Adakah Berita Yang Objektif?


Oleh: Eki Akhwan

Dulu saya percaya bahwa berita yang objektif itu ada.

Tentu saja saya naif. Pada kenyataannya, tak pernah ada berita yang objektif. Hanya anak kecil atau orang awam saja bersangka seperti itu.

Berita apapun, dari sumber manapun, tak pernah objektif. Setiap berita — sesuatu yang diceritakan atau disampaikan oleh seseorang atau sesuatu pihak kepada orang atau pihak lain — selalu mengandung sudut pandang dan ideologi atau kepentingan si pembawa berita.

Perlu diingat, tak objektif bukan berarti tak benar atau sepenuhnya bohong. Objektif adalah kata sifat dari objek (dalam hal ini: orang, benda, hal, peristiwa yang dilaporkan/diberitakan). Objek berita bisa jadi sama. Namun cara melihat atau sudut pandang orang yang melihat objek itu, dan kemudian melaporkannya, bisa membuatnya tampil berbeda.

Kita mungkin pernah mendengar atau membaca cerita tentang orang-orang tunanetra yang mencoba ‘melihat’ dan mendefinisikan gajah dan bagaimana mereka akhirnya melaporkan apa yang mereka ‘lihat’. Gajah yang sama terdefinisikan berbeda-beda oleh para tunanetra itu. Karena perbedaan yang sangat tajam itulah akhirnya mereka saling menyalahkan dan bertengkar.

Seperti itulah berita.

Pers sebagai suatu institusi tentu saja telah berusaha merumuskan dan menyepakati aturan-aturan untuk menjamin bahwa berita yang mereka sampaikan utuh, berimbang, benar, dan dapat diverifikasi. Jika ada dua pihak yang sedang berkasus, misalnya, pers harus memastikan bahwa mereka mendengarkan versi kasus itu dari kedua-dua belah pihak. Mereka juga wajib melacak dan mencek kebenaran fakta-fakta yang akan mereka gunakan untuk laporan atau berita mereka. Dengan cara itu, kredibilitas mereka sebagai lembaga penyampai berita bisa dipertahankan di mata publiknya.

Namun itu saja ternyata tak cukup. Kepentingan-kepentingan yang berada di dalam dan di luar tubuhnya sendiri tetap bisa dan akan terus bermain menciptakan bias.

Di era pers kapitalis seperti sekarang, kepentingan modal dan pemilik modal dapat menciptakan bias yang tak dapat dianggap enteng. Redaksi bisa saja taat azas dalam mengumpulkan dan menyampaikan berita. Namun sebagai bagian dari lembaga pencari laba, mereka tak mungkin lepas dari tekanan kepentingan pemilik modal. Berita yang mungkin akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan badan usaha pers — misalnya karena menyinggung atau mengganggu kepentingan pemasang iklan (yang notabene adalah pemilik modal besar atau kapitalis juga) yang menjadi sumber pendapatan penting bagi mereka — tentu akan dipinggirkan; paling tidak, akan dikurangi signigikansinya dan disunting sedemikian rupa, sehingga meskipun tetap diberitakan, kepekatan esensinya telah diencerkan, meskipun mereka sadar bahwa hal itu bertentangan dengan kepentingan publik.

Sumber bias lain berita adalah ideologi. Lembaga-lembaga penerbitan dan penyiaran pers bukanlah menara gading yang beroperasi dari langit ketujuh. Mereka lahir dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Masyarakat, sebagai padanan kata publik, tidaklah tunggal. Ia terdiri dari berbagai-bagai kepentingan. Ideologi salah satunya.

Lembaga yang dibina oleh elemen masyarakat berideologi kiri tentu akan mengedepankan berita-berita dan fakta-fakta yang menyokong dan menguntungkan kepentingan mereka, dan sebaliknya, yang berhaluan kanan pun demikian.

