Touring ke Jawa Tengah: Bandung – Pamanukan – Pekalongan


Sudah lama saya ingin touring – melancong dengan sepeda motor. Sejak saya membeli motor sport. Namun niat itu selalu tertunda. Ada saja alasannya: sibuk, tak ada waktu, tak ada teman, cuaca yang tak menentu, terlalu khawatir risiko, malas.

Memang benar rupanya, a journey of a thousand miles begins with a step. Melangkah dulu, pikir yang lain-lain kemudian. Terlalu banyak pertimbangan membuat perjalanan seringkali justru tak terjadi.

Maka, setelah niat dan persiapan secukupnya, Kamis 27 Juni 2013 lalu, saya putuskan berangkat. Destinasi pertama saya: Pekalongan, kampung halaman saya. Dari sana, saya berencana ke Semarang, Ambarawa, Dieng, Jogja, dan kembali ke Bandung lewat jalur selatan.

Terus terang, saya belum pernah bersepeda motor sejauh itu. Jarak terjauh yang pernah saya tempuh bersepeda motor adalah ke Pangandaran, dengan Vespa — sepeda motor pertama yang saya beli — bersama teman-teman kuliah dulu; lalu ke Pekalongan, tiga kali seingat saya, dalam rangka mudik Lebaran.

Mudik tidak saya anggap sebagai touring, karena tujuannya bukan untuk melancong atau menikmati perjalanannya. Jadi, seumur hidup, mungkin cuma perjalanan Bandung – Pangandaran itulah satu-satunya pengalaman touring saya.

Oh, sebentar! Mungkin bukan cuma itu: dulu, waktu saya masih bekerja di Bali, saya kadang-kadang menyewa sepeda motor untuk berkeliling-keliling di akhir pekan. Saya tidak tahu, apakah itu bisa disebut touring juga. Jarak paling jauh yang pernah saya tempuh dengan sepeda motor sewaan itu hanya sampai di Kintamani dan Bedugul. Pernah juga suatu kali saya dibonceng teman sekerja saya di IALF Bali, Yanto namanya, menyeberang ke Lombok. Dia menengok kakaknya di Mataram. Saya hanya ikut, bersilaturahmi sebentar dengan keluarga kakaknya, lalu mencari penginapan sendiri di sebuah losmen di Senggigi.

***

Kamis itu saya berangkat siang. Pukul satu, karena malam sebelumnya agak sulit tidur. Jadi, setelah subuh saya putuskan untuk tidur dulu. Rencananya hanya untuk satu atau dua jam. Tapi ternyata bablas hingga pukul sepuluh lebih.

Karena kebablasan itu, sempat timbul pikiran untuk menunda lagi keberangkatan. Namun belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya tahu, menunda seringkali berarti membatalkan. Jadi, meskipun sudah terlalu siang, saya putuskan tetap berangkat.

Sekitar pukul satu, setelah salat zuhur, saya meluncur lewat jalan-jalan kecil di belakang perumahan ke arah Jalan Kolonel Masturi. Tujuan saya: Cisarua – Lembang – Cikole –  memutar sisi kanan Gunung Tangkuban Perahu – Jalan Cagak – Subang – Pamanukan. Dari sana, saya akan berbelok ke kanan, menyusuri pantura ke Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan.

Dalam perjalanan kali ini, saya sengaja tidak melalui rute yang biasa saya tempuh dan dari segi jarak lebih dekat, yaitu melalui Sumedang dan Jatiwangi, karena saya malas harus menerobos kota Bandung yang padat, macet, dan penuh polusi. Belum lagi beberapa titik macet antara Bandung dan Sumedang, seperti di Jatinangor dan Tanjungsari. Selain itu, karena ini perjalanan touring, saya ingin menjelajah rute alternatif, rute baru, agar bisa melihat hal-hal baru dan bisa lebih merasakan sensasinya.

