Apa Jadinya?


Apa jadinya kalo gue tiba-tiba nulis kayak gini?

Ya kayak gitu, yang di atas itu! Ngga pake bahasa baku-bakuan, ngga pake jaim-jaiman.

Aneh ngga ya? Ato justru jadi lebih keren? Ngetren? Jadi diri sendiri?

Sumpeh, gue pengen banget bisa nulis kayak gitu — ya kayak gini nih!

Sumpeh juga gue pernah kesel sama bahasa-bahasa yang ginian. Ngerusak! Tapi setelah dipikir-pikir, yang gini-ginian juga bahasa, kan? (Coba elo pikir, ngga ada salahnya, kan?)

Bahasa tuh komunikasi. Gue bilang saya ato gue, toh sama aja maksudnya, kan? Sama aja gue panggil elo, kamu, Anda, elu … toh esensinya sama?

Bedanya cuma konteks dan identitas aja! Masa elo mau panggil Anda ke temen gaul elo sendiri. Aneh, kan? Bisa-bisa elo dianggap sinting, ngejek, ato kesurupan.

Lagian nulis ato ngomong gini kan lebih enak kan cui? Kita jadi lebih akrab. Kita negesin siapa kita, identitas kita.

Bahasa itu kreatip cui!

Tahu napa gue jadi nulis kayak gini?

Gue suka kok. Terus terang, dari hati gue yang paling dalem, gue sebenernya suka kok dengerin, baca bahasa-bahasa ginian. Cuma selama ini gue belum bisa aja nulisnya, jaim, takut citra gue sebagai guru bahasa ancur.

Tapi gegara temen gue yang ngobarin perang suci sama bahasa-bahasa yang ginian dan promosiin bahasa yang ke-malay-malay-an, nganggep bahasa sendiri rendah, gue kok jadi panas.

Gue tetep Indonesia, kita tuh Indonesia, kan cui? Ngga mau gue dijadiin malay, disama-samain sama malay. Elo juga, kan? Gua ga musuhan sama malay selama mereka ngga musuhan ato ngerendahin kita. Kita serumpun kok. Tapi kita punya sejarah sendiri, identitas sendiri. Kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi laaah!

Pokoknya yang gini-ginian juga bahasa, punya kita, kreatifitas kita, identitas kita juga. Kita tahu kok kapan kita mesti ngomong kayak gini, kapan kita ngomong kayak presiden.

Tul ngga, cui?!

9 pemikiran pada “Apa Jadinya?

  1. saya mah suka yang ini dari pak Eki: “Kita tahu kok kapan kita mesti ngomong kayak gini, kapan kita ngomong kayak presiden” tapi tampaknya ada nuansa emosional dengan pilihan “ngomong kayak presiden” bukan misalnya “ngomong dengan president” hehe.

  2. hahahaha.. gegaraaa!! that’s about as far as you can get as a language teacher, Sir. I get your point, though. Biasa aja kaleee.. hehehe. Cheers.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s