Dalam masyarakat cerdas dan terdidik yang terbiasa berpikir kritis, hal-hal di atas mungkin tak terlalu menjadi ancaman. Mereka tak akan begitu saja memercayai suatu berita dari suatu sumber tanpa mempertanyakan siapa atau kepentingan apa yang berada di balik berita itu. Mereka tidak taklid buta atau membabibuta mengikuti apa yang mereka dengar atau baca. Namun dalam masyarakat yang terlalu awam dan naif — yang suka membebek dan tak terbiasa berpikir kritis — hal-hal di atas bisa menjadi sumber masalah serius:

Bayangkan, sebuah berita yang mengabarkan bahwa si anu atau sekelompok anu telah dizalimi oleh si anu atau sekelompok anu. Orang-orang yang merasa sekelompok dengan kelompok yang terzalimi tentu akan tersulut emosinya. Akibatnya, mereka bisa menjadi beringas, bahkan mungkin bertindak membabibuta. Orang-orang yang taklid pada suatu sumber berita dan tak terbiasa berpikir kritis merasa bahwa apa yang mereka dengar atau baca adalah kebenaran seutuhnya dan tidak menyadari akan bias berita yang mereka konsumsi, bahkan kompleksitas situasi yang tengah berlangsung.

Risiko seperti itu kini menjadi lebih parah lagi karena di era Internet dan media sosial dewasa ini, sumber berita tak lagi cuma dikuasai oleh lembaga pers resmi yang, meskipun tidak sepenuhnya objektif, paling tidak masih memiliki dan mengikuti seperangkat azas yang telah disepakati; kini siapapun dapat menjadi sumber berita. Dan karena mereka tak terikat oleh azas-azas pemberitaan yang menjadi panduan kerja lembaga pers, mereka bisa dengan serta-merta berpropaganda demi kepentingan mereka atau golongan mereka sendiri. Sebagaimana sifat propaganda pada umumnya, berita yang mereka sebarkan seringkali tak utuh, tak berimbang, dan fakta-fakta yang mereka munculkan tak (dapat) diverifikasi.

Hal ini sungguh sangat mengkhawatirkan saya. Sudah saatnya pendidikan kita merespon situasi ini. Sudah bukan zamannya kita menjejalkan informasi saja kepada anak didik. Teknologi telah membuat informasi dan akses terhadap informasi sedemikian mudah, murah, dan transparan. Murid yang melek teknologi informasi bisa jadi jauh lebih pintar (baca: menguasai lebih banyak informasi) daripada gurunya. Yang perlu kita tekankan dalam pendidikan anak-anak kita sekarang adalah bagaimana mereka bisa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka, agar mereka tak dengan mudah terombang-ambing oleh propaganda dan disulut emosi dan sentimennya mengikuti kehendak kepentingan-kepentingan tertentu secara membabibuta.

_______________
Eki Akhwan, 16 Agustus 2013

4 pemikiran pada “Adakah Berita Yang Objektif?

  1. ulasan yg menarik, pak. apalagi ketika berbicara HAM dan agama tertentu. terlihat berita sangat subyektif dari wartawan dan redaksi. misal, contoh kasus, muslim mesir yg pro mursi, di stasiun berita mainstream memberitakan mereka sebagai teroris, orang yg pertama menyerang. tapi ketika berbicara kepentingan barat, sudut pemberitaan malah memberi kesan mendukung barat dan diberitakan sebagai sisi yg terzolimi. kasus ini bisa dilihat di pemberitaan perempuan muslim pakistan malala yousafzai.
    padahal ini berita mengenai muslim, tapi karena ada kepentingan lain di belakangnya, sudut berita disampaikan berbeda. parahnya, berita seringkali men-judge sumber berita.
    jadi inget kasus watergate 1972 di amerika. dua wartawan yg mengungkap skandal politik saat itu. kasus itu terungkap tentu karena ada yg berkepentingan terhadap wartawan tsb, entah dari sisi posistif atau dari negatif-nya. yg jelas, jurnalis tsb dianggap sebagai posisi yg berjasa.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s