Saya tiba di Subang sekitar waktu ashar, setelah berkendara sekitar dua jam dari rumah, dan memutuskan beristirahat sejenak untuk membeli perbekalan di sebuah mart sambil mencek posisi dan peta dengan GPS. Saya belum pernah melalui jalur ini dan terus terang hanya memiliki gambaran yang samar-samar tentang pilihan rute yang tersedia untuk mencapai pantura.

Perjalanan Subang – Pamanukan sangat lancar. Pun di pantura ke arah Cirebon saya dapat memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi karena kondisi jalan yang baik dan lalu lintas yang cukup lengang. Pemandangan di sini tidak semenarik ‘etape’ selumnya, namun jalanan yang lebar dan cukup mulus membuat saya cukup menikmati perjalanan.

Sekitar pukul setengah lima, saya berhenti di sebuah mesjid yang menaranya tampak dari jauh memiliki warna dan arsitektur yang menarik — warna bata dan arsitektur Cirebon kuno — untuk shalat ashar. Ternyata mesjid ini adalah bagian dari kampus Pondok Pesantren Darussalam, di Eretan, Subang. Terletak di tepi jalan raya di antara persawahan, kampus ini memiliki bangunan-bangunan dengan arsitektur yang menarik yang sewarna dengan menara yang yang saya sebutkan tadi.

Meskipun bangunannya bergaya arsitektur kuno, tampaknya pesantren ini adalah pesantren modern. Di depan sebuah gedung, terpampang tulisan ‘English and Arabic Zone’ dan beberapa semboyan dan tanda pengingat lain tentang visi dan misi pesantren itu. Saya suka moralitas dan suasana batin yang ingin diciptakan oleh semboyan dan tanda-tanda itu. Terasa ada pesan damai yang menyejukkan dan semangat menuntut ilmu yang tinggi.

image

Di sebuah sudut di dekat gerbang, saya melihat balai-balai dengan bantal, tikar, peralatan makan, sarung, kertas dan peralatan tulis. Saya hanya bisa menduga ini tempat belajar para santri di luar kelas yang mungkin merangkap juga sebagai pos jaga dan ronda karena letaknya di dekat gerbang. Di dekat situ, di luar pagar, dekat jalan raya, ada juga sebuah kedai makanan dan minuman yang dikelola oleh santri. Menu yang ditawarkannya sederhana saja: soto, bakso, dan nasi goreng serta minuman-minuman standar yang banyak dijual di warung-warung seperti itu: teh, kopi, air jeruk, dan minuman-minuman dalam kemasan. Saya sempat menikmati baso dan teh manis di sini. Rasanya biasa saja, lumayan sebagai pengganjal perut, meskipun menurut spanduk yang dipasang di depan kantin itu, bakso di sana diklaim bisa membuat orang tuman. Tuman, dalam bahasa Jawa dialek Indramayu, mungkin berarti ketagihan.

Kesempatan istirahat dan shalat ashar itu saya pakai sekaligus untuk mengamati dan menikmati suasana kampus yang tampak asri. Semua tampak baik-baik saja, kecuali satu: kamar mandi dan tempat wudhu yang tampak kotor, licin, dan terceceri sampah-sampah plastik bekas kemasan sabun mandi, sabun cuci, sampo, dan lain-lain. Agak menjijikkan, terus terang. Saya tidak tahu, apakah seperti ini lazimnya suasana pesantren: damai dan tinggi moralitas dan semangat taklimnya di satu sisi, namun jorok dan kurang memperhatikan higiene di sisi lain.

Dari Eretan saya melanjutkan perjalanan nyaris tanpa istirahat lagi menuju Cirebon. Jalan yang lebar dan tidak terlalu padat membuat saya optimis bahwa saya akan dapat mencapai Cirebon sekitar pukul 7 malam. Namun apa boleh dikata, memasuki Kabupaten Cirebon hujan turun cukup deras, sehingga saya terpaksa harus berteduh, beberapa kali, mengikuti irama hujan, hingga memasuki Kota Cirebon.

