangkap pasukan musuh sebelum dia berhasil mendekati home base mereka.

Rok umpet kami sama dengan petak umpet di tempat-tempat lain. Bedanya, kami bisa bersembunyi di manapun, bahkan di tempat yang jauh (kecuali ada perjanjian batas tempat bersembunyi sebelumnya). Anak-anak yang pemberani biasaya memilih bersembunyi di tempat-tempat yang dianggap angker, sehingga anak-anak lain tak berani mencarinya.  Di Gang XVII tempat saya tinggal, dulu ada kebun pisang dan rumah kuno yang dianggap angker dan berhantu. Di situlah biasanya anak-anak yang punya nyali bersembunyi.

Sebagian anak-anak biasanya tidak pulang setelah permainan itu. Mereka begadang untuk melanjutkan kegiatannya dengan ronda malam dong dong prek (nama ini mungkin diambil dari onomatopeia bebunyian yang mereka tabuh) untuk membangunkan orang sahur. Saya sendiri tidak pernah ikut pasukan ini karena ayah saya tidak mengizinkan saya pulang lebih dari pukul 10 malam. Biasanya beliau akan menjemput saya kalau pada jam itu saya belum pulang.

Beberapa pasukan dong dong prek punya musik, lagu, dan bebunyian yang bagus dan sepertinya orisinil. Beberapa masih saya ingat hingga beberapa waktu yang lalu karena lagu-lagunya itu. Namun ada juga yang asal, dengan musik dari kaleng dan bambu sekadarnya ditambah dengan teriakan sahuuur … sahuuur …

Aah … indahnya kenangan Ramadan waktu kecil dulu. Puasa terindah tetap saja pada masa kanak-kanak dulu. Tak tergantikan.

4 pemikiran pada “Kenangan Berpuasa di Masa Kecil

  1. hahhaaaaaa….
    indah ya ka?
    yisha ngga terlalu ingat. samar2 yang yisha ingat yisha lupa melulu. ada aja yang nyampe ke mulut, pas nyampe dan kena lidah eh….lagi puasa
    *malu2in bangets deh pas ingat

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s