Era Disinformasi Media Sosial


Siapa menguasai informasi, dia menguasai dunia. “Menguasai” dalam adagium itu tentu saja bukan cuma soal mengumpulkan dan memiliki, tapi juga keperkasaan dalam menyebarluaskannya. Dulu, bahkan hingga masa yang belum lama berselang, kekuasaan atas informasi dipegang oleh pihak-pihak tertentu saja: pemerintah, pers. Kini, lewat Internet, blog, dan media sosial, nyaris semua orang bisa menguasainya.

Di satu sisi, ini tentu baik. Transparansi dapat mencegah seseorang atau sesuatu pihak untuk berbuat semena-mena. Namun keterbukaan total dan demokratis juga menimbulkan ancaman: tak ada lagi tapis (filter)  yang dapat mentahkikkan (memverifikasi) kebenaran informasi yang dipublikasikan. Lumpur dan emas bercampur dan mengalir deras di mana-mana. Fakta dan fiksi sulit dibedakan karena kedua-duanya bisa direkayasa demi kepentingan pihak-pihak yang menginginkan keuntungan darinya.

Hari ini (kemarin), saya membaca sebuah ulasan di majalah daring (dalam jaringan, online) BBC yang mengungkapkan tentang beredarnya foto-foto palsu/rekayasa yang beredar di Facebook dan Twitter dalam kaitan dengan konflik di Mesir. Para pendukung dari pihak-pihak yang berseteru (para pendukung Presiden Morsi yang digulingkan di satu sisi, dan pihak militer dan para pendukungnya di sisi lain) menggunakan foto-foto palsu tersebut untuk saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan pihak lawannya.

Para pendukung Presiden Morsi, konon, mengunggah foto-foto palsu dan.atau hasil rekayasa untuk menggambarkan bahwa aksi pihak militer Mesir adalah sebuah konspirasi yang didalangi oleh kaum Kristen Koptik dan kaum sekuler. Mereka bahkan mengunggah dan menyiarkan foto anak-anak yang terbunuh secara mengenaskan untuk memberikan kesan tentang kebengisan pihak militer. Pihak militer menyangkalnya dan mengatakan bahwa anak-anak dalam foto-foto itu adalah korban konflik di Suriah.

Dalam situasi seperti itu, informasi mana yang benar sulit ditahkikkan oleh masyarakat awam karena tidak ada pihak penengah yang indipenden yang bisa memastikannya. Akibat hal itu, maka dibuatlah sebuah Halaman di Facebook, yang diberi nama De Begad, agar masyarakat bisa memeriksa kebenaran informasi yang beredar di media sosial.

Rumit memang. Dan berbahaya. Disinformasi (informasi tak benar) bisa berakibat sangat mengerikan: orang bisa saling menciderai atau membunuh, negara atau bangsa bisa mengalami disintegrasi dan berperang saudara, umat bisa terpecah-belah gara-gara disinformasi. Disinformasi adalah fitnah. Dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan karena pembunuhan yang terjadi karena disinformasi memakan korban orang-orang yang tak bersalah.

Saya sudah aktif di ranah media sosial cukup lama dan selama ini saya mengamati banyak orang atau pihak yang dengan aktif menyebarkan berita-berita yang tak dapat ditahkikkan kebenarannya. Ini jelas sangat berbahaya, terutama bagi masyarakat awam dan orang-orang yang kurang cerdas berpikir dan labil emosinya. Sentimen mereka bisa dengan mudah disulut oleh pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh dan mengambil keuntungan dari amarah massa.

Oleh karena itu, inilah wanti-wanti saya pada kawan-kawan saya di Twitter hari ini: “Be careful of disinformation on the social media, please. Check, recheck, and be critical.  Be smart and don’t get outsmarted by them.” Them = orang-orang yang ingin mengail di air keruh demi agenda mereka sendiri.