Singkat cerita, saya baru dapat mencapai Pekalongan mendekati tengah malam. Saya tidak bisa memacu sepeda motor saya dengan kecepatan tinggi karena semakin malam semakin banyak kendaraan besar yang melintas. Saya mengambil posisi aman saja. Selain itu perbaikan jalan di beberapa ruas jalan di Brebes, Tegal, dan Pemalang membuat lalu-lintas tersendat cukup lama.

Di Pemalang, sekitar pukul setengah sebelas malam, saya sempat berhenti untuk makan malam di sebuah warung tenda pinggir jalan yang menjual bebek goreng. Konon di daerah ini, itulah ciri khasnya: bebek goreng, nasi uduk, dan lalap-lalapan. Rasanya lumayan juga, mungkin karena saya sudah lapar dan mulai kelelahan. Saya suka sambelnya. Bebeknya juga empuk. Saya cuma agak khawatir dengan minyak yang dipakai untuk menggorengnya yang tampaknya sudah agak kehitaman dan kurang sehat.

Pekalongan

Tidak ada agenda khusus di Pekalongan. Saya memang hanya berniat menengok ibu, bersilaturahmi dengan sanak keluarga, dan, seperti biasa kalau pulang kampung, berwisata kuliner: mencicipi berbagai hidangan lezat penuh kenangan.

Di antara hidangan yang hampir tak pernah saya lewatkan setiap pulang kampung adalah kluban bothok, sego megono dan tempe glepung (yang di daerah Banyumas disebut mendoan), dan es dawet ketan Podo (Podo adalah nama kelurahan kira-kira dua kilometer dari rumah orangtua saya). Alhamdulillah, semua makanan kegemaran saya itu bisa saya cicipi pada kepulangan saya kali ini.

image

Saya beristirahat tiga malam dua hari di rumah. Selama di rumah, saya banyak tidur dan mengobrol dengan ibu. Tentang apa saja: apa yang terjadi di kampung kami, juga tentang saudara dan sanak keluarga dan nostalgia masa lalu — dan terus terang ini yang paling saya suka, karena obrolan tentang masa lalu bisa mengingatkan saya pada akar saya yang seringkali nyaris terlupakan untuk orang-orang yang sudah merantau cukup lama seperti saya.

Saya berencana melanjutkan perjalanan hari Ahad pagi, sesuai rencana, yaitu ke Semarang, Ambarawa dan sekitarnya, lalu ke Dieng dan Jogja. Namun Sabtu malam saya terpaksa mengubah rencana perjalanan karena kerabat yang akan saya kunjungi di Ambarawa tidak ada di tempat. Saya putuskan untuk langsung ke Dieng melalui jalur selatan Pekalongan, menembus bagian tengah Jawa Tengah, tanpa melewati Semarang dan Ambarawa seperti yang saya rencanakan semula.

Dari informasi yang saya dapatkan dari dari hasil browsing di  Internet malam itu, saya baru mengetahui bahwa  saat itu di Dieng sedang berlangsung acara Dieng Culture Festival 2013. Acara itu sudah berlangsung tiga hari dan hari Ahad itu adalah penutupannya. Telat.  Andaikan saya tahu sebelumnya, mungkin saya bisa berangkat hari Sabtu. Namun apa boleh buat. Saya akan tetap ke sana, ada atau tidak ada festival. Saya hanya ingin menjajal ketangguhan saya bersepeda motor, menikmati pemandangan, dan bernostalgia. Saya terakhir kali ke Dieng ketika saya masih SMA, hitchkihing dan mendaki bersama teman-teman dari arah Batang. Sudah puluhan tahun lalu. Pasti sudah banyak yang berubah.

Bersambung …

3 pemikiran pada “Touring ke Jawa Tengah: Bandung – Pamanukan – Pekalongan

  1. Ini keren sekali Pak. Apalagi dilakukan oleh Pak Eki yang jauh lebih senior daripada saya. Saya yang jauh lebih junior ini jadi malu belum pernah melihat dunia dengan cara seperti itu. Padahal secara kesempatan seharusnya lebih leluasa😦

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s