Catatan di Polandia #4


Senin, 21 Oktober 2013

Hari kedua puluh di Polandia.

Pagi ini, di bus, dalam perjalanan dari rumah ke kantor, untuk pertama kalinya sejak saya datang di sini, saya melihat seorang pengamen naik bis: orang tua berakordion. Dia naik dari halte Kinowa, memainkan lagu Bésame Mucho, dan turun di halte Rondo Waszyingtona, tempat kami juga turun. Hanya dua stop.

Pengalaman tadi mengejutkan. Saya kira pengamen naik bis hanya ada di Indonesia karena, setahu saya, di sejumlah negara maju, mengamen adalah kegiatan yang diatur. Orang tak boleh mengamen di sembarang tempat tanpa izin dan lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah kota.

Sesampai di kantor, saya menanyakan hal itu kepada teman Polandia saya. Dia membenarkan bahwa mengamen di kendaraan umum memang dilarang. Namun sesekali memang ada orang Gypsi yang melakukannya.

Tampaknya tadi tidak ada seorangpun yang memberinya uang. Hanya saya dan teman saya. Mungkin karena saya merasa hal itu lumrah, meskipun di tanah air saya termasuk jarang memberikan uang pada pengamen, kecuali kalau dia memang bagus. Saya memberinya 1 Sloty (PLN) karena saya merasa permainannya cukup bagus. Pak tua itu tampaknya sangat senang. Di halte tempat kami turun, dia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan tersenyum lebar.

***

Sudah sepuluh hari saya tidak menulis surat/catatan di blog ini. Tentu sudah banyak yang terjadi selama itu. Akhir pekan yang lalu kami berjalan-jalan ke Muzeum Narodowe w Warszawie (Museum Nasional di Warsawa; Narodowe – dibaca Narodove – adalah bahasa Polandia untuk kata nasional); menelusuri kota tua, dan ke Marywilska. Hari Seninnya (tanggal 14/10, hari ‘kejepit’ nasional Indonesia), sore, menunggu waktu berbuka puasa, saya ngabuburit ke Park Skaryszewski.

Cuaca cukup cerah dan hangat waktu saya berjalan-jalan di Park Skaryszewski Senin yang lalu. Banyak orang menghabiskan sore itu untuk berjalan-jalan, bersepeda, atau duduk-duduk di taman ini.
Cuaca cukup cerah dan hangat waktu saya berjalan-jalan di Park Skaryszewski Senin yang lalu. Banyak orang menghabiskan sore itu untuk berjalan-jalan, bersepeda, atau duduk-duduk di taman ini.

Sabtu kemarin, kami pergi ke Taman łazienki, mencoba Pierogi (makanan khas Polandia) di sebuah kafe-restoran di jalan Krakowskie Przedmieście, dan keesokan harinya pergi Muzeum Powstania Warszawskiego (Museum Perlawanan Warsawa) dan makan di restoran Vietnam Du-za Mi-ha Pho di jalan Widok 16, di pusat kota Warsawa. Konon, menurut Wahyu, mahasiswa Indonesia yang mengantar kami ke sana, restoran ini adalah ‘markas besar’ atau tempat berkumpulnya anak-anak Indonesia di sini. Sayangnya waktu kami makan di sana kemarin, tidak ada orang Indonesia lain yang kami temui.

Oh iya, Wahyu adalah mahasiswa UGM yang sedang belajar di Universitas Warsawa atas beasiswa Erasmus Mundus. Dia sudah berada di sini sejak September kemarin dan akan di sini hingga tahun depan. Saya tak sengaja bertemu dia di Museum Perlawanan Warsawa.

Sekian dulu surat/catatan hari ini. Cerita tentang tempat-tempat yang saya sebut tadi insyaallah akan saya tulis terpisah.

Salam.

Satu pemikiran pada “Catatan di Polandia #4

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s