Catatan di Polandia #3


Jumat, 11 Oktober 2013

Hari kesepuluh di Warsawa

Tak tersasa sudah sepuluh hari saya di Warsawa.

Lima hari terakhir cuaca di sini cukup bersahabat. Tidak seperti lima hari pertama, hari-hari ini suhu berkisar di angka belasan. Kelembaban juga meningkat. Hari ini saya lihat angkanya di atas 30 persen. Masih lebih kering dibandingkan dengan di tanah air, tapi cukup lembab sehingga masalah kulit dan bibir kering dan pecah-pecah tak begitu terasa lagi. (Saya masih memakai cukup banyak pelembab kulit setelah mandi dan sesekali mengoleskan pelembab bibir sesekali sekedar untuk berjaga-jaga agar kulit tidak gatal-gatal dan bibir tak pecah-pecah lagi.)

Dulu, waktu pertama belajar Bahasa Inggris, saya sering tidak mengerti kenapa cuaca bisa menjadi topik basa-basi pembuka percakapan. Tapi begitulah, seiring dengan semakin banyaknya pengalaman saya berkunjung dan tinggal di negara-negara beriklim empat, semakin saya tahu betapa pentingnya cuaca untuk mereka. Cuaca sering berubah-ubah. Pagi hari yang cerah dan hangat tak menjamin bahwa siang atau sore harinya juga akan cerah dan hangat. Cuaca dapat berubah secara drastis hanya dalam hitungan jam.

Sepuluh hari tentu waktu yang masih terlalu pendek untuk mengenal apalagi berkomentar tentang suatu tempat dan masyarakatnya. Menurut teori pemahaman lintasbudaya, ini masa bulan madu di mana semua terasa indah dan menakjubkan. Dan itu juga yang saya rasakan. Perasaan senang masih menguasai diri saya, dan apa yang saya lihat dan alami di sini masih terasa indah.

Saya suka musim gugur: kesejukan udaranya, warna-warninya, aromanya – yang tak dijumpai di tanah air. Setiap hari, dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja, suasana musim gugur itulah yang menjadi salah satu pusat perhatian saya: dedaunan warna-warni yang luruh dan berserakan di atas rumput, warna daun-daun di pepohonan yang semakin menguning. Beberapa pohon maple di dekat rumah dan kantor yang waktu kami datang masih menyisakan warna hijau di dedaunannya, kini tampak hampir seluruhnya menguning. Saya suka tersenyum sendiri mengamatinya, dan dalam hati berunjuk puja: betapa Mahaagung Tuhan yang menciptakan dan mengatur semua ini.

Warna-warni dedaunan musim gugur yang luruh di rerumputan dekat tempat tinggal kami.
Warna-warni dedaunan musim gugur yang luruh di rerumputan dekat tempat tinggal kami.

Saya perhatikan hal-hal lain juga: orang-orang dan perilaku mereka, tempat-tempat yang saya lalui, bahasa – yang terasa amat berbeda karena sebelum ditugaskan di sini saya sama sekali tak mengerti apapun tentang bahasa Polandia – fasilitas umum, barang-barang konsumsi, dan harga-harga.

Sepintas saya mendapat kesan bahwa orang-orang Polandia cantik-cantik dan tampan-tampan. Kulitnya mulus, postur tubuhnya semampai. Amat sangat jarang saya menjumpai orang-orang yang kelebihan berat badan seperti di Amerika. Orang-orang dari Eropa Timur konon memang dikenal demikian. Dawid (dibaca David), ahli karawitan dan orang Polandia pegawai KBRI, bercerita pada saya bahwa banyak lelaki dari negara tetangga seperti Jerman yang menacari istri di sini karena selain cantik, wanita Polandia dianggap memiliki karakter yang lebih baik. Bisa jadi pendapat itu subjektif karena berasal dari mulut orang Polandia sendiri, sama seperti orang-orang Bandung yang cenderung mengatakan bahwa mojang Periangan lebih cantik daripada perempuan-perempuan lain di Nusantara. Tapi demikianlah yang saya lihat sendiri di sini. Orang Polandia juga tampak ramah, bahagia, dan rajin bekerja. Mereka tampaknya selalu siap menolong, meskipun banyak di antara mereka yang saya temui tidak bisa berbahasa Inggris.

