Kebesaran Masa Lalu Bangsa


Dalam pikiran saya sedang terlintas ini:

Nyaris segala kebanggaan yang kita miliki tentang kebesaran tanah air dan bangsa ini adalah pemberian alam dan warisan masa lalu:

Tujuh belasan ribu pulau yang teruntai bak mutu manikam zamrud khatulistiwa; letak geografisnya yang sungguh strategis dan istimewa; kekayaan alamnya yang melimpah ruah; iklimnya yang sahaja; kesuburan tanahnya; keanekaragaman hayati tanah dan airnya: kita tak hidup di antara lautan, hanya kolam susu. Dan tanah yang kita pijak ini, tak ada apapun yang tak dapat tumbuh padanya: tongkat kayu pun menjadi tanaman. Tak banyak bangsa-bangsa lain yang seberuntung kita lahir dari dan dibesarkan oleh Ibu Pertiwi yang cantik, kaya, dan penuh welas asih seperti ini.

Nenek moyang kita begitu hebat — bangsa cerdas dan perkasa yang disegani dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain. Benar, pada mulanya kita memang belajar dari bangsa-bangsa lain: India, Cina … Tapi kita juga adalah bangsa pengembang dan pencipta yang berbudidaya: candi-candi megah, aksara dan sastera, perahu-perahu perkasa yang gagah membelah samudera; ilmu, teknologi, seni, dan budaya dalam segala adiwujudnya: astronomi, ilmu pertanian dan pengairan, alat pertukangan, senjata, alat transportasi, alat musik, tari-tarian, pakaian dan perhiasan:

Borobudur dan Prambanan milik kita; batik milik kita; perahu-perahu Finisi Bugis milik kita; Gamelan milik kita; Keris milik kita; Subak milik kita; Tari Saman milik kita; Reog milik kita; Tempe milik kita; dan segala karya-karya sastera dan pernak-pernik yang mengagumkan dari tenun dan busana dan segala hiasannya, juga milik kita, karya leluhur kita, warisan kita.

Setiap kali kita ditanya tentang kebesaran kita sebagai bangsa, itulah bukti-bukti kita, kebanggaan kita.

Tapi semua itu pemberian dan warisan: alam dan segala karya yang kita banggakan itu.

Lalu apakah yang telah kita perbuat dengan segala karunia alam itu, karya apa yang telah kita ciptakan dan akan kita wariskan pada anak cucu, sehingga mereka pun bisa berbangga menjadi pewaris-pewaris dari bangsa yang besar ini?

Hutan belantara kita telah kita tebang dan bakar; sungai-sungai bening yang kita warisi telah kita cemari dan penuhi dengan sampah; mata-mata air telah kita keringkan; emas dan segala bahan tambang yang ada dalam rahim Ibu Pertiwi kita telah kita kuras dan jual murah pada bangsa-bangsa lain, tanpa memerikan kesejahteraan kepada anak-anaknya; lautan dan kolam susu kita — karang dan segala keanekaragaman hayatinya — telah kita hancurkan …

Kebodohan kita telah merampok banyak warisan dan kebanggaan yang menjadi hak anak cucu kita.

Borobudur, Prambanan, Batik, Keris, Gamelan, Finisi Bugis, Saman, Reog, Tempe, … Kita telah mewarisi itu semua dengan bangga. Lalu adikarya apakah yang telah kita ciptakan yang kelak bisa dibanggakan oleh anak cucu kita?

Kita anak-anak Ibu Pertiwi yang cantik, kaya, dan welas asih. Akankah kita mewariskan buruk rupa, kemiskinan, kekasaran dan angkara pada anak cucu kita? Tiada adikarya, dan hanya alam yang binasa serta nestapa bagi mereka?

Eki Akhwan,
17-07-2013

Satu pemikiran pada “Kebesaran Masa Lalu Bangsa

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s