Mengamen, Mengemis, Dan Busking


Apa perbedaan mengamen dan mengemis?

Bagi saya, kedua-duanya nyaris tak ada bedanya. Mengamen adalah salah satu ragam atau cara mengemis. Paling tidak, itulah yang saya saksikan dalam kehidupan sehari-hari di negeri kita:

Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa dengan alat musik dan kemapuan bermusik seadanya mencoba mendapatkan belaskasihan dari orang-orang di tempat-tempat umum. Kualitas musik mereka (atau apapun yang mereka pentaskan) seringkali buruk, kalau tidak mau dibilang sangat buruk. Alih-alih menghibur, mereka seringkali justru membuat para pendengarnya risih dan terganggu.

Saya tidak menampik atau mengatakan bahwa semua pengamen adalah pengemis. Ada juga pengamen yang betul-betul pro: musik (atau apapun yang mereka pentaskan) sangat berkualitas dan bisa membuat kita terhibur. Namun yang seperti itu tampaknya jarang. Kebanyakan justru menekankan cara-cara meraih belas kasihannya: pakaian yang kumal, mimik yang memelas, kata-kata (dalam lirik lagu maupun cara memintanya) yang minta dibelaskasihani.

Ini sangat berbeda dengan yang terjadi di sejumlah negara-negara lain di mana mengamen (dalam bahasa Inggrisnya: basking) dianggap sebagai pekerjaan profesional yang dilakoni oleh para pelakunya (Inggris: basker) dengan rasa bangga. Mereka berpakaian bersih dan pantas, betul-betul menguasai musik dan alat musik (atau apapun yang mereka pentaskan), bersuara merdu dan/atau berkemampuan pentas mumpuni, berlatih keras untuk meningkatkan kualitas penampilan mereka, dan tidak menggunakan kata-kata yang meminta dibelaskasihani. Penonton yang terhibur pun tidak memberikan uang atau tips kepada mereka  karena belas kasihan, tapi sebagai penghargaan atas profesionalisme mereka.

Buskers (pengamen) di kota  Melbourne, Australia. SUmber gambar: Wikipedia.org
Buskers (pengamen) di kota Melbourne, Australia. SUmber gambar: Wikipedia.org

Di sejumlah negara, keberadaan mereka pun diatur cukup ketat. Mereka harus memeiliki surat izin (license) untuk menjadi seorang busker. Setahu saya, hal ini berlaku di Inggris, Australia, dan bahkan negara tetangga terdekat kita Singapura. Saya yakin, di negara-negara lainpun, terutama di negara-negara maju,  aturan semacam itupun ada. Di negara-negara yang saya sebutkan tadi, untuk mendapatkan surat izin mengamen (SIM), orang harus mengajukan lamaran kepada pemerintah setempat dan diuji kelayakannya. Di Singapura SIM itu bahkan tidak main-main karena dikeluarkan oleh NAC (National Art Council) atau Dewan Kesenian Nasional Singapura.

Selain kemampuan dan kelayakan, di sejumlah negara para pengamen pun diatur dalam hal kapan dan di mana mereka bisa pentas, termasuk dalam hal penggunaan pengeras suara, agar kegiatan mereka tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum.

Dengan pengaturan seperti itu, pengamen menjadi profesi yang bermuruah (memiliki kehormatan dan harga diri) dan tak mengganggu kenyamanan dan ketertiban masyarakat seperti yang sering terjadi di sini.

4 pemikiran pada “Mengamen, Mengemis, Dan Busking

  1. Pengamen yg menggangu itu yg ada di kendaraan umum. So annoying..

    Coba kalau di beri tempat yg layak di pinggir jalan yg nyaman dan menyanyi dengan hati, pasti banyak yg terkesima. Sayangnya di Indonesia, segalanya cara instan untuk cari duit.

    Kalau pengemis, janganlah dibahas itu mah buruk. Ga ada bagus2nya, apalagi yg sambil ancam. Butuh ketegasan luar biasa dari Pemerintah dan masyarakat utk menghentikannya.

  2. What we have today in Indonesia, is actually a matter of our mental problem.😀

    Karena memang masih banyak yang mencari jalan termudah atau jalan pintas untuk mendapatkan uang. Mengemis bisa terbilang cara paling mudah mendapatkan itu.

    Orang Indonesia terkenal ‘dermawan’ ya Mr. :p
    Itu pula yang kemudian ‘melanggengkan’ praktek pengemis dan pengamen di jalanan. Padahal dengan terlalu ‘dermawan’ seperti itu, kemungkinan populasi pengemis/pengamen mengecil itu malah saya rasa akan sedikit sulit.😀

  3. nice post Pak Eki..
    Saya sependapat soal basker Singapore, soalnya terakhir saya ke Singapore dan mengunjungi Clarke Quay Riverside, kebetulan sedang ada keramaian (karena waktu itu malam minggu), disana gak cuma basker, tapi juga pementas akrobat (akrobatiknya cewek, dari Ukraine), magician, dsb ‘mentas’ di pinggiran sungai Clarke Quay. Mereka tampil dengan teratur, ada durasi pentasnya, dan tidak memaksa pedestrian untuk menonton.

    Dan jujur saja, saya waktu itu berpikir, “kok beda banget ya sama di negara kita”. Apa mungkin penataannya ya? Di Indonesia kebanyakan pengamen seolah-olah ‘memaksa’ orang untuk “mendengar & membayar (bentuk apresiasi utk mereka). Kalo gak dikasih malah ada juga yang suka ngomel. :p

    Tapi jujur saja, banyak juga Pak pengamen yang punya skill bagus.. Seperti pemain biola, waktu itu pernah lihat di sekitar Setiabudhi bawah (Bandung), Suaranya enak, main biolanya juga gak asal. Rasanya kasihan kalau dia cuma jadi pengamen biasa.🙂

    anyway, busking atau basking ya Pak?

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s