Meskipun belum sempat blusukan dan mengenal seluk-beluknya secara mendalam, Warsawa sejauh ini saya rasakan sebagai kota yang sangat nyaman. Kota ini tidak memiliki banyak gedung-gedung pencakar langit seperti New York atau Chicago; jauh pula dari Jakarta yang hiruk pikuk. Kesan saya, beberapa bagian kota ini mirip pinggiran Boston atau gabungan antara Boston dan Washington DC. Kontur kotanya datar. Apartemen-apartemen modern yang dikitari oleh taman-taman yang asri berada di pinggiran kota (periferi), sementara di tengah kota terdapat bangunan-bangunan tua warisan zaman sebelum Perang Dunia Kedua dan bangunan-bangunan dari Era Komunis yang dibangun ketika Polandia merupakan bagian dari Blok Timur Uni Soviet dan kawan-kawan.

Jalan dari tempat tinggal kami menuju ke halte bus terdekat. Dedaun di pohon-pohon peneduhnya hampir semua menguning minggu ini.
Jalan dari tempat tinggal kami menuju ke halte bus terdekat. Dedaun di pohon-pohon peneduhnya hampir semua menguning minggu ini.

Transportasi massal di Warsawa di mata saya – yang berasal dari kota dan negara yang tidak memiliki belum transportasi massal – terasa sangat nyaman dan efisien. Dengan kartu WKM (Warszawska Karta Miejska), saya bisa naik tram, kereta bawah tanah, dan bus yang sejauh ini saya rasakan nyaman dan tidak terlalu berdesak-desakan bahkan pada jam-jam sibuk. Lalulintas jalan raya juga lancar. Selama sepuluh hari ini saya baru sekali melihat antrian panjang mobil di perempatan lampu lalulintas di dekat perumahan kami. Kalau itu bisa disebut kemacetan, maka kemacetan itu tak ada sepersepuluhnya dari kemacetan yang kita alami sehari-hari di Bandung, Jakarta, atau kota-kota besar lain di tanah air.

Bus kota yang ke dan dari tempat kerja. Sangat nyaman.
Bus kota yang ke dan dari tempat kerja. Sangat nyaman.

Lalulintas di kota ini sangat tertib. Rambu-rambu dan marka-marka jalannya lebih canggih, beberapa di antaranya belum pernah saya lihat bahkan di Amerika, apalagi di tanah air. Mungkin setiap negara atau wilayah di dunia ini memiliki sistem rambu dan marka jalan sendiri, namun kelengkapan rambu dan marka itu saya kira menunjukkan bahwa lalulintas di sini diatur sedemikian rupa demi keselamatan dan kenyamanan para pemakai jalan. Dalam hal ini, saya kira kita bisa mencontoh dari negara-negara maju. Kita perlu melakukan banyak penyempurnaan dalam undang-undang dan peraturan lalulintas kita, juga dalam hal fasilitas, rambu-rambu dan markanya.
Setiap hari saya naik bus dari halte ini menuju ke tempat kerja.
Setiap hari saya naik bus dari halte ini menuju ke tempat kerja.

Ada satu hal yang menarik tentang angkutan massal di sini. Meskipun saya memiliki kartu WKM, saya tidak perlu selalu menunjukkannya atau memasukkannya ketika naik bus atau tram. Saya hanya perlu menempelkannya di mesin pembuka gerbang ketika akan masuk ke stasiun kereta bawah tanah. Orang tanpa kartu pun tampaknya bisa naik bus dan tram. Namun demikian, tampaknya orang-orang di sini cukup jujur. Orang-orang yang tidak memiliki kartu saya lihat membeli tiket sekali jalan yang disediakan di mesin penjual kartu di beberapa halte. Padahal, kalau mereka mau, mereka bisa saja naik karena tidak ada pemeriksaan atau keharusan untuk memasukkan kartu ke dalam mesin ketika naik bus atau tram.

