Catatan di Polandia #2


Ahad, 6 Oktober 2013
Hari kelima di Warsawa.

Kami baru saja pulang dari pinggiran kota Warsawa (?) –- saya beri tanda tanya karena saya tidak tahu betul apakah itu di pinggir kota atau masih di dalam kota; saya hanya merasa tempat itu cukup jauh dari tempat tinggal kami, dan saya tidak bisa mengingat namanya – untuk menghadiri selamatan pindah rumah Ibu Roos, Konselor Bidang Sosial Budaya di KBRI Warsawa.

Mencoba berbincang dengan MA (Mahasiswa Abadi) di kampus Universitas Warsawa, tempat saya akan mengajar selama satu semester ini. Si MA ini tentu tidak bisa bercakap-cakap, karena dia hanya patung.
Mencoba berbincang dengan MA (Mahasiswa Abadi) di kampus Universitas Warsawa, tempat saya akan mengajar selama satu semester ini. Si MA ini tentu tidak bisa bercakap-cakap, karena dia hanya patung.

Acara kumpul-kumpul seperti itu selalu menarik bagi ekspatriat seperti kami – atau ekspatriat manapun, saya kira – karena dalam acara-acara seperti itulah kami bisa merasakan suasana tanah air, meskipun hanya sebentar: orang-orangnya, obrolannya, dan, tentu saja, makanannya.

Ini acara selamatan kedua yang kami hadiri dalam lima hari sejak kedatangan kami di Warsawa. Acara pertama kami hadiri tadi malam, di Wisma Duta, kediaman resmi Duta Besar RI di Polandia, karena Bapak Duta Besar dan istri serta seorang stafnya akan berangkat naik haji Selasa lusa.

Ketika kita berada di tanah air sendiri, makanan-makanan khas Indonesia bukanlah sesuatu yang istimewa. Kita bisa menikmatinya kapan saja, memasak atau membelinya. Di tempat yang jauhnya ribuan kilometer ini,  yang alam dan budayanya sangat berbeda, makanan seperti lupis ketan, bala-bala, onde-onde, sambal, timlo, sate, atau lodeh daun singkong terasa sangat istimewa, karena sebagian bahan-bahannya tak mudah diperoleh di sini. (Populasi orang Indonesia di Polandia memang tergolong sangat kecil dibandingkan dengan di negara-negara tetangga seperti Jerman atau Belanda, di mana bahan-bahan makanan khas Indonesia atau Asia lebih mudah diperoleh.)

Makanan-makanan seperti itu menjadi terasa lebih nikmat lagi karena dinikmati di rumah orang Indonesia (yang dekor dan pernik-perniknya bernuansa Indonesia), di antara orang-orang Indonesia, dan dalam acara yang secara kultural berwarna Indonesia.

Ini bukan kali pertama saya menghadiri acara kumpul-kumpul seperti itu sebagai ekspatriat. Waktu studi di Amerika dulu, saya cukup sering menghadirinya, terutama di bulan puasa. Di manapun suasanya sama: dalam ruang dan waktu yang terbatas, kami berusaha menghadirkan dan kembali merasakan tanah air yang jauh di mata.

Seolah memantulkan suasana hati kami yang gembira dan hangat penuh kekeluargaan,  cuaca hari ini pun cerah dan hangat. Matahari bersinar cerah sejak pagi; suhu udara pun bergerak ke angka belasan. Enam belas derajat Celcius, menurut Google – cukup hangat untuk ukuran musim gugur di garis lintang ini. Padahal tiga hari pertama kami di sini, suhunya sudah berada di angka satuan (single digit) bahkan sempat menyentuh angka nol di malam hari. Pada saat kami tiba hari Selasa siang, suhunya hanya 8 derajat. Hari berikutnya juga tak jauh dari itu di siang hari, dan mencapai titik nol di malam harinya. Saya ingat, pagi hari ketiga, ketika saya mencoba berjalan-jalan di sekitar hotel, embun pun membeku di atas rerumputan dan bangku-bangku taman.

Embun yang membeku di bangku taman.
Embun yang membeku di bangku taman.

Seperti saya ceritakan sebelumnya, dua hari pertama kami terpaksa tinggal di hotel karena belum mendapatkan pemondokan (apartment). Selama itu kami dibantu dan diantar oleh Pak Dawid dan Pak Wawan dari KBRI untuk melihat-lihat beberapa calon tempat pemondokan, membeli dan membuat kartu Metro (yang bisa dipakai untuk trem, bus kota, dan kereta bawah tanah), dan menjajal sistem transportasi massal dari dan ke tempat-tempat yang nanti akan menjadi rute kami dari dan ke tempat kerja. Kami baru mendapatkan dan pindah ke apartmen Jumat sore dengan diantar oleh Pak Syafruddin, staf lain KBRI, karena kebetulan Pak Wawan sedang sibuk mendampingi delegasi RI yang sedang berkonferensi lingkungan hidup di kota ini dan Pak Dawid sedang mengadakan acara pergelaran musik dan tari Indonesia di kota Katowicea.

Sore itu juga, setelah membayar pemondokan dan menyimpan barang-barang bawaan kami, kami diantar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di TESCO, hypermaket yang letaknya ternyata tak begitu jauh dari pemondokan, hanya sekitar 5 sampai 10 menit berjalan kaki lewat jalan setapak pintas di depan kompleks perumahan.

Di TESCO kami membeli beras (kebutuhan wajib!), telur, ikan asap (yang kami tahu pasti halal), garam, gula, minyak goreng, saus cabe (yang ternyata tak terasa sedikitpun pedasnya), sayur mayur, buah-buahan, kartu telepon seluler dan kartu internet prabayar untuk tablet saya. Dengan itu, kami mulai kehidupan kami di sini.

Catatan:

Kecuali bahan makanan mentah, yang saya tahu tak boleh dibawa masuk ke negera ini, saya sudah membawa sebagian keperluan sehari-hari dari tanah air, seperti sabun mandi, odol, sabun cuci, dan beberapa bumbu instan masakan nusantara agar sewaktu-waktu kami rindu pada citarasa tanah air, kami bisa memasaknya. Saya bahkan membawa alat penanak nasi karena saya diberitahu bahwa alat itu jarang ada di sini dan, kalaupun ada, cukup mahal. Karena hal itu, hari itu belanjaan kami tidak banyak dan kami bisa menghemat persediaan uang kas kami yang memang terbatas.

Suasana jalan di depan kampus Universitas Warsawa di Krakowski Przedmiescie. Kawasan ini sangat bersejarah dan sering dipakai untuk pengambilan gambar film-film bersetting Warsawa pada masa Perang Dunia Kedua, seperti The Pianist.
Suasana jalan di depan kampus Universitas Warsawa di Krakowski Przedmiescie. Kawasan ini sangat bersejarah dan sering dipakai untuk pengambilan gambar film-film bersetting Warsawa pada masa Perang Dunia Kedua, seperti The Pianist.

6 pemikiran pada “Catatan di Polandia #2

  1. so refreshing to read your report…. dulu saya suka pengen tahu Krakow kayak gimana karena banyak holocaust-related strories yang menyebut kota itu. Di Polandia “kan ya..ada monumen kejahatan perang Jerman ga, Pa Eki?

    1. Thanks atas komentarnya, Bu Saf. Kata staf KBRI yang berkebangsaan Polandia, banyak. Nanti kalau sudah ada waktu, insyaallah saya akan ke Krakow dan lain-lain.

      Bagaimana kabar di kubikel kita?

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s