Catatan di Polandia #01


Kalau saya tinggal sehari lagi di sini, mungkin saya akan sakit. Badan sudah menunjukkan tanda-tanda pemberontakannya sejak kemarin: suhunya agak memanas, otot-otot terasa agak nyeri, kepala berat, perut tidak enak, kentut dan bersin-bersin.

Cuaca di luar memang sangat dingin untuk ukuran saya yang terbiasa tinggal di daerah tropis, sekalipun di daerah pegunungan seperti Bandung. Kemarin suhunya 8 derajat Celcius di siang hari. Malam harinya konon mendekati nol derajat. Hari ini cuaca lebih baik: 11 derajat di siang hari; 2 derajat malam ini.

Namun saya menduga, bukan cuaca yang sangat dingin yang membuat tubuh saya menegur saya. Suhu sedingin itu bukan barang baru untuk tubuh saya. Pangalengan, Ciwidey, Bromo di malam hari bisa sedingin itu. Musim gugur, bahkan musim dingin bersalju tebal — yang jauh lebih dingin dari itu — pun sudah pernah saya alami beberapa kali. Ini bukan musim gugur pertama saya, dan nanti — jika salju mulai turun — itupun bukan musim dingin pertama saya.

Hotel tempat kami menginap selama dua hari pertama di Warsawa.
Hotel tempat kami menginap selama dua hari pertama di Warsawa.

Dari kemarin saya tinggal di hotel. Hotel ‘murah’ saja atau budget hotel. 

Adjektiva ‘murah’ sebenarnya tak menjadi masalah, dan bukan penyebab tubuh saya memberontak. Fasilitas dan kebersihan hotel ini baik dan layak, meskipun minimalis. Mereka bahkan memberikan sarapan yang cukup berkualitas.

Hal yang membuat tubuh saya memberi aba-aba tentang ketidaksukaannya adalah karena di sini, di tempat yang dingin ini, ia tak diberi makan secara teratur dan cukup. Hari ini, ia hanya menerima asupan dari sarapan yang disediakan di hotel. Selebihnya, nyaris tak ada lagi makanan yang masuk, kecuali sepotong donat yang saya beli di dekat hotel sore tadi.

Tubuh saya rupanya tidak suka diperlakukan seperti itu, karena hari-hari ini dia harus bekerja keras.

Kami baru tiba di Warsawa, Polandia, kemarin pagi (sore waktu Indonesia barat). Dan hari ini saya tidak bisa makan bukan karena saya tidak punya uang, namun karena saya tidak tahu di mana saya bisa membeli makanan yang layak. Di sekitar hotel tampaknya tak ada restoran, hanya toko kelontong kecil — tempat kami membeli donat dan sebotol air tadi sore — dan toko minuman keras.  Selain itu kami tidak ada kendaraan untuk pergi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Kami sudah membeli kartu Metro yang bisa dipakai untuk menjelajah kota ini dengan subway, tram, dan bus. Kami bahkan sudah mencobanya untuk melakukan penelusuran jalur-jalur yang dapat kami lalui ke tempat kerja. Tapi cuma itulah yang saya tahu. Saya tidak tahu di mana ada restoran yang layak dan cukup terjangkau, dan bagaimana cara mencapainya.

Bahasa pun sampai saat ini masih menjadi kendala. Tidak semua orang bisa berbahasa Inggris di sini; apalagi berbahasa Indonesia. Di toko kelontong sore tadi, kami terpaksa menggunakan ‘bahasa Tarzan’ untuk bertransaksi.

Kemarin, hari pertama kami di sini, bahkan hingga tadi pagi, kami masih diantar-jemput, dan siang harinya dijamu makan siang oleh staf KBRI yang sangat ramah dan baik hati. Tapi mereka juga orang-orang yang sibuk dengan tugas-tugas yang sangat banyak. Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan keramahtamahan mereka.

Hari ini, kami semestinya sudah bisa dilepas dan mandiri. Sayangnya, hal itu masih belum dapat sepenuhnya dilakukan karena kami belum punya tempat tinggal tetap, nomor telepon lokal, dan lain-lain keperluan dasar yang diperlukan oleh orang yang baru tiba di tempat baru.

Satu pemikiran pada “Catatan di Polandia #01

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s