Touring ke Jawa Tengah (Bagian Ketiga): Dieng


Maaf, bagian ketiga ini tertunda penayangannya dan sempat tersela oleh lima tulisan lain. Bagian pertama ada di sini, bagian kedua ada di sini.

___

Saya memasuki kota kecamatan Batur menjelang tengah hari. Sekitar pukul sebelasan.

Batur adalah kota penuh kenangan untuk saya. Inilah kota pertama di pegunungan yang pertama saya kunjungi dan singgahi waktu kecil dulu; kota yang membatu saya “berdamai” dengan imajinasi masa kanak-kanak saya bahwa gunung bukanlah tanah biasa, melainkan tanah berwarna biru yang bisa diiris-iris seperti kue.🙂 Inilah juga ibukota kecamatan yang, kalau tidak salah, membawahi kawasan wisata Dieng.

Jalan berliku-liku dari Wanayasa menuju ke Batur.
Jalan berliku-liku dari Wanayasa menuju ke Batur.

Dulu, waktu saya kecil, kota ini masih sangat sepi. Sekarang, wuihh padat dan ramai sekali.

Di kota ini tinggal keluarga Mbah Syakur. Saya memanggilnya mbah bukan karena beliau kakek saya, namun karena seluruh keluarga ibu saya memanggilnya seperti itu. Keluarga Mbah Syakur tidak punya pertalian saudara dengan keluarga ibu saya, namun keakrabannya sudah seperti saudara sendiri, bahkan mungkin lebih. Itu konon karena Mbah Syakur dan keluarganyalah yang membantu kakek saya di masa Perang Revolusi Kemerdekaan, ketika kakek saya — yang prajurit pejuang — mengungsi ke pegunungan dalam perang gerilya yang dilancarkan oleh para milisi Republik (Tentara Keamanan Rakyat, TKR) terhadap tentara Belanda dan Sekutu yang mencoba menguasai lagi jajahannya di Nusantara, terutama di Pulau Jawa. Kakek saya adalah komandan milisi Hisbullah.

Cerita-cerita dari zaman itu selalu memesona saya. Ibu saya masih balita waktu itu. Beliau mengungsi bersama kakak-kakaknya (bude dan pakde saya) dan ibunya (nenek saya). Di tempat Mbah Syakurlah mereka mendapatkan perlindungan dan makananan sementara kakek saya dan pasukannya berjuang di hutan dan kawasan pedalaman Jawa Tengah.

Saya ingat betul rumah panggung Mbah Syakur yang terbuat dari kayu dan bambu; ingat tungku perapian di dapurnya tempat kami bersideang (menghangatkan diri) sambil membakar ubi dan jagung di tengah udara yang sangat dingin; ingat bau tembakau yang sangat kental di mana-mana karena — waktu itu — Batur adalah sentra produksi tembakau; ingat bau rokok lisong yang dihisap oleh kebanyakan orang di wilayah itu; ingat pancuran di bawah rumpun bambu yang airnya sangat bening tempat saya dan sepupu-sepupu saya bermain-main dengan segala imajinasi kanak-kanak kami.

Begitulah Batur menjadi kota yang kental dengan nostalgia untuk saya. Kini kota itu sudah sangat ramai, bukan desa kecil di puncak gunung yang jauh dari mana-mana seperti waktu saya kecil dulu. Saya pangling. Mobil dan sepeda motor berlalu-lalang di mana-mana. Segala macam toko dan kedai kini ada di sana. Namun ada satu dua hal yang lamat-lamat tak berubah dan berhasil memancing perasaan nostalgik saya: aroma rokok lisong dan orang-orang berselondok sarung — cara khas orang daerah itu untuk melindungi diri dari hawa dingin dengan mengalungkan dan menutupkan sarung di badannya.

