Catatan di Polandia #5


Ahad, 27 Oktober 2013

Hari keduapuluh lima di Polandia.

It was a glorious day. Hari yang cerah dan hangat. Padahal hingga kemarin diprakirakan bahwa hari ini akan hujan dan lebih sejuk daripada lima hari terakhir, yang lumayan hangat — meskipun tidak selalu cerah — dengan suhu rata-rata bertengger di angka belasan, kecuali di malam hari.

Hari Kamis yang lalu, untuk pertama kalinya kami mengalami kemacetan di Warsawa. Kendaraan bertumpuk di jalanan dan bergerak nyaris merayap. Bus kota datang terlambat di halte tempat kami biasa menunggu. Situasi itu sungguh di luar dugaan kami. Karena terbiasa dengan lalulintas yang serbalancar, kami berangkat dari rumah seperti biasanya, sekitar satu setengah sampai satu jam sebelum jadwal masuk kelas. Jarak dari rumah ke kantor kami di KBRI sekitar 20 menit, termasuk hitungan jalan kakinya. Dari sana ke universitas juga sekitar 20 menit (jalan kaki, tram, dan jalan kaki). Hari itu kami mengajar kelas pagi dan berencana mampir di kantor untuk memfotokopi beberapa bahan yang akan kami pakai. Semuanya perhitungan waktu jadi berantakan gara-gara kemacetan itu. Saya tiba di kelas 15 menit terlambat dari jadwal! Untung mahasiswa masih menunggu.

Di kantor saya mendapat penjelasan dari teman Polandia saya bahwa kemacetan lalulintas biasanya memang suka terjadi kalau cuaca buruk. Pagi itu memang mendung, gerimis, dan agak berkabut. Dan itu ternyata sudah cukup menimbulkan permasalahan yang cukup serius. Peristiwa itu menjadi pelajaran agar selalu memperitungkan cuaca dalam merencanakan waktu perjalanan, terutama di kota dan pada jam-jam sibuk.

Hari itu kami agak tertolong karena di bagian kedua perjalanan, dari Rondo Waszyngtona ke Centrum, kami naik tram sehingga tidak terpengaruh oleh kemacetan.

Kemarin kami diundang lagi ke Wisma Duta. Kali ini acaranya adalah peresmian dan pelantikan pengurus diaspora Indonesia di Polandia sekaligus syukuran kembalinya bapak duta besar dan istri dari menunaikan ibadah haji. Ini undangan kedua ke Wisma Duta sejak kami tiba di sini. Dan saya selalu bersemangat memenuhi undangan itu karena suasana ‘rumah Indonesia’-nya: orang-orang, obrolan, dan — tentu saja — masakan dan citarasa tanah air yang otentik. Hari itu kami disuguhi mi bakso, bakwan (yang di Bandung kami sebut bala-bala) lengkap dengan cabe rawit merah yang pedas aduhai menggugah selera, dan masakan dari ikan dan daging bebek lengkap dengan lalapannya. Yammmm …!🙂 (Maaf kalau saya terkesan seperti orang kelaparan. Masakan di Wisma Duta memang lezat. Mungkin karena dimasak oleh ahlinya dengan bumbu-bumbu otentik yang lengkap. Maklumlah, sehari-hari saya hanya bisa masak ala Indonesia jadi-jadian dengan bumbu modifikasi dan resep karangan sendiri; atau, kalau lagi merasa berduit atau tidak ada waktu untuk memasak, jajan di restoran kebab atau Carefour Express di dekat kantor.😉 Desert hari itu es buah yang tak kalah menggoda selera.

Kembali ke hari ini:

Hari ini, di luar dugaan, cuaca sangat cerah dan hangat sepanjang hari. Tadi pagi ketika keluar dari rumah (sekitar pukul setengah sebelas) suhunya saya lihat 19 derajat Celcius. Lewat tengah hari, di jalan, saya lihat sudah 22. It’s like Bandung at its best. Hangat (sejuk untuk ukuran rata-rata di Indonesia), minus polusi dan kesemrawutan lalulintas yang biasa saya rasakan di Bandung.

