Kebahagiaan Seorang Guru


Ada tiga kebahagiaan seorang guru:

Pertama, dan ini yang tertinggi menurut saya, adalah melihat mantan murid-muridnya menjadi orang-orang yang berhasil, lebih berhasil daripada dirinya sendiri.

Dulu saya menyangka ini hanya isapan jempol, basa-basi sosial etis. Kini, setelah menjadi guru hampir seperempat abad, saya bisa merasakan sendiri bagaimana perasaan itu. Saya sungguh-sungguh berbahagia melihat mantan murid-murid saya yang menjadi lebih pintar daripada saya, lebih berhasil, dan menduduki tempat-tempat yang bermartabat tinggi di masyarakat. Kebahagiaan itu saya rasakan lebih besar lagi manakala saya melihat mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan — bakti — yang luhur bagi manusia dan kemanusiaan, mengangkat derajat sesama, menolong dan melindungi yang lemah dan tak menyombongkan apa yang telah mereka raih.

Tidak menjadi masalah bagi saya apakah mereka mengingat saya atau tidak. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas saya agar mereka bisa melaksanakan tugas kemanusiaan mereka, tugas kekhalifahan yang diamanatkan Tuhan atas mereka. Saya yakin tempat saya dalam kehidupan mereka kecil saja; mereka sukses karena mereka adalah pribadi-pribadi yang memang telah mengandung sukses dalam diri mereka sendiri, dan manakala mereka sukses berbunga dan berbuah, itu karena mereka adalah pohon yang istimewa, ditanam di tempat yang istimewa, dipelihara dan dipupuk oleh orang-orang yang istimewa: orangtua-orangtua mereka, masyarakat, dan guru-guru lain yang resmi menyandang status guru maupun bukan guru. Sebagai salah satu guru mereka, saya merasa telah diberi kehormatan menjadi bagian kecil dari sukses mereka.

Kebahagiaan kedua seorang guru adalah ketika melihat murid-muridnya mengerti, mampu menangkap apa yang disampaikannya, dan naik derajatnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari bersikap masa bodoh menjadi peduli dan halus budi, karena tahu (dan berpengetahuan) serta peduli dan halus budi adalah tanda meningkatnya derajat kemanusiaan seseorang.

Kebahagiaan ketiga, yang mungkin tidak bersifat sosial dan agak self-centric, adalah ketika seorang murid mengungkapkan penghargaan atas upaya-upayanya secara langsung maupun tak langsung. Guru manusia juga, saya rasa. Penghargaan seperti itu dapat membuatnya merasa istimewa; dan penghargaan semacam itu, saya rasa, adalah salah satu kebutuhan sosial manusia.

Tadi malam saya mendapatkan kebahagiaan yang ketiga itu. Siswa saya dari dua kelopok yang berbeda mengungkapkan apresiasi mereka. Kelompok pertama, siswa tingkat dasar BIPA, memuji metode dan teknik yang saya pakai di kelas. Mereka ingin dan akan mengusulkan agar masa tugas saya diperpanjang agar dapat terus mengajar mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Kelompok kedua, para mahasiswa yang tengah menyelesaikan studi magister mereka, secara terbuka memuji wawasan (insight) kultural, sosiologis, dan antropologis yang, menurut mereka, berhasil saya ungkapkan dengan mendalam dan mencerahkan dalam diskusi kami tentang karya sastra Indonesia modern.

Apresiasi mereka menambah semangat saya. Tapi saya tidak akan pernah lupa bahwa saya hanyalah bagian kecil dari kerja kemanusiaan untuk mengangkat derajat dan martabat manusia, sehingga setiap diri bisa menjadi bagian yang memperbaiki kehidupan di muka bumi sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan. Setiap diri hanyalah khalifatul fil ardh.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s