Bukber dan Berkah Ramadan


Di antara sekian banyak tradisi Ramadan dalam masyarakat kita, acara berbuka bersama (bukber) boleh jadi salah satu yang paling menarik dan ditunggu-tunggu. Kita masyarakat guyub, bukber adalah salah satu wujud praktik keguyuban itu. Dalam dan lewat bukber, kita mengeratkan tali silaturahmi dan komitmen kita pada pentingnya kebersamaan.

Ramadan tahun ini, hingga hari ini, saya sudah enam kali bukber. Tiga kali dengan teman-teman sekantor, tiga kali dengan teman-teman komunitas fotografi, blog, dan penerjemah karena kebetulan saya menghadiri acara yang mereka adakan. Jumlah ini barangkali tidak terlalu banyak, meskipun tidak bisa juga dibilang terlalu sedikit. Sebenarnya di luar itu setidaknya ada dua acara bukber lagi yang direncanakan, tapi tidak jadi karena tempat-tempat yang dituju terpesan penuh (fully-booked) pada jadwal yang kami inginkan.

Memang bukber tidak harus diadakan di restoran, hotel, mal, atau tempat-tempat makan komersil lain. Bukber di rumah dengan hidangan yang dimasak sendiri bisa jadi justru lebih nikmat dan khidmat. Namun begitulah, nampaknya bukber di luar dan di tempat-tempat yang istimewa sudah menjadi kecenderungan manusia-manusia urban masa kini. Seolah-olah ada aturan tak tertulis bahwa di bulan Ramadan, segala hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman haruslah istimewa — dalam jenis, jumlah, maupun tempatnya.

Hasrat terhadap semua yang istimewa itu tentu bertentangan dengan esensi Ramadan sendiri yang mengajarkan pengendalian diri, hidup sederhana, dan berempati dengan penderitaan kaum papa. Begitulah manusia: orang yang taraf hidupnya sudah tinggi, sulit diajak turun lagi, apalagi bersusah-susah, meskipun hanya untuk sementara.

Beberapa waktu yang lalu kami kemaghriban di jalan dan memutuskan untuk mampir di sebuah restoran terdekat langganan kami. Tempat parkir sudah penuh, bahkan hingga ke jalan-jalan di sekitarnya. Untunglah kami dapat menemukan tempat parkir yang tak terlalu jauh. Di pintu, pelayan dengan ramahnya bertanya, “Sudah pesan tempat, Pak?” Saya menjawab belum. Masih dengan senyum ramah yang sama — meskipun saat itu terasa seperti seringai di mata saya — dia mengatakan tempat itu sudah penuh terpesan. Kami terpaksa pergi, kesal, dan hanya berbuka dengan minuman yang kami bawa.

Kejadian itu berulang sekali lagi ketika saya dan seorang teman lama saya mendadak bertemu dan bersepakat untuk bukber. Kami berhenti di sebuah restoran dan, rasanya tak perlu ditanya lagi, bernasib sama. Kami kemudian berputar-putar dengan hasil yang sama nihilnya sebelum akhirnya memutuskan untuk makan di warung tenda pinggir jalan. Makanannya memang tidak istimewa seperti yang kami harapkan, karena dulu waktu masih mahasiswa kami sehari-hari sering makan di tempat seperti itu. Namun kesempatan bukber tak terencana itu tetap istimewa karena justru dengan makan di tempat seperti itu, nostalgia kami bangkit sempurna.

Ramadan memang penuh berkah, kata yang kita Indonesiakan dari kata Arab barakah, yang konon sebenarnya artinya adalah kebaikan yang banyak dan tetap, seperti air yang ada di sebuah telaga. Bagimananpun cara kita mengambil air itu, keberkahan itu selalu ada di sana. Ia adalah anugerah Tuhan Yang Mahasayang.

2 pemikiran pada “Bukber dan Berkah Ramadan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s