Menjadi Perokok di Amerika


Saya perokok. Dan saya tidak bangga dengan kenyataan ini. Dengan menuliskan ini, saya tak hendak membenarkan kebiasaan buruk ini, apalagi menyokong atau mempromosikannya.

Di Indonesia, menjadi perokok adalah perkara mudah. 60 juta lebih penduduk negari ini merokok dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Konon 60 persen pria Indonesia adalah perokok. Kita adalah negeri ketiga dengan jumlah perokok terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Rokok relatif murah dan dapat dibeli oleh siapapun dan di manapun. Tidak demikian halnya di negara-negara maju, termasuk di Amerika Serikat, di mana regulasi tentang rokok dan merokok semakin ketat membatasi peredaran rokok dan kebebasan para pencandunya.

Rokok termasuk barang mahal di Amerika. Harga termurah untuk sebungkus rokok di Bethlehem, Pennyslvania, pada waktu itu, seingat saya hampir tiga dolar. Di kota New York, yang jaraknya hanya dua jam perjalanan dari Bethlehem, harganya jauh lebih mahal lagi karena pajaknya jauh lebih tinggi. Harga termurahnya, kalau tidak salah, sekitar lima dolar. Selain itu, rokok juga tidak dijual di sembarang tempat. Rokok hanya ada di convenience store (toko kelontong), pharmacy (apotek), supermarket, atau toko-toko khusus yang menjual produk-produk tembakau. Ruang bagi perokok pun sangat dibatasi. Ruang-ruang publik seperti restoran, bandara, stasiun bus dan kereta api, kendaraan umum, dan perkantoran tak mengizinkan orang untuk merokok. Kalaupun ada yang masih mengizinkan, mereka biasanya menyediakan ruangan khusus yang tidak bercampur dengan pengunjung lain. Apalagi tempat-tempat yang memang tak sepantasnya orang merokok seperti ruang kelas, perpustakaan, atau rumah sakit.

Saya ingat betul, di Bandara Narita, Tokyo, tempat saya singgah dalam perjalanan ke Amerika yang pertama,  disediakan ‘kandang kaca’ khusus bagi perokok. Itulah kali pertama saya melihat kandang semacam itu. Namun rupanya itu bukan hal yang istimewa. Banyak bandara internasional yang pernah saya singgahi yang sudah menerapkan pembatasan itu, seperti Bandara Internasional Hongkong. Namun banyak juga yang sama sekali tidak menyediakan tempat bagi perokok.

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, saya sampai harus bolak-balik dari lantai tiga ke lantai dasar dan keluar perpustakaan di musim ujian hanya untuk bisa merokok di depan luar gedung perpustakaan di tengah udara musim dingin yang sangat menggigit. Sungguh tidak nyaman, meskipun di antara perokok-perokok lain ada suasana keakraban dalam suasana seperti itu.

Di negara bagian Pennylvania tempat saya kuliah ada aturan ‘We Card’ yang mengharuskan toko yang menjual rokok memeriksa kartu identitas orang yang akan membeli rokok untuk memastikan bahwa dia sudah berusia lebih dari 18 tahun. Di Ahart — supermarket terdekat dengan tempat tinggal saya — saya jarang diminta memperlihatkan kartu identitas ketika membeli rokok. Mungkin karena pelayan di kasir memang bisa melihat bahwa saya sudah cukup umur. Namun di CVS Pharmacy, saya hampir selalu diminta oleh kasirnya untuk memperlihatkan kartu identitas saat membeli rokok. “May I see your ID, please.” Sambil bergurau, saya sering menjawab sambil tersenyum, “Do I look like I’m underage?” Namun si pelayan tetap tak bergeming. Saya tetap harus memperlihatkan kartu identitas saya. Sungguh sangat berbeda dengan di Indonesia. Anak kecil pun bisa membeli rokok di sini tanpa ditanya untuk siapa.

Sebagai perokok saya tidak terlalu suka rokok putih yang biasa dijual di Amerika. Namun karena ketika berangkat saya hanya membawa beberapa bungkus rokok kretek, selama beberpa bulan saya terpaksa mengkonsumsi juga rokok putih ketika rokok yang saya bawa itu habis. Beberapa bulan kemudian saya baru tahu bahwa rokok kretek Indonesia juga dijual di Amerika, meskipun hanya di toko-toko tertentu yang eksklusif saja. Namun jangan ditanya harganya. Bisa sepuluh kali lipat harganya di Indonesia. Oleh karena itu, saya akhirnya meminta keluarga saya untuk mengirimkan rokok kesukaan saya dari tanah air. Harga rokok plus ongkos kirim kilat masih jauh lebih murah daripada membeli rokok merek yang sama di Amerika.

5 pemikiran pada “Menjadi Perokok di Amerika

  1. itu yang kusuka dari amerika, emang harga2 apa2 lebih mahal, tapi segala sesuatunya sangat organized dan teratur dan tertib. saya juga perokok tapi kurang setuju org merokok di tempat umum. btw di amrik sana ada rokok mild gak ya?

  2. Hello! Mau sedikit tanya,jd bisa ya kirim rokok dr indo ke US? Apakah ada maksimal jumlah rokok yg bs dikirim? Dan biasanya kirim menggunakan apa?

    Thanks a lot!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s