Usia


Usia tak pernah bersembunyi dan tak bisa disembunyikan. Kulit keriput bisa “disetrika” (kosmetika dan teknologi modern konon bisa melakukannya), rambut putih juga bisa disemir, tapi usia tak pernah bersembunyi dan tak bisa disembunyikan.

Membaca itu, mungkin kau bisa menduga aku tak muda lagi — orang muda biasanya tak berbicara tentang usia; hanya orang yang sudah tahu bagaimana rasanya dimakan usia biasanya berbicara tentang usia: mensyukuri, mengeluh, menyesali …

Usia adalah keniscayaan. Kita lahir ke dalam ruang dan waktu yang berbatas dan bergerak. Kita mahluk fana. Keabadian hanya ada di luar ruang dan waktu, di ranah Tuhan dan syurga. Di sini — di tempat kita dilahirkan dan menjalani kehidupan — itu tak ada.

Manakala kita sadar bahwa usia adalah akibat dan wujud ruang-waktu yang berbatas dan bergerak, maka sadar pula kita akan batas-batas dan gerakan-gerakannya: dari tiada menjadi ada, dari lemah menjadi kuat, lalu — dalam siklus itu — kuat akan bergerak lagi menjadi lemah, dan ada menjadi tiada lagi. Tiada celah bagi keabadian. Yang ada hanya rasa dan warna-warni yang teramati — yang bergerak seperti musim, seperti tarian yang bercerita dalam langkah-langkahnya, mengikuti ketukan musik pengiringnya.

Seperti musim dan tarian, kita tak akan pernah mengerti usia kecuali dalam angka-angka — notasi, ketukan. Kita bergantung padanya untuk memahami gerakan-gerakan yang latif, yang mahalembut dan mengalir.

Aku yang telah mengumpulkan banyak angka di belakangku tahu bagaimana rasanya ada di angka-angka itu, angka-angka yang telah berlalu: I’ve been there, was there, know how it feels, remember what went on.

Maka kumpulan angka-angka itu, bagiku, bukan cuma angka-angka yang bersanding. Mereka bermakna karena, melalui gerakan-gerakannya, mereka mengajarkan padaku tentang semestaku: tentang tata dan logika, tentang sebab dan akibat, tentang segala yang latif dan tak terpermanai — tentang hal-hal yang tak bernama, belum bernama, tak bisa dinamai.

Aku tumbuh bersama angka-angka itu. Bukan hanya seperti tanaman yang tumbuh seiring musim — hayati, biologis — tapi juga dalam kecanggihan merasa, berpikir, dan bertindak. Orang menamainya dengan kearifan; tapi aku kira lebih dari sekedar itu:

Aku telah — dan masih — mengupas kenaifan demi kenaifan, yang salut-menyalut seperti bawang, menuju inti yang lebih putih, lebih bersih, lebih murni; inti yang selamanya dicari, tapi mungkin tak akan pernah ditemukan. Aku hanya menjadi lebih baik.

Ketika selapis kenaifan dikelupas, kita menjadi lebih canggih — refined: ego yang menandak-nandak menjadi lungguh dan semakin lungguh, amarah yang meledak-ledak menjadi luluh dan meluluh, aku menjadi kami, lalu kita, memahami dan semakin memahami; berangasan, tergesa-gesa di masa lalu tampak seperti seperti tarian patah-patah yang tak seirama dengan musik kehidupan yang begitu lembut dan mengalir dalam tata dan harmoni yang sempurna. (Bayangkan penari yang belajar menari dalam iringan musik yang hipnotik namun masih terantuk-antuk dengan hitungan dan ketukan yang ada di dalam benaknya.)

Begitulah aku memahami angka-angka yang bernama usia.

Eki Akhwan,
7 Desember 2013

_____________________
Latif (Bahasa Arab) dalam pemahaman saya: so refined, undefineably fine to the point of being mystical.

3 pemikiran pada “Usia

  1. saya sedang belajar konsep ruang, pengamatan, dan kesadaran, tulisan bapak sangat membantu saya semakin memahami, thanks for sharing, really appreciate🙂 sukses terus pak!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s