Catatan di Polandia #11: Ke Toko Buku


Saya sering bercanda pada teman-teman saya, jangan bawa saya ke toko buku. Saya bisa gila!

Toko buku (juga perpustakaan) adalah tempat yang berbahaya untuk saya. Saya bisa kesurupan kalau pergi ke tempat-tempat seperti itu. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan membelanjakan uang yang semestinya tidak dianggarkan untuk ‘memborong’ buku.

Mungkin karena lingkungan dan kebiasaan dari kecil, mungkin juga karena sifat dasar saya yang cenderung introvert, saya mencintai buku dan membaca. Untuk kebiasaan itu, saya berhutang budi dan dengan tulus hati menyampaikan takzim dan doa saya terutama untuk dua orang paman saya: Furqon Ismail, S.H. (almarhum), yang perpustakaan kecilnya telah membukakan jendela ilmu pengetahuan dan cakrawala berpikir yang luar biasa dan membuat saya selalu betah bermain di rumahnya, dan Abdul Hamid Arsyad, S.E. yang langganan koran dan majalah-majalahnya telah membukakan wawasan saya mengenai banyak hal. Mudah-mudahan mereka mendapatkan pahala jariah atas kebaikan apapun yang telah saya dapatkan dan sumbangkan dari bacaan saya.

Hari ini, 2 Desember 2013, tepat dua bulan saya berada di Polandia. Selama itu, terus terang, saya menjadi kurang membaca. Karena keterbatasan jatah bagasi, saya hanya membawa sedikit buku dari tanahair. Saya hanya membawa buku-buku yang memang saya perlukan untuk mengajar di sini. Ketiadaan buku di bulan pertama tidak terlalu terasa — mungkin karena saya disibukkan oleh banyak hal dan berbagai keasyikan di tempat baru. Namun di bulan kedua, ketika saya sudah cukup settled di tempat baru ini dan ketika musim dan cuaca mulai membatasi gerak saya di luar rumah, saya menjadi gelisah. Saya tidak puas hanya membaca apa yang bisa saya dapatkan dari Internet. Beberapa minggu terakhir ini saya mulai menyambangi toko buku. Sayangnya toko-toko buku besar di sini tak memiliki koleksi cukup dalam bahasa yang bisa saya mengerti.

Di satu sisi, ini mungkin ada baiknya. Kegilaan saya tidak kambuh, dan saya bisa menghemat cadangan uang yang memang tidak seberapa. Namun, seperti saya torehkan dalam tweet saya tanggal 28 November yang lalu, “Tanpa buku otak akan menjadi beku.”

Jujur, itulah yang saya rasakan. Maka, saya mulai mencari tahu toko buku mana di sini yang menjual buku-buku berbahasa Inggris. Dari Internet saya dapat tiga alamat American Bookstore. Namun ternyata informasi itu tidak akurat, karena setelah saya cek, toko-toko itu sudah tidak ada di alamat itu lagi. Sudah pindah. Dari teman sekantor, baru saya tahu di mana alamat baru toko itu.

Kemarin, Ahad pagi, saya melacaknya dan akhirnya menemukan toko itu di Mal Arkadia (Centrum Handlowe Arkadia) di Aleja Pawła II 82 lok 20. Dengan luas 287.000 meter persegi, konon pusat perbelanjaan ini adalah mal terbesar di Polandia dan Eropa Tengah, meskipun kalau dibandingkan dengan mal Taman Anggrek (360.000 m2) atau mal-mal besar lain di Jakarta, Mal Arkadia termasuk sedang-sedang saja.

Toko buku itu juga ternyata relatif kecil jika dibandingkan dengan toko buku berbahasa Inggris Kinokunia di Jakarta; mungkin hanya seperlimanya saja. Namun saya sangat girang karena akhirnya saya bisa menemukan sumber buku yang cukup kaya dalam bahasa yang saya mengerti.

Saya menghabiskan beberapa jam di sana, dan — seperti biasa — tergoda pada banyak buku, meskipun akhirnya — dengan pertimbangan alokasi bagasi pesawat saat saya pulang ke tanahair nanti dan keuangan — saya hanya membeli satu buku. Satu untuk hari ini. Mungkin nanti saya akan kembali untuk membeli satu atau dua buku lagi. Saya harus bisa menahan diri karena alokasi bagasi dan anggaran saya terbatas.

Buku yang saya beli hari ini berjudul “Thinking, Fast and Slow” karangan Daniel Kahneman, psikolog Yahudi-Amerika, pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2002 untuk karya-karyanya di bidang psikologi pengambilan keputusan, ekonomi perilaku (behavioral economics), dan psikologi hedonis.

Saya baru membaca sekitar 30 halaman sebelum tidur tadi malam. Seperti saya duga, buku ini sangat menarik dan menjanjikan pencerahan tentang cara berpikir kita, membuka tabis mitos dan bias yang seringkali mengabutkan cara pandang kita tentang fenomena sehari-hari. Isinya, saya kira, sewarna dengan Freakonomics-nya Steven D. Levitt (yang bukunya saya baca sekitar delapan tahun yang lalu dan ikut memberikan endorsement di sampul belakang buku ini). Cerita lengkap tentang isinya dan resensinya mungkin nanti saja kalau saya sudah selesai membaca dan ada waktu untuk menulis.

Saya suka buku-buku seperti ini, yang tidak konvensional namun terkawal baik dari segi keilmiahannya.

Sekian dulu catatan hari ini.

Salam.

Satu pemikiran pada “Catatan di Polandia #11: Ke Toko Buku

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s