Bahasa Polandia sama sekali asing bagi saya. Beberapa kata bisa saya tebak artinya karena kemiripannya dengan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia. Di sini ada kata ‘kantor’ yang semula saya kira sama artinya dengan kantor dalam Bahasa Indonesia. Namun rupanya kantor di sini berarti tempat penukaran valuta atau money changer. Bilet (atau bentuk jamaknya bilety), seperti saya duga, berarti tiket karena dalam Bahasa Inggris ada juga kata billet dan bill. Beberapa kata lain saya ketahui artinya karena ada dalam rambu, atau karena kesamaannya dengan Bahasa Indonesia, seperti aula yang artinya sama persis dengan aula dalam Bahasa Indonesia. Saya juga sudah tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih dalam Bahasa Polandia (dziękuję), selamat pagi/siang (dzień dobry); baik (dobre). Cuma itu.

Ada pengalaman menarik soal bahasa ini ketika saya berbelanja di hipermarket. Semua barang di sana tentu saja ditulis dalam Bahasa Polandia. Biasanya saya tidak mengalami kesulitan mencari barang karena apa yang saya cari bisa dilihat. Namun pernah juga saya mencari korek api dan saya tidak tahu di rak mana tempatnya. Untuk menghemat waktu, saya memanfaatkan Google Translate, dan dengan satu kata itu saya menanyakan kepada pelayan toko: zapalniczki? ☺ Saya juga memanfaatkan Google Translate dari tablet saya untuk mencek apakah makanan yang saya beli mengandung daging babi (wieprzowina). Ah, repot memang. Tapi mengasyikkan juga. Di Amerika dulu, saya tidak mengalami masalah seperti ini dan lebih pede kemanapun saya pergi untuk keperluan apapun. Di sini, masalah bahasa menjadi tantangan tersendiri, yang cukup mengasyikkan.

Dari pengalaman berbelanja di hipermarket, saya kira harga barang-barang keperluan sehari-hari tidak terlalu mahal di sini, bahkan jika dihitung dalam rupiah. Beberapa barang bahkan saya lihat lebih murah: apel lokal, yang sekarang sedang musim, susu, dan yang paling mengejutkan: pisang! Harga pisang, yang di negara kita disebut pisang Cavendish, ternyata di sini sedikit lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia. Padahal saya/kita tahu, pisang tak tumbuh dan ditanam di Eropa.

Tampaknya saya sudah menulis cukup banyak untuk kali ini. Saya harus berhenti dulu. Sekarang Jumat sore, dan saya ingin segera pulang. Besok kami berencana berjalan-jalan di sekitar kota. Mungkin ke museum atau ke kota tua. Ceritanya kita lanjutkan lain kali ya.

Salam.

4 pemikiran pada “Catatan di Polandia #3

  1. Saya selalu suka karya-karya musik Chopin dan dulu (sampai sekarang sih, hehe.) sempat bercita-cita mengunjungi Fryderyk Chopin Museum di Polandia. ketika mendengar bapak mendapat kesempatan untuk bekerja di sana, saya senang sekaligus iri betapa beruntungnya bapak. saya pribadi mendoakan semoga semuanya baik dan berjalan lancar di sana. by the way, jika bapak berkesempatan mengunjungi museum Fryderyk Chopin tersebut kapan-kapan dan menulisnya di blog, saya akan sangat senang sekali membacanya. salam, Monica.🙂

  2. Pak Eki, terima kasih sudah membagikan cerita ini. Di mata saya Warsawa adalah kota yang menakjubkan. Cita-cita saya ingin sekali untuk bisa melanjutkan studi di sana. Semoga cita-cita saya tercapai. Aamiin. Selamat menjalani kehidupan di sana Pak. Semoga Berkah. Aamiin.

    Salam,
    Arief

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s