Beli, Beli, dan Beli …


Beli, beli, dan beli …

Kamu rasakan getaran itu di dadamu? Pada pikiranmu?

Betapa benar: beli, beli, dan beli … Pelan namun pasti, kita telah ditarik menjadi mahluk yang bernama pembeli.

Beli, beli, dan belilah … Jadilah pembeli, karena pembeli adalah raja. Tak peduli kaya atau miskin, jika kau membeli, kau akan menjadi raja.

Ayo, belilah, beli dan membeli! Tak perlu kau cipta sendiri apa yang dapat kau beli. Ingat, membeli menjadikanmu raja! Kapan lagi kau menjadi raja, dihormati dan dipuja-puja. Para pedagang tersenyum kepadamu, menyambutmu. Tetangga, kerabat, dan kawan-kawanmu iri padamu kalau kau bisa membeli: hape baru, kulkas baru, televisi baru …

Ayo, ayo …

Membelilah saat kau senang, membelilah saat kau sedih, membelilah saat kau kaya, membelilah saat kau miskin … Membeli membuatmu naik derajat: bayangkan, kau, yang di antara sejuta umat menjadi sejuta umat, tak dikenal, tak dilirik, tak disapa, tak dihormat, bisa tiba-tiba naik tahta: raja! Karena kau pembeli!

Tak perlu mencipta, tak perlu membuat, tak perlu menanam, beli saja! Jangan, jangan, oh jangan menabung dan menanam untuk hari esok — apa perlunya?? Kalau hari ini, saat ini juga, kau langsung bisa menjadi raja?

Tak perlu perbaiki sandal bodol itu! Modelnya sudah ketinggalan. Beli saja. Beli, beli, dan beli. Aah, dan hape itu, sudah enam bulan, sudah terlalu lama! Model-model baru sudah melambai-lambai genit padamu.

Membelilah saat berpuasa dan berhari raya — sebagai tanda syukurmu pada Tuhan? (Siapa tahu Tuhan memang lebih suka pada para raja, yang membeli, membeli, dan membeli dan menunjukkan betapa besar karunia yang telah diberikan-Nya padamu — alhamdulillah ya, kita bisa membeli anu, anu, dan anu baru — sementara tetangga dan kerabatmu hanya bisa mengiri dan menelan ludah menginginkan karunia besarmu? — Meskipun mereka lapar, meskipun mereka kumuh dan compang-camping.)

Membelilah saat hari-hari biasa — yang membosankan! — membelilah, agar hidupmu penuh gairah.

Membelilah! Belilah apa yang kau mau, bahkan apa yang tak kau mau; membelilah agar menggelembung dadamu penuh riang, membumbung harga dirimu, bak raja, bak raja.

Lalu ketika semua rasa itu mulai lépék, membelilah lagi: yang kau butuhkan, yang tak kau butuhkan. Ingat betapa rasa itu begitu cemerlang, citra itu begitu gemilang: pembeli, oh pembeli …

IKLAN: Jadilah pembeli! Kami tak perlu kau menjadi manusia, hanya pembeli! — Karena hanya pembelilah raja kami. Kami tak perlu kau menjadi warganegara, peduli apa pada sesama, kami hanya ingin kau menjadi pembeli, raja kami, puja-puji seluruh saudagar berpanji.🙂

Aaah … begitulah!

4 pemikiran pada “Beli, Beli, dan Beli …

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s