Satu pemikiran pada “Era Disinformasi Media Sosial

  1. Assalamualaikum warahmatullah wabarokatu.
    Saya sangat setuju dengan apa yang Pak Eki tulis di atas. Awalnya saya menerima informasi dari media media terdekat yang mudah diakses, beritanya relatif sama. Ya saya awalnya percaya saja dengan apa yang diberitakan contohnya (katanya) rezim bashar asad membantai warganya sendiri, banyak korban bahkan anak anak ikut dibantai. Terus, mereka memberitakan (katanya) Iran menolak diadakannya inspeksi terhadap program nuklirnya yang (katanya) Israel bilang itu merupakan senjata penghancur masa. Nah, jadi reaksi saya setelah mendengar berita-berita semacam itu ya mengutuk,”Jahat banget ih bashar asad itu! Masa rakyatnya sendiri dibantai?” dan “Iran apaan sih bikin bikin nuklir segala? Mau ngebom siapa sih, nuklir kan bahaya banget”. Nah terciptalah pandangan pandangan negatif saya terhadap Asad juga Iran (sepihak) dikarenakan berita yang menyiarkan demikian. Kemudian ada seseorang yang protes terhadap omongan saya. Kira kira bunyinya seperti ini, “Hati-hati dengan berita yang beredar luas! Bisa jadi ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang mengharapkan ideologinya diterima masyarakat sehingga masyarakat dengan pandangan yang sama tidak akan menghalangi ‘pekerjaan’ mereka. Coba kamu buka sumber lain (saya dikasih websitenya). Coba kamu telaah perbedaan berita situs tersebut dengan media media yang kamu sering tonton, nanti kamu bisa menilai sendiri.” Saya penasaran, jadi saya coba buka situs webnya dan saya rutin streaming programnya. Akhirnya saya dikejutkan oleh beberapa berita yang total kontras sekali dengan yang saya dengar. Media tersebut memberitakan bahwa Amerika dan sekutunya justru mempersenjatai kubu oposisi untuk melawan pemerintah Asad. Saya penasaran siapakah kubu oposisi itu dan mengapa Amerika CS sampai mau buang buang uang nyumbang senjata dan apa untungnya buat mereka. Pertanyaan saya terjawab, ternyata oposisi ingin membentuk pemerintahan baru dan menumbangkan pemerintahan dengan sistem ala Asad ternyata menerapkan sistem Islam. Lah Amerika? mereka kan terkenal dengan tulisan “Hero of the world” di jidat-jidat tentaranya, dan dengan slogannya itu Ia mengacak ngacak negeri orang yang hampir semuanya sarat dengan kata ‘islam’ bermodalkan dalih “Memberantas Teroris”. Saya jadi ingat kasus digulingkannya kekuasaan dan pengaruh Reza Pahlevi di Iran oleh imam Khomaeni dimana Pahlevi merupakan “boneka” buatan Amerika untuk me-westernisasi-kan Iran. Di situ Imam Khomaeni setlah berhasil memimpin revolushi, Ia mengganti seluruh sistem barat yang diterapkan di Iran kembali menggunakan sistem pemerintahan ala Islam. Melalui pemberontak, tentu Amerika mendapatkan jalan untuk memasukan ideologinya ke Suriah juga namun dengan cara yang picik, lewat belakang. Dengan mendukung tim oposisi, memberitakan berita dengan versi mereka ke dunia, mencuat-cuatkan isu syiah vs suni untuk memecah belah umat muslim karena mereka sadar bahwa jikalau umat muslim mengetahui yang sebenarnya mereka lakukan, jikalau muslim seluruh dunia bersatu, itu merupakan seburuk-buruknya bencana buat mereka. Mereka ingin masyarakat dunia buta, berita pun mereka ingin sesuai dengan sudut pandang mereka. Jadi, saya pribadi setelah menonton berita yang umum beredar saat ini yang asalnya dari pihak barat, yang timbul justru rasa kekecewaan terhadap negara negara islam sendiri, namun kesan berbeda malah muncul setelah saya mengambil referensi pada media lain yang meliput berita dengan apa adanya, ternyata ada banyak hal penting atau bahkan ‘kata kunci’ yang justru tidak pernah dipublikasikan atau terkesan disembunyikan. Mereka (pihak barat) hanya memberitakan part part tertentu saja yang menurut pemikiran saya, melaporkan sesuatu secara tidak utuh dan berdasarkan fakta dapat menimbulkan apa yang bapak sebut di tulisan bapak, “Disintegrasi, perang saudara dan umat terpecah-belah” karena itu yang mereka inginkan terhadap umat Islam (kita).

    Saya sangat suka dengan tulisan Bapak tersebut dimana yang saya tangkap tulisan tersebut merupakan ‘suara’ protes kita sebagai masyarakat terhadap
    tugas media-media yang tidak sesuai dengan tujuan mengapa mereka ada. Perkara misalnya bapak menanyakan sumber pembicaraan saya, semua saya tangkap dari siaran streaming di http://www.presstv.com jadi saya tidak bisa menyebutkan link ataupun bukti tertulisnya. Terima kasih sudah membawa saya pada blog ini karena saya melihat dimana melalui tulisan, saya dapat juga menggunakan hak saya untuk berbicara. Jauh dan lama sekali perjalanan saya mencari inspirasi dan akhirnya saya mendapati bahwa blog ini merupakan inspirasi.
    Wassalamualaikum warahmatullah wabarokatuh.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s