Survival of The Fittest, Demokrasi dan Liberalisme


Survival of the fittest adalah slogan kaum liberal. Kelangsungan hidup, survival, dalam pandangan mereka, tidak dijamin oleh apa dan siapapun, melainkan oleh kemampuan dan usaha diri untuk bertahan dengan segala cara dalam persaingan bebas dengan pihak-pihak lain. Mereka yang tidak mampu dan/atau tidak cukup berusaha akan terlindas; mereka yang mampu dan/atau gigih usahanya akan menjadi pemenang.

Dalam pemikiran semacam itu, sang pemenang adalah orang-orang atau hal-hal yang terbaik. Si lemah akan dengan sendirinya tersingkir dan punah dalam proses seleksi yang mereka anggap alamiah, natural selection.

Slogan itu konon pertama kali dicetuskan oleh Herbert Spencer (1820 – 1903), filosof dan ilmuwan Inggeris, setelah membaca buku tulisan Charles Darwin On The Origini of Species yang terkenal itu.

Saya tidak akan mengulas Liberalisme, pro – kontra, atau baik – buruknya dalam tulisan ini. Tulisan-tulisan semacam itu perlu waktu duduk yang lama untuk membuatnya. Saya hanya ingin menuliskan apa yang tercetus dan melintas dalam pikiran saya mengenai hal itu menjelang waktu sahur ini.

Leberalisme dan demokrasi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Mereka setali tiga uang, dua sisi dari mata uang yang sama: Tak ada demokrasi tanpa liberalisme, dan sebaliknya, tak ada liberalisme tanpa demokrasi.

Dalam demokrasi gagasan bersaing dengan gagasan, orang dengan orang, golongan dengan golongan secara bebas dan dalam kedudukan yang setara. Dalam demokrasi, sikap egaliter — duduk sama rendah, berdiri sama tinggi — adalah keniscayaan yang dituntut bersama dengan kebebasan, juga (kalau kita mengikuti model Perancis) persaudaraan (liberte, egalite, fraternite — semboyan Revolusi Perancis, yang sekarang dipakai sebagai motto Republik Perancis).

Persaudaraan (fraternite) barangkali bukan konsep asing bagi bangsa kita yang guyub. Namun kebebasan, dan terutama kesetaraan, adalah hal-hal yang tak memiliki akar dalam tradisi budaya kita. Dalam masyarakat guyub (komunal), kebebasan individu tak penting dan seringkali harus ditundukkan oleh/dalam tekanan masyarakat. Demikian juga dengan kesetaraan. Masyarakat kita adalah masyarakat yang hirarkis dan feodal. Dalam mata jiwa (psyche) kita sudah tertanam sikap hirarkis yang sangat kental di mana ‘senioritas’ (dalam usia, kedudukan sosial, jabatan, gender) memiliki kuasa lebih untuk menuntut ketundukan dan penghormatan dari pihak-pihak yang secara hirarkis berada di bawahnya: orang muda pada yang lebih tua, rakyat kepada penguasa, wanita kepada pria, murid kepada guru, makmum kepada imam.

Oleh karena itu, masuknya kita ke dalam alam demokrasi adalah goncangan yang dahsyat bagi masyarakat kita. Dalam pikiran saya, barangkali tak ubahnya orang yang belum diimunisasi cacar terpapar virus cacar: panas dingin, menggigil, kulit melepuh dan timbul bercak-bercak. Mata jiwa kita kacau dan mengalami disorientasi sejadi-jadinya.

Itulah barangkali pada esensinya penyebab kegalauan massal yang kita alami dengan segala ekses-eksesnya, seperti kericuhan dan kekerasan antarorang dan antargolongan, pemaksaan kehendak satu pihak (biasanya yang merasa atau secara tradisional hirarkis berhak) atas pihak yang lain.

Di pihak lain, orang-orang atau golongan-golongan yang selama ini tertindas sekarang merasa memiliki hak dan kebebasan untuk menuntut kesetaraan: rakyat menuntut kepada penguasa, makmum kepada imam, minoritas kepada mayoritas.

Demikian renungan prasahur saya. Mari kita sahur!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s