Saya Multilingual


*Judul tulisan ini diilhami oleh I Robot (Saya Robot), judul film laga fiksi ilmiah keluaran tahun 2004 yang dibintangi oleh Will Smith.

___

Seperti banyak orang Indonesia lain, saya multilingual: Saya bisa mengerti dan berbicara banyak bahasa.

Karena lahir di Jawa (Tengah) dari orangtua yang sehari-hari berbahasa Jawa, dan tumbuh besar di antara orang-orang yang menggunakan bahasa itu, saya berbahasa Jawa sebagai bahasa ibu.

Ketika masuk sekolah dan mulai belajar membaca dan menulis, saya belajar Bahasa Indonesia, bahasa resmi dan bahasa persatuan di negara saya. Bagi saya, Bahasa Indonesia adalah bahasa pengetahuan, bahasa sekolah.

Di sekolah menengah, saya mulai belajar bahasa-bahasa asing: Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Bahasa Arab tak pernah saya kuasai dengan baik. Saya selalu mendapat nilai jelek pada mata pelajaran ini. Penjelasan gurunya selalu membuat saya ngantuk dan pusing. Namun dari praktik membaca Alquran sehari-hari dan meneliti terjemahannya, saya hafal cukup banyak kata dan (mulai) bisa merasakan gerak morfologinya. Berbicara, saya tak mampu. Saya hanya bisa mengerti sebagian yang saya baca ketika saya mendaras Alquran.

Sama dengan Bahasa Arab, pada mulanya saya juga mengalami banyak kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris. Penjelasan gurunya juga sering membuat saya pusing dan bingung, sampai suatu ketika ada lampu yang menyala di atas kepala saya dan *tiing!!!* tiba-tiba saya tergerak untuk belajar sendiri dan memecahkan semua kebingungan saya.

Hanya dalam waktu satu tahun, kemampuan berbahasa Inggris saya melejit. Saya bukan cuma bisa, tapi menjadi yang terbaik; dan sebaliknya, Bahasa Inggris juga menjadi mata pelajaran yang terbaik untuk saya.

Di perguruan tinggi, saya tak cuma mempelajari Bahasa Inggris, yang menjadi major saya, tapi juga belajar Bahasa Sunda — bahasa kakek saya dari pihak ibu — karena saya kuliah di Bandung. Saya juga mengambil Bahasa Perancis sebagai mata kuliah minor. Saya jatuh cinta pada bebunyian bahasa itu: gemulai, seksi.

Bahasa Sunda saya cukup bagus. Bahasa Perancis saya kurang berkembang karena hampir tidak pernah dipakai.

* * *

Sebagaimana orang multilingual lain, saya bisa bolak-balik (loncat-loncat dan jungkir balik juga :D) dari satu bahasa ke bahasa lain, terutama di antara bahasa-bahasa yang saya kuasai dengan baik. Namun saya mencoba sedapat mungkin untuk tidak (terlalu sering) melakukan itu. Bolak-balik, loncat-loncat, dan jungkir-balik di antara nuansa makna kata-kata dalam berbagai bahasa mungkin menyenangkan untuk saya; paling tidak, membuat saya merasa pintar. Tapi untuk orang lain, bisa jadi itu malah membingungkan. Jadi, sedapat mungkin saya hindari.

Kalau saya sedang berbahasa Inggris, saya akan berusaha berbahasa Inggris sebaik-baiknya. Demikian juga ketika saya berbahasa Indonesia. Saya ingin cermat. Kecermatan berbahasa Indonesia saya anggap sebagai salah satu cara saya berbakti pada bangsa, tanahair, dan negara ini, karena Bahasa Indonesia adalah salah satu identitas dan pengikat kita sebagai bangsa. *Duh, yang sok patriotik!*

Menjadi multilingual banyak keuntungannya, tentu saja. Saya bisa berkomunikasi dan memahami lebih banyak orang dari berbagai latar belakang. Namun lebih dari itu, multilingualisme membuat saya (lebih mudah) menguasai lebih banyak konsep. Jika setiap kata adalah wadah bagi sekumpulan konsep, maka semakin banyak kata yang saya kuasai, semakin banyak dan beragam pula konsep yang saya kuasai. Dengan demikian, berpikir dan bernalar menjadi lebih mudah.🙂

 

 

10 pemikiran pada “Saya Multilingual

  1. Multilingual. Salah satu bagian dari materi Sociolinguistics.😀

    Pemahaman lebih dari satu bahasa memang sangat bermanfaat. Apalagi untuk perkara komunikasi yang lebih luas. Dan memang sepertinya, most Indonesian people are actually multilingual. Bahasa ibu, bahasa kedua dan ketiganya banyak.

  2. Emmm…aku masih bingung kenapa film I Robot bisa menginspirasi kamu untuk menulis tentang multilingual. Hihi…

    Orang Indonesia memang kebanyakan multilingual, ya Bang. Dalam satu provinsi saja ada lebih dari satu bahasa daerah. Misalnya aku, menguasai bahasa Jamee (dialek Padang di Aceh) dan bahasa Aceh (meski tidak begitu lancar). Ada pula kawan-kawan yang menguasai hingga 4 bahasa daerah.😀

  3. Orang Indonesia pada umumnya bilingual karena menguasai dengan baik dua bahasa, yakni bahasa daerah sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional. Saat ini, seiring perkembangan tingkat pendidikan penduduk Indonesia dan mobilitas mereka yang tinggi, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang multilinguial, menguasa bahasa Indonesia dan lebih dari satu bahasa daerah atau menguasai bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan satu atau dua bahasa asing. Luar biasa kan orang Indonesia?
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s