Mudik Idul Fitri 1434 Hijriyah


Saya tiba di kampung halaman Selasa siang (6 Agustus 2013) setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam, termasuk di dalamnya istirahat empat kali yang totalnya mungkin sekitar 2 jam. Perjalanan yang amat sangat normal dan lancar untuk ukuran H-2 lebaran, bahkan untuk hari-hari biasa sekalipun. Barangkali masa libur yang lebih panjang membuat pemudik terdistribusi lebih merata dalam hari dan tidak tertumpuk pada hari-hari menjelang hari H saja. Faktor-faktor lain mungkin ada pengarunya juga.

Malam pertama di kampung halaman saya habiskan dengan bercengkerama dengan keluarga, dan lewat tengah malam mendampingi Ibu ber’itikaf di masjid Attaqwa dekat rumah hingga menjelang waktu sahur.

Masjid masih penuh dengan orang-orang yang khusuk ber’itikaf di malam terakhir Ramadan 1434 H ini. Sungguh membahagiakan melihat Tuhan masih dekat di hati banyak orang di kampung kami. Tuhan tidak (belum?) tergusur oleh gelombang materialisme dan liberalisme yang melanda dan menguasa.

Hari ini saya banyak tidur dan mengurung diri di dalam kamar. Cuaca terik dan lebab khas daerah pesisir membuat saya merasa lelah, lebih lelah dari yang seharusnya.

Lewat tengah hari saya mengamati dan berbual dengan Ibu mempersiapkan hidangan hari raya untuk anak-anak, cucu-cucu, dan mantu-mantu yang sudah mulai berkumpul dan, insyaallah, akan lengkap berkumpul esok hari.

Ibu merebus dua panci besar ketupat. Saya tidak tahu persis berapa jumlahnya. Lima jam tanpa henti, di halaman belakang rumah kami yang luas. Satu tabung gas 3,5 kg per kompor yang dipakai. Sambil menunggu ketupat masak, ibu juga mengolah ayam, lodeh, dan sambal goreng udang.

Empat ekor ayam kampung telah dipotong. Sekuali sambal goreng udang dan sepanci besar lodeh terong dimasaknya — hidangan khas hari raya di kampung kami.

Dulu, semasa nenek masih ada, kami memasak ketupat dengan tungku kayu bakar di halaman yang sama. Tradisi itu masih berlanjut bahkan ketika kami sudah menggunakan kompor minyak tanah. Ketika nenek sudah tiada, barulah kami menggunakan kompor minyak dan sekarang kompor gas untuk merebus ketupat.

Konon, aroma masakan yang dimasak dengan menggunakan kayu bakar memang lebih gurih daripada makanan diolah di atas api jenis lain. Saya kira ada benarnya. Mungkin karena itu juga nenek moyang kita memiliki dan menghidupkan tradisi seperti itu — memasak dengan kayu bakar, terutama untuk hidangan-hidangan istimewa di hari raya atau perayaan-perayaan lain.

Satu pemikiran pada “Mudik Idul Fitri 1434 Hijriyah

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s