Saya tidak punya rencana untuk mengunjungi objek-objek wisata kota hari ini. Dari kemarin, saya sudah merencanakan hari ini untuk mencari masjid, yang dari Internet saya ketahui lokasinya berada di jalan Wiertnicza 103. Dari Internet juga saya ketahui, untuk ke sana saya bisa naik bis nomor 180 dari Centrum. Itu artinya saya harus naik tiga angkutan umum dari rumah: bus nomor 158 dari Rawar ke Rondo Waszyngtona, tram ke Centrum, dan setelah itu bus nomor 180 ke arah Wilanow, turun di Lowcza.

Cukup jauh, dan memang jauh. Saya hitung ada belasan halte dari Centrum hingga saya turun di Lowcza. Saya tidak tahu berapa kilometer jarak pastinya, tapi saya perkirakan mungkin sama dengan jarak Cimahi – Cileunyi lewat tol.

Tampak depan Masjid Islamic Center Warsawa.
Tampak depan Masjid Islamic Center Warsawa.

Lokasi mesjid ternyata persis di sebelah halte Lowcza 01, tempat saya turun. Saya bisa langsung melihatnya begitu turun dari bus. Sepintas mesjid tampak sepi dan pagarnya tertutup rapat. Saya mencari jalan masuk. Gerbang ternyata tak dikunci. Setelah berputar ke belakang mencari pintu masuk ke dalam gedung, akhirnya saya temukan juga pintu masuknya.

Saya membuka pintu dan mengucapkan salam. Tidak ada orang. Saya putuskan untuk masuk, melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Baru setelah di dalam — di ruang shalat — saya bertemu dengan seorang pemuda. Saya beruluk salam dan berkenalan. Ternyata dia mahasiswa asal Iran. Dia memberi tahu saya tempat wudhu, dan saya shalat dzuhur. Waktu saya lihat sudah lebih dari pukul satu.

Interior ruang shalat Masjid Islamic Center Warsawa.
Interior ruang shalat Masjid Islamic Center Warsawa.

Selesai shalat saya putuskan untuk melihat-lihat keadaan masjid dan menunggu waktu ashar, yang hari ini jatuh sekitar pukul setengah tiga. Menjelang ashar, beberapa brothers (ikhwan) datang, dan setelah adzan — yang dikumandangkan oleh salah seorang dari mereka — kami shalat berjamaah. Hanya berenam. Imamnya saya kira orang Arab Yaman dilihat dari perawakannya yang pendek dan kulitnya yang agak gelap. Dia berbaju batik. Dari coraknya, mungkin buatan Indonesia.

Mihrab dan mimbar masjid Islamic Center Warsawa.
Mihrab dan mimbar masjid Islamic Center Warsawa.

Ornamen di bawah kubah kecil di tengah masjid.
Ornamen di bawah kubah kecil di tengah masjid.

Ruang wudhu dengan kran air dingin dan air panas.
Ruang wudhu dengan kran air dingin dan air panas.

Selesai shalat, di pintu keluar, saya bertegur sapa dengan seorang brother (yang lain sudah lebih dulu bergegas keluar). Sebelum berpisah, dia meminta sedekah dari saya. Katanya untuk makan. Tampaknya dia termasuk kaum duafa di negara ini.

Ada satu perasaan menarik yang saya rasakan di dalam masjid. Saya merasa bahwa mihrab masjid ini ada di arah barat, seperti di Indonesia. Padahal saya tahu, kiblat dari tempat ini secara geografis mestinya mengarah ke tenggara. Saya memang masih mengalami disorientasi arah mata angin di sini. Saya masih merasa barat sebagai timur, dan timur sebagai barat, kecuali kalau saya melihat matahari atau memeriksa kompas. Saya mengalami hal seperti itu juga waktu di Amerika dulu. Karena itu, tanpa landmark yang saya kenal, kadang-kadang saya masih kacau arah (disoriented).

Keluar dari masjid saya kembali ke arah pusat kota dan menghabiskan sisa hari ini dengan melakukan street hunting untuk street photograhpy saya. Banyak foto menarik yang saya dapatkan hari ini. Saya berangan-angan, mungkin nanti saya bisa membuat pameran khusus atau menerbitkan monogram untuk hasil-hasil jepretan saya selama di sini. Saya sudah melakukannya (berpameran) untuk hasil-hasil jepretan saya selama di Amerika, meskipun kecil dan terbatas saja.

Sekian dulu surat hari ini. Insyaalah saya sambung lain kali.

Salam.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s