Dari Batur, kawasan wisata Dieng tak jauh lagi. Sekitar 12 kilometer. Jarak itu relatif dekat untuk ukuran sekarang dengan banyaknya kendaraan umum yang melayani rute itu. Saya lihat ada bus mini, ELF, angdes (angkutan pedesaan) dan bahkan ojeg sepeda motor (kalau tidak salah). Dulu, waktu saya masih kecil, kami harus berjalan kaki naik turun gunung untuk mencapai objek-objek wisata di Dieng Kulon dan menghentikan mobil apa saja yang kebetulan lewat. Waktu itu ada juga Mitsubishi Colt angkutan pedesaan, namun masih sangat jarang dan selalu penuh sesak. Alternatif lain hanya mobil bak terbuka pengangkut sayuran.

Sebuah desa berselimut kabut tipis yang saya lihat dalam perjalanan dari Batur ke Dieng Kulon.
Sebuah desa berselimut kabut tipis yang saya lihat dalam perjalanan dari Batur ke Dieng Kulon.

Kembali ke masa kini:

Dari Batur, saya memacu sepeda motor saya menuju Dieng Kulon. Tujuan pertama saya kompleks candi Dieng, tempat Festival Budaya Dieng diadakan. Jalanan naik turun dan berliku-liku tajam dengan kebun sayur mayur yang nyaris sejauh mata memandang di kiri kanannya. Kabut mulai turun, dan dingin makin menyengat. Sepeda motor saya meluncur dengan perkasa melewati jalan-jalan itu.

Saya tiba di kompleks candi Dieng tepat pada waktu dzuhur, dan setelah memarkir sepeda motor di tempat yang telah disediakan dan membayar ongkos parkirnya, saya masuk ke keramaian yang sedang berlangsung.

Ternyata tak banyak yang bisa saya nikmati di sana. Jumlah pengunjung yang sangat banyak membuat saya tidak begitu leluasa menikmati dan memotret pertunjukkan-pertunjukkan seni yang sedang berlangsung.  Dan sebagaimana di festival-festival lain yang pernah saya datangi, suasana kumuh tampak di mana-mana: pedagang kakilima segala rupa dan jenis, sampah-sampah plastik bekas makanan dan minuman yang dibuang oleh pengunjung … Inilah salah satu alasan saya tidak terlalu suka menyambangi festival sekarang ini. Satu lagi yang bagi saya teramat mengganggu adalah suara jingle penjual es krim yang bersaut-sautan dan bercampur dengan suara  kendang dan gamelan yang mengiringi tari-tarian yang sedang dipergelarkan. Sangat mengganggu.

Peagang kakilima di Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) 2013.
Peagang kakilima di Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) 2013.

Karena alasan itulah, saya tidak terlalu lama berada di kompleks candi. Saya putuskan mencari masjid untuk shalat dan kemudian melanjutkan perjalanan ke objek-objek wisata lain di sekitar Dieng.

Pedagang balon di Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) 2013
Pedagang balon di Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) 2013
Tari kuda lumping di penutupan Festival Budaya Dieng 2013.
Tari kuda lumping di penutupan Festival Budaya Dieng 2013.

Dalam waktu kurang lebih tiga jam, saya berhasil mengunjungi beberapa objek wisata di sekitar tempat itu: Telaga Merdada, Kawah Sikidang dan Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda.

Kunjungan ke tempat-tempat itu serba sebentar, memang, kecuali di Sumur Jalatunda di mana saya berhenti agak lama dan sempat bercakap-cakap dengan orang setempat yang kebetulan berada di sana, menawarkan batu dan tongkat dari bambu gunung. Bagi saya, kunjungan ke tempat-tempat itu hanya semacam napak tilas nostalgik. Saya lebih menikmati perjalanan di antara tempat-tempat itu, menguji nyali dan ketrampilan saya bersepeda motor, juga keperkasaan mesin sepeda motor sport touring saya.🙂

Telaga Merdada, Dieng. Dulu hutan-hutan di sekeliling danau ini cukup lebat. Sekarang semua sudah berganti menjadi kebur sayur-mayur.
Telaga Merdada, Dieng. Dulu hutan-hutan di sekeliling danau ini cukup lebat. Sekarang semua sudah berganti menjadi kebur sayur-mayur.

