Makanlah Selagi Masih Hangat


Semua pencinta buku rasanya tahu betul ini: Not all books are created equal. Tidak semua buku sama. Bukan cuma sampulnya, harganya, atau isinya, tentu saja.

Buku itu seperti makanan: ada yang enak dicemil pelan-pelan dan membuat ketagihan, seperti keripik atau kuaci — yang tanpa terasa, tahu-tahu sudah habis, padahal kita masih ingin dan ingin lagi menikmatinya. Ada yang enak dimakan selagi masih hangat, seperti martabak atau nasi goreng. Yang ini tentu saja tak bisa dibiarkan mendingin, karena kalau sudah dingin kita jadi tak berselera lagi memakannya. Buku seperti ini harus segera kita lahap begitu keluar dari raknya — dari perpustakaan atau toko buku. Menunda-nunda membacanya akan membuat kita tak berselera lagi menikmatinya. Sebagian buku juga bisa tahan lama, seperti makanan awetan, sehingga bisa kita simpan untuk waktu yang lama tanpa menjadi basi atau tengik. Konon ini sifat buku klasik atau karya abadi.

Seperti halnya makanan, buku juga bisa keras atau benyék (lembek), hambar, pahit, manis, asin, pedas atau asam; bisa juga kepedasan atau keasinan, secara ‘objektif’ ataupun karena selera kita. Buku yang keras, kita perlu mengunyahnya berlama-lama; buku yang benyék, seperti bubur, mungkin bisa kita telan sekali jadi.

Ada buku yang ‘rame rasanya’, seperti klaim iklan permen Nano Nano dulu, aneh dan mengejutkan karena rasa yang menurut pakem tak semetinya ada di situ masuk ke situ. Buku seperti ini mungkin asyik dan menggemaskan bagi para pencinta petualangan literer.

Mahasiswa dan kalangan akademisi tentu juga tahu, banyak buku yang keras, pahit, dan bikin eneg, tapi tetap harus dikonsumsi juga, konon demi ilmu pengetahuan, atau — mungkin juga — demi nilai akademis, ijazah, dan gelar. Di dunia makanan, buku-buku seperti itu barangkali bisa disamakan dengan makanan diet atau makanan obat. Karena suatu kondisi atau tuntutan, mau tak mau, kita harus menelannya demi tujuan-tujuan yang akan mengameliorasi diri, demi kesehatan atau kecantikan.

Karena aneka ragam rasa dan teksturnya, tak semua buku bisa kita habiskan. Kadang-kadang buku yang menarik tampilannya dan menjanjikan isinya, tak seperti yang kita duga ketika kita sudah masuk ke halaman-halamannya. Kita berhenti, dan buku masuk kembali ke raknya. Mungkin kita bosan dengan isinya, mungkin kita sudah bisa menebak arah dan akhirnya, mungkin juga karena kita sedang kenyang, kekenyangan, dan tak bernafsu. Makanan juga seperti itu. Kadang-kadang kita tergoda oleh tampilan atau aromanya yang menggelitik indera, lalu ketika kita mencicipinya, namun kita tak tertarik untuk menghabiskannya. Mungkin rasanya tak cocok dengan selera kita, atau, mungkin juga, karena kita sedang kekenyangan dan hanya penasaran ingin mencicipinya.

Di dunia makanan ada lapar mata: ketika kita sedang lapar — saat berpuasa, misalnya — makanan apapun yang kita lihat bisa jadi sangat menggiurkan. Di dunia buku, dan bagi para pencinta buku, juga demikian. Buku apapun akan tampak menarik kalau kita sudah lama tak mendapatkannya, sudah lama tak membaca.

Demikianlah buku dan makanan, dua kebutuhan penting bagi para pencinta buku, yang tanpanya mereka tak bisa hidup.

Warsawa, PL, 3 Desember 2013,
Eki Akhwan

2 pemikiran pada “Makanlah Selagi Masih Hangat

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s