Memamerkan Isi Kutang Sendiri


Agar tidak terasa seksis, bisa saja judul tulisan ini diganti dengan “Memamerkan Isi Celana Dalam Sendiri”. Kedua-duanya sama saja. Saya tidak bermaksud seksis atau berlaku tidak adil karena gender.

Ini soal media sosial (medsos) dan kebiasaan orang memamer-mamerkan, dengan sengaja atau karena kelalaian, keburukan diri sendiri di dalamnya.

Sebagai warga medsos – saya warga Facebook, Twitter, Blog, dan Instagram – saya cukup sering menjumpai orang-orang yang suka marah, bersumpah-serapah, dan berkeluh-kesah tentang hal-hal pribadi di dalamnya.

Apa pantas?

Saya kira, tidak. Mengumbar kemarahan, sumpah-serapah, dan keluh-kesah pribadi di ruang publik seperti medsos sama saja dengan berteriak-teriak di tengah pasar di antara orang-orang yang tak tahu duduk perkara yang dipersoalkan. Orang-orang akan memandang dengan aneh dan mungkin mengira kita sedang kesurupan atau sudah sinting. Malu, kan? (Kecuali, tentu, kalau kita sudah tak punya kemaluan ☺.)

Di dunia nyata (bukan maya), kita menyembunyikan kemarahan kita, sumpah-serapah kita, dan keluh-kesah kita dan hanya mengungkapkannya pada orang-orang tertentu yang tahu duduk perkara hal yang kita persoalkan. Di lingkungan orang-orang beradab, suami tak memarahi istri (atau sebaliknya) atau bertengkar dengan istri (atau sebaliknya) di depan umum; bahkan di depan anak-anak sendiri pun sedapat mungkin dihindari. Apalagi kalau kemarahan (atau sumpah-serapah, keluh-kesah) itu tentang hal-hal yang tak semestinya keluar dari lingkungan rumah tangga atau orang-orang terdekat saja.

Marah-marah, bersumpah-serapah, atau berkeluh-kesah tentang hal-hal pribadi di muka umum menurunkan muruah diri. Pelakunya akan dipandang rendah. Seorang perempuan yang belum berjodoh mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lelaki terbaik bagi dirinya; seorang lelaki lajang juga akan bernasib sama.

Kemarahan, sumpah-serapah, atau keluh-kesah tentang hal-hal yang bersifat publik – seperti keadaan kota atau layanan pemerintah – tentu boleh diungkapkan di media sosial karena memang persoalan-persoalan seperti itu ada di ranah publik dan duduk perkaranya diketahui oleh banyak orang. Masalah pribadi tidak pada tempatnya diumbar ke ranah publik dan sebaiknya tetap berada di ranah privat dan domestik.

Dalam Bahasa Inggris ada ungkapan, “Don’t wash your dirty laundry in public.” Maknanya kurang lebih: Jangan marah, bersumpah-serapah, atau berkeluh-kesah tentang masalah-masalah pribadi di depan orang banyak. Ungkapan itulah yang saya terjemahkan dalam judul tulisan ini: (Jangan) memamerkan isi kutang (atau celana dalam) sendiri di depan umum! ☺

Mudah-mudahan kita bisa lebih arif pada hal-hal yang ditawarkan oleh teknologi. Teknologi tanpa kecerdasan dan kearifan bersikap akan membuat kita tampak dungu.

6 pemikiran pada “Memamerkan Isi Kutang Sendiri

  1. Ya sebaiknya di media sosial yang bijak saja. Keluh kesah yang tidak membuka aib diri sendiri gpp juga asal yang pantas saja. Terkadang bisa jadi dengan membuka hal yang ingin di sampaikan ke ranah publik menjadi lebih lega. Namun harus tetap berhati hati jangan semuanya diumbar. Salam kenal

  2. kirain mau mendiskripsikan pamer gambar vulgar yg menampakkan ‘isi’ nya.
    Mau sosmed atau nyata tetap jaga sopan santun, tetap hormat sesama.
    sosmed sebenarnya lebih simple, kalau ga sreg atau ga sopan tinggal delete atau blog.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s