Selain alasan itu, saya berhenti agak lama di Sumur Jalatunda juga karena, bagi saya, sumur itu sangat mistis, memiliki daya tarik istimewa sekaligus mengerikan.  Waktu pertama berkunjung ke tempat itu dulu, semasa kecil, saya sangat takut dengan mitos yang diceritakan oleh keluarga Mbah Syakur, bahwa sumur itu suka meminta korban dan siapapun yang tercebur ke dalamnya tak akan tertolong dan akan ditelan olehnya dan menjadi tumbal bagi mahluk-mahluk gaib yang menghuninya.

Secara nalar, cerita itu cukup masuk akal sebenarnya. Sumur yang terbentuk sebagai akibat dari letusan gunung api purba dan kemudian terisi air itu memang sangat besar. Lebarnya konon sekitar 90 meter. Kedalamannya belum pernah diukur,  tapi dari bibir tebing hingga ke permukaan airnya mungkin ada sekitar 100 meter. Tebing terjal yang menjadi dindingnya sendiri, bagi saya, sudah tampak cukup mengerikan (awe-inspiring).

Nama Jalatunda konon diambil dari cerita pewayangan Mahabarata. Dalam salah satu versi mitos itu, sumur itu konon tercipta ketika Bima murka dan menghentakkan kakinya — yang saya bayangkan segede gajah — hingga menciptakan lobang selebar 90 meter yang kini menjadi sumur misterius itu.🙂

Tangga menuju ke sumur Jalatunda.
Tangga menuju ke sumur Jalatunda.
Sumur Jalatunda. Dalam foto ini besarnya ukuran sumur ini tak terlihat karena ada objek pembanding skalanya.
Sumur Jalatunda. Dalam foto ini besarnya ukuran sumur ini tak terlihat karena ada objek pembanding skalanya.

Sumur itu konon juga adalah pintu gerbang ke pusat bumi yang dalam dunia perwayangan dikenal dengan bumi lapis ketujuh (sapta pratala) yang menjadi tempat tinggal para dewa ular. Saya sendiri membayangkannya seperti pintu gerbang yang dilalui oleh  professor Otto Lidenbrock, Axel — keponakannya — dan pemandunya dalam cerita karangan Jules Verne Journey to The Center of The Earth yang saya baca waktu saya masih SD dulu, meskipun, tentu saja setting-nya berbeda. Dalam cerita Jules Verne itu, profesor Otto masuk ke pusat bumi melalui lubang kawah di gunung api Snaefellsjokull di Islandia. Mungkin terowongan di gunung itu tembus juga ke tempat ini. Bukankah bumi bulat?

Satu lagi yang unik tentang sumur ini adalah adanya mitos bahwa kalau seseorang berhasil melemparkan batu dari satu ujungnya ke ujung yang lainnya, konon keinginan orang itu akan terkabulkan. Saya tidak tertarik untuk mencobanya karena keyakinan saya bahwa segala permohonan hanya patut diajukan kepada Allah. Musrik hukumnya kalau hal itu dilakukan. Beberapa pengunjung lain yang kebetulan berada di sana mencobanya, dan tak satupun berhasil.

Jalan dari Sumur Jalatunda kembali ke arah Batur.
Jalan dari Sumur Jalatunda kembali ke arah Batur.

Sekitar pukul setengah lima saya meninggalkan kawasan Dieng kembali ke arah Batur dan Wanayasa.  Namun kali ini saya tidak lurus ke Kalibening, melainkan berbelok ke kiri ke arah Banjarnegara melewati Karangkobar.

Wah, sudah terlalu panjang ya saya bercerita? Mungkin ada baiknya saya hentikan dulu dan disambung di bagian berikutnya, yang tak akan kalah seru.

2 pemikiran pada “Touring ke Jawa Tengah (Bagian Ketiga): Dieng

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s