Touring ke Jawa Tengah (Bagian Kedua): Pekalongan – Dieng


Ini lanjutan tulisan saya kemarin.

Perjalanan ke selatan Pekalongan bagi saya adalah semacam nostalgia. Waktu kecil dulu, daerah-daerah seperti Wonopringgo, Warung Asem, Kajen, dan daerah-daerah di sekitarnya adalah wilayah jelajah saya bersepeda. Saya suka keindahan pemandangan alam di tempat-tempat itu: jalan-jalan yang diteduhi oleh pohon asam dan — di beberapa bagian — pohon kapuk randu di kiri kanannya, sawah yang membentang, sungai-sungai bening yang mengalir dari arah pegunungan Serayu Utara yang dari jauh tampak sangat biru berderet-deret di selatan cakrawala; pemandangan yang bagi saya sempurna seperti lukisan Indie mooi(atau mooi Indie?).

Imajinasi tentang Gunung
Dulu, sebelum masuk sekolah dasar, saya pernah menyangka dan membayangkan bahwa gunung-gunung itu bukan tanah biasa karena warnanya yang biru. Saya membayangkannya seperti semacam kue raksasa, mungkin sejenis agar-agar, yang bisa diiris. Imajinasi itu barangkali diilhami oleh gambar-gambar gunung yang ada di bungkus silet yang dipakai ayah saya untuk bercukur. Mereknya TATRAS. Gambar di bungkusnya gunung-gunung berwarna biru. Mungkin karena itu, saya mengasosiasikan gunung dengan sesuatu yang bisa disilet, diiris-iris.

Asosiasi itu terus bertahan di dalam otak saya bahkan setelah saya diberitahu, dan belajar dari ilmu bumi, bahwa gunung adalah tanah juga, yang menjulang tinggi, dan warna biru hanyalah ilusi, seperti halnya laut yang dari jauh juga tampak biru, dan baru bisa hilang ketika saya diajak ke Dieng dan melihat dan mengalami sendiri bahwa gundukan-gundukan biru itu jika didekati tidak ada. Yang ada hanya tanah, hutan, dan pepohonan.

Lucu juga ya imajinasi saya waktu kecil?

TATRAS ternyata adalah nama pegunungan di Slovakia. Mungkin silet yang dipakai oleh ayah saya itu dulu diimpor dari sana, atau merek dari sana yang sudah diproduksi di Indonesia atas lisensi produsen asalnya di Chekoslovakia.

Wah, saya jadi melantur nih. Maaf.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 8. Sudah agak siang, karena saya menunggu Ibu saya selesai berjualan. Selain itu, saya juga selalu merasa sungkan, ogah-ogahan, setiap kali harus meninggalkan rumah orangtua setelah beberapa hari berlibur di sana.

Dari rumah orangtua, saya melaju ke selatan ke arah Kedungwuni, berbelok ke kanan ke arah Wonopringgo, lalu ke kanan lagi di Warung Asem menuju ke arah Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Dari sana, saya berbelok ke kiri dan memulai pendakian melewati hutan karet (kami menyebutnya Alaska, alas karet) yang rimbun dan sejuk. Beberapa kilometer kemudian, di sekitar daerah Linggo Asri, hutan karet digantikan oleh hutan pinus. Jalan di daerah ini berliku-liku, penuh tikungan tajam, dan mendaki. Namun karena jalanan yang mulus, udara yang sejuk, lalulintas yang sepi dan pemandangan yang memukau, perjalanan itu terasa sangat nikmat. Mesin sepeda motor saya  menderu halus penuh tenaga dan percaya diri menapaki kilometer demi kilometer pendakian itu.

Desa Wanawisata Kali Paingan

Di objek wisata Linggo Asri, saya sempat berhenti sejenak, namun akhirnya saya putuskan untuk tidak mampir ke sana. Objek wisata yang sudah dikelola dan bergerbang seperti itu kurang menarik bagi saya, meskipun saya punya kenangan-kenangan indah bersama teman-teman di tempat itu, waktu di SMP dan SMA dulu. Sekitar satu kilometer dari sana, barulah saya berhenti di sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai yang sangat jernih di sela-sela bebatuan besar. Insting fotografis saya mengatakan, ini tempat yang luar biasa.

Di ujung jembatan itu, di sebelah kiri, ada jalan kecil. Saya berbelok ke sana ke arah hulu sungai. Insing saya ternyata benar. Tempat itu sangat indah. Saya ingat, dulu saya pernah bermain dan mandi di sungai ini bersama teman-teman di sebuah acara perkemahan Pramuka waktu SMP. Tidak banyak yang berubah di tempat ini. Masih seindah ingatan saya beberapa puluh tahun yang lalu. Hanya satu saja yang berubah: tempat di tepian sungai itu sekarang dikelola oleh sebuah desa wanawisata. Nama desa wanawisata itu Kali Paingan, sesuai dengan nama sungainya.

Jalan setapak menuju desa wanawisata Kali Paingan. Jembatan di kejauhan adalah jalan raya yang menghubungkan Kajen dengan Kalibening dan Dieng.
Jalan setapak menuju desa wanawisata Kali Paingan. Jembatan di kejauhan adalah jalan raya yang menghubungkan Kajen dengan Kalibening dan Dieng.

Saya tidak keberatan membayar empat ribu rupiah untuk masuk ke sana, karena tampaknya tempat itu tidak terlalu komersil dan dari karcis yang saya terima dinyatakan bahwa harga karcis itu adalah sejenis sumbangan bagi pemeliharaan dan pengembangan desa wanawisata itu.

