Wajah Waktu


Wajah waktu hanya bisa kau amati dari tempat-tempat perhentianmu sendiri. Karena saat kau bergerak, ia bergerak bersamamu (dan kau bergerak bersamanya). Kau tak kan mampu merasakan kehadirannya, apatah lagi melihatnya. Kau lebur di dalamnya (dan ia lebur dalam dirimu).

Begitulah. Ia hanya dapat kau ‘lihat’ saat kau berhenti dan mengamati dirimu sendiri. Saat itulah akan kau lihat garis-garisnya yang samar-samar telah menjamahmu. Ada warna yang berubah — hitam menjadi putih; teksturnya — dari halus menjadi kasar; wujudnya — yang tak ada menjadi ada, dan yang ada menjadi tiada. … Saat itulah kau melihat sebagian dari wajahnya, dan kau berhadap-hadapan dengannya, dengan dirimu sendiri yang lebur di dalamnya (dan ia yang lebur di dalam dirimu).

Dan aku telah melihat wajahnya hari ini dalam perhentian kecil yang mencoba memutar kembali ingatan akan masa lalu.

Terima kasih, kawan-kawan. Perhentian sejenak siang tadi bersama kalian telah menghadirkan wajah waktu di hadapanku. Sejenak saja. Tapi darinya aku tahu, aku telah bergerak, kalian telah bergerak, dan kita telah digerakkan, dan aku (dan kalian) sedang menuju ke sana: ke perhentian abadi, di mana waktu tak kan lagi menjamahku (dan kalian). Namun entah berapa perhentian lagi sebelum itu.

—————————
Catatan reuni terbatas dengan teman-teman SMP siang tadi.

Satu pemikiran pada “Wajah Waktu

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s