Catatan Lebaran 1434 H


Kamis, 1 Syawal 1434 H (8 Agustus 2013)
Tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya, hari ini kami shalat Id di Pondok Pesantren Muhammadiyah Miftahul Ulum di Ambokembang. Biasanya kami shalat Id di lapangan PSHW (Persatuan Sepakbola Hisbul Wathan) di Pekajangan, yang lebih dekat dari rumah.

Saya kurang puas dengan pelaksanaan shalat Id tadi pagi. Lagu takbir pemimpin takbirnya fales, kurang syahdu;  bacaan Quran imamnya kurang pas, khutbahnya kurang menarik. Saya tidak tahu kenapa panitia tidak memilih qori yang lebih baik untuk memimpin takbir dan menjadi imam, dan khatib yang lebih baik untuk memberikan khutbah.

image

Selesai shalat, kami berziarah ke makam Bapak, mendoakan dan mengenang beliau, dan membersihkan makam. Bapak meninggal lebih dari enam tahun yang lalu. Tanah makamnya sudah rata dengan tanah dan nyaris tak dapat dibedakan dengan makam-makam lain yang berjejalan di sekitarnya. Hanya batu nisannya saja yang terbuat dari batu putih yang membuat kami bisa menemukannya dengan cepat meskipun cat yang menuliskan namanya nyaris pudar tergerus air dan tanah.

Selesai sungkeman dan sarapan besar hari raya, saya, sebagai anak lelaki tertua, tinggal di rumah menenemani Ibu menerima tetamu sementara yang lain bersilaturahmi ke sanak saudara.

Ibu sudah dianggap tetua di keluarga besar kami karena nenek dan kakek — dari pihak ayah maupun ibu — sudah tak ada, dan karena kakak-kakak tertua dari keluarga mereka juga sudah wafat.

Menuruti tradisi yang muda berkunjung kepada yang lebih tua atau dituakan, keponakan-keponakan mereka (sepupu-sepupu saya) berkunjung kepada Ibu. Itulah sebabnya Ibu tak bisa kemana-mana hari ini. Baru mulai besok Ibu akan sowan kepada kakak-kakaknya dan kerabat-kerabat lain yang dituakan.

Seperti pada banyak keluarga Indonesia lain, Idul Fitri adalah hari yang istimewa dalam masyarakat kami. Semua orang hampir tanpa kecuali berusaha tampil dengan ‘wajah’ dan ‘pakaian’ terbaik mereka. Ini bukan cuma soal tampil segar atau pakaian baru/terbaik yang sudah menjadi tradisi, tapi juga soal menutupi atau melupakan (kalaupun hanya untuk sementara) segala perbedaan, perselisihan, atau apapun yang bisa menjadi aib dan sumber ketidakharmonisan antarkeluarga dan dalam masyarakat. Orang Jawa terutama sangat pandai dalam hal yang satu ini. Rukun adalah salah satu pondasi terpenting dalam masyarakat Jawa.

Maka jangan heran kalau hari ini semua tampak baik-baik saja, rukun dan harmonis. Idul Fitri tak cuma memberikan kesempatan kepada kami untuk saling memaafkan segala silaf dan memoles kembali retak-retak yang terjadi dalam hubungan sosial kami, tapi juga memberikan panggung yang memungkinkan kami untuk berolah aksi dan ekspresi yang meneguhkan gagasan bahwa masyarakat kami adalah masyarakat rukun dan harmonis yang nyaris mulus tanpa friksi dan perselisihan.

Tentu saja, pada kenyataannya perselisihan, aib, dan ketakharmonisan tetaplah ada. Tapi itu semua tersembunyi atau sengaja disembunyikan, terutama pada hari ini, persis seperti baju-baju baru/terbaik menutupi tubuh dan keadaan sesungguhnya dari sang pemilik tubuh.

Satu pemikiran pada “Catatan Lebaran 1434 H

  1. hahahaa… emang ada ya takbiran yg fales. walau gak puas, dinikmati aja. hehe. inilah hikmah lebaranan, mesti pinter2 menyembunyikan sesuatu pantas untuk disembunyikan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s