Di dalam ‘kompleks’ itu, di tepian sungai, ada beberapa bangku dari bambu yang tampaknya sengaja dibuat untuk tempat duduk pengunjung yang ingin menikmati pemandangan, juga tempat sampah. Semuanya tampak alami dan serasi dengan lingkungan alamnya (tidak seperti di tempat-tempat wisata komersil yang seringkali menempatkan bangku-bangku serat kaca [fiberglass] warna-warni yang menurut saya justru merusak pemandangan alam). Meskipun demikian, bagi seorang pencinta fotografi seperti saya, kehadiran benda-benda itu justru tidak menarik karena membuat saya harus mengakali sudut pandang untuk mendapatkan foto-foto yang betul-betul alami.

Kali Paingan di Pekalongan Selatan.
Kali Paingan di Pekalongan Selatan.

Desa wanawisata ini tampaknya dikelola dengan apik dan ramah lingkungan. Seluruh bangunan, yang jumlahnya hanya empat atau lima, terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu. Ada dua balai yang kelihatannya difungsikan sebagai tempat makan lesehan bagi pengunjung, sebuah tempat penyimpanan perahu karet untuk arung jeram, kantor, kamar kecil umum, dan — ini yang memuat saya terkagum-kagum — sebuah perpustakaan.

Pemuda warga desa wanawisata Kali Paingan sedang membuat dan mamasang lantai bambu.
Pemuda warga desa wanawisata Kali Paingan sedang membuat dan mamasang lantai bambu.
Setelah bercakap-cakap dengan beberapa pemuda yang sedang memasang lantai bambu di salah satu balai, saya meminta izin untuk menengok ke dalam perpustakaan, yang kata mereka terbuka untuk umum, bukan hanya penghuni desa wanawisata itu. Koleksi buku-bukunya cukup banyak. Saya menjadi semakin terkagum-kagum lagi ketika melihat-lihat koleksi buku itu. Banyak buku-buku menarik, dan mereka mempunyai koleksi buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton, lengkap!

Lima Sekawan adalah cerita favorit saya waktu saya SMP dan SMA. Dulu saya mengumpulkannya satu-satu, menunggu dan membelinya setiap terbit. Koleksi itu saya pinjamkan kepada pacar saya waktu saya mahasiswa dan tak pernah kembali dan diketahui di mana rimbanya. Pacar saya menikah dengan pria lain, dan saya terlalu gengsi untuk menanyakannya hingga beberapa waktu yang lalu ketika kami terhubung kembali lewat Facebook. Ketika saya tanyakan padanya, dia pun tak ingat di mana buku-buku itu disimpannya. Tidak seperti saya, pacar saya memang bukan penikmat buku yang rajin mengoleksi dan merawat buku seperti saya.

Koleksi lengkap buku Lima Sekawan Enid Blyton di Perpustakaan Desa Wanawisata Kali Paingan yang bikin saya ngiler.
Koleksi lengkap buku Lima Sekawan Enid Blyton di Perpustakaan Desa Wanawisata Kali Paingan yang bikin saya ngiler.

Di dalam perpustakaan itu saya juga melihat satu unit komputer lengkap dengan periferalnya yang tampaknya digunakan sebagai sarana belajar mengajar bagi warga sekitar. Saya tersenyum puas.

Setelah beristirahat, menikmati pemandangan, dan memotret secukupnya, saya kembali melanjutkan perjalanan. Dieng masih cukup jauh. Masih ada beberapa kota kecamatan yang harus saya lalui: Rogoselo, Kalibening, dan Wanayasa. Ingatan saya tentang tempat-tempat itu tidak terlalu jelas, karena terakhir kali saya melalui jalur itu adalah ketika saya mash kecil, mungkin kelas dua SD.

Sepeda motor saya pacu lagi melewati tikungan, tanjakan dan di tengah udara yang makin sejuk. Selepas Kali Paingan, hutan pinus digantikan oleh hutan damar yang megah. Berkali-kali saya menghela napas dalam-dalam dan bertasbih memuji keagungan Tuhan yang memberikan semua karunia ini.

Kota kecamatan Rogoselo tidak terlalu besar, meskipun sekarang tampaknya jauh lebih ramai daripada waktu saya masih SD dulu. Waktu itu hanya ada satu atau dua rumah di pinggir jalan. Sekarang sudah ada beberapa ruko dan terminal angkutan umum yang cukup ramai. Kalibening sudah seperti ibukota kabupaten di luar jawa. Sangat ramai. Mungkin karena hari itu hari pasaran. Dari sana saya mengambil jalur lurus ke arah Wanayasa. Kalibening adalah kota kecamatan terakhir di Kabupaten Pekalongan. Wanayasa sudah masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Di Wanayasa saya sempat berhenti sejenak di sebuah mart yang tampaknya jauh dari mana-mana untuk membeli perbekalan. Dari sana, jalan semakin menanjak tajam dan berliku-liku. Namun karena jalannya mulus dan pemandangannya sangat indah, saya sangat menikmati perjalanan itu. Saya ingat, waktu di SD dulu, ketika saya pertama diajak ke Dieng, truk Thames Trader peninggalan zaman perang yang menjadi angkutan umum waktu itu, harus sering berhenti dan diganjal rodanya untuk bisa mendaki tanjakan-tanjakan tajam itu. Kini, hanya dengan sepeda motor sport touring bermesin sedang saya sudah bisa melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Teknologi memang sudah semakin canggih.

Bersambung …

3 pemikiran pada “Touring ke Jawa Tengah (Bagian Kedua): Pekalongan – Dieng

  1. Bagus cerita perjalannya. Jadi pengen.com ^_^
    tapi setahu saya, Kalibening adalah kota kecamatan yang masuk wilayah kabpaten Banjarnegara. salam.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s