Alam dan Sifat Orang


Apa yang akan kamu lakukan kalau pukul empat sore sudah terasa (dan terlihat) seperti pukul tujuh malam? Dan suhu di luar rumah berkisar di angka nol derajat celcius dan cuaca hujan?

Tidur?

Membaca ditemani secangkir minuman hangat sambil berselimut?

Internetan?

Tak banyak pilihannya. Dan itulah yang aku alami hari ini dan hari kemarin dan kemarin lagi, dan mungkin besok dan besoknya lagi.😦

Musim dingin, bagi saya yang orang daerah tropis, tidak menyenangkan. Bagi orang sini pun, konon, musim dingin adalah musim susah. Orang-orang lebih banyak tinggal di rumah, karena alam di luar kurang bersahabat.

Tapi mungkin banyak juga hikmahnya. Aku berspekulasi – dan ini betul-betul murni spekulasi – mungkin keadaan inilah yang menyebabkan orang-orang yang rumah dan tanahairnya berada di bagian-bagian dunia yang seperti ini menjadi lebih pintar (?).

Maksudku, karena dipaksa oleh alam untuk mengurung diri di rumah dalam waktu yang lama, mereka akhirnya menjadi reflektif dan kreatif. Mereka lebih banyak berpikir dan memikirkan hal-hal di sekitar mereka. Dalam kesendirian, mereka membaca – apa saja – dan menulis. Mungkin juga menukang. Apa saja, agar pikiran dan hati mereka tak menjadi senyap karena kesenyapan yang menyelimuti, agar komunikasi tetap ada – meskipun hanya dengan diri sendiri, benda-benda, atau orang-orang yang serumah — dan tak menjadi gila atau depresi.

Orang-orang daerah tropis lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah – karena alam yang ramah, nyaris sepanjang tahun – bersosialisasi dengan sesama, menikmati dan mencari kesenangan bersama-sama. Mungkin karena alam juga, orang-orang dari daerah tropis seperti kita menjadi komunal, guyub.

Keguyuban mungkin membuat kita tak reflektif secara kognitif, namun karena kita lebih intense dalam bersosialisasi, kita menjadi lebih reflektif secara sosial dan afektif. Kita tumbuh menjadi masyarakat yang mementingkan afeksi dan kebersamaan. Dan kita menjadi sangat kreatif dalam hal itu. Masyarakat kita menghasilkan berbagai jenis seni yang menunjukkan tingginya tingkat afeksi dan komunalisme kita.

Ini hanya spekulasi. Kalaupun masuk akal, saya kira, ia tak dapat digeneralisasi. Perlu pemikiran yang lebih rigorous untuk itu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s