Catatan di Polandia #8: Mulai Jenuh


Sesungguhnya saya mulai merasa agak jenuh di sini.

Mungkin saya sudah mulai memasuki tahap kedua adaptasi di kultur baru. Agak terlalu cepat daripada perkiraan saya. Di Amerika dulu, saya mengalami masa honeymoon lebih lama, seingat saya, dan baru mulai merasakan kejenuhan setelah tinggal di sana sekitar tiga atau empat bulan.

Ini baru enam minggu lebih sedikit, tapi saya sudah mulai merasakan gejala-gejala tahap rejection. Tidak terlalu parah memang — mungkin karena saya sudah punya pengalaman-pengalaman sebelumnya beradaptasi di kultur baru dan punya kesadaan cukup kuat tentang prosesnya. Tapi tetap saja agak melelahkan. Konsentrasi berkurang, dan di rumah saya mulai banyak begadang mengerjakan hal-hal yang tak penting: nonton film di laptop, internetan, bolak-balik ke dapur untuk makan, bikin catatan-catatan kurang penting di blog (lihat postingan saya beberapa hari terakhir) … Rasa kesepian dan rindu pada keluarga, teman-teman, dan tempat-tempat di tanahair juga mulai terasa.

Saya mencoba menganalisis kenapa saya masuk ke tahap kedua ini lebih cepat. Dan inilah hasilnya:

Ketika memulai studi di Amerika dulu, saya tiba di sana di musim panas. Matahari, udara hangat, dan siang hari yang panjang membuat saya tidak terlalu merasakan perbedaan iklim yang mencolok antara tempat asal dan negara baru. Ketika musim panas berlalu, musim gugur juga tidak terlalu sulit. Keindahan musim gugur dan kekaguman saya pada apa yang saya lihat dan rasakan mampu menunda rasa jenuh saya. Saya baru mulai merasakan kejenuhan cukup parah ketika musim dingin tiba, ketika siang menjadi lebih pendek, udara jauh lebih dingin, dan tugas-tugas akhir semester pertama mulai menumpuk.

Di Polandia saya datang di musim gugur. Dan sekarang, tujuh minggu kemudian, musim dingin sudah di ambang. Mendung dan langit kelabu hampir setiap hari. Soal dingin juga jangan ditanya. Suhu rata-ratanya sudah berada di kisaran bawah satu digit. Sangat tidak nyaman berada di luar rumah. Saya tidak bisa sering-sering lagi jalan-jalan dan memotret, seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya. Mungkin karena itulah, rasa jenuh itu datang, dan saya memasuki fase kedua adaptasi kultural di tempat baru.

Masalah bahasa mungkin juga turut berperan. Di Amerika, saya tidak mempunyai masalah bahasa sedikitpun. Saya bisa berinteraksi nyaris dengan siapapun dan di manapun. Di sini, interaksi signifikan cuma terjadi di kantor atau di kelas. Kehadiran teknologi mungkin agak sedikit meringankan. Sekarang saya bisa terhubung 24 jam dengan keluarga dan teman-teman di tanahair lewat tablet/HP. Dulu, waktu di Amerika, saya hanya bisa terhubung ke tanahair jika saya berada di depan komputer atau sengaja menelepon. Telepon cerdas belum zamannya waktu itu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s