Negara Yang Paling Ingin Saya Kunjungi


Waktu kecil dulu saya pernah bercita-cita berkeliling dunia. Saya tidak tahu bagaimana asal-muasal cita-cita itu. Mungkin karena saya banyak membaca dan melihat foto-foto tentang tempat-tempat indah di dunia ini. Mungkin.

Sekarang cita-cita itu hampir tercapai. Dari timur ke barat, hanya Lautan Atlantik saja yang belum pernah saya seberangi, meskipun saya sudah pernah berada di daratan di kedua tepinya. Tiga belas negara dan/atau wilayah di tiga benua sudah saya kunjungi hingga saat ini. Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin tidak seberapa. Tapi untuk saya, anak kampung bukan dari keluarga kaya raya, jumlah itu cukup banyak.

Semangat menjelajah sekarang masih ada. Saya masih ingin menjejakkan kaki di dua benua lagi: Afrika dan Australia. Tapi seiring usia, semangat itu sudah tak terlalu menggebu-gebu seperti dulu. Pengalaman sudah membuat saya tak terlalu mudah kaget dan gumun (takjub, terheran-heran). Ada sikap I’ve been there, I’ve seen (things more amazing than) that, I’ve done (things more challenging than) that …. Tak baik memang, karena apa yang telah saya lihat dan alami masih belum seberapa dibandingkan apa yang masih belum saya lihat dan alami.

Oh, jadi lupa. Tadi sebenarnya saya cuma ingin berbicara tentang negara yang paling ingin saya kunjungi saat ini. Tahu, negara mana? *Kata ‘paling’ saya garisbawahi, karena meskipun saya ingin ke sana, bukan berarti saya tak ingin ke tempat-tempat lain.*

Amerika?

Tidak. Saya sudah pernah ke dan tinggal di sana. Sudah cukup banyak tempat yang saya kunjungi di sana. Masih ada beberapa tempat yang masih ingin saya sambangi, memang, tapi saya kira saya masih bisa menunggu.

Eropa?

Mungkin. Saya sedang berada di sini sekarang, dan meskipun baru sedikit yang saya lihat, saya kira banyak (kebanyakan) bagian Eropa punya karakter yang mirip satu dengan yang lain: tua dan ancient, historik dan nostalgik. Yang mereka tawarkan kebanyakan wisata tentang masa-masa keemasan mereka yang baru saja mereka nikmati dua, tiga, atau empat ratus tahun yang lalu, plus sedikit alam.

Afrika?

Ya, saya belum pernah ke Afrika. Jika waktunya tiba, saya ingin ke ujung selatan Afrika, tempat Atlantik bertemu dengan Hindia, lalu bersafari di padang sabana Kenya melihat kehidupan binatang liar di sana; mungkin juga ke tepian Sahara di atas Afrika. Tapi saya masih bisa menunggu.

Australia?

Saya memang belum pernah ke sana dan sudah membaca cukup banyak tentang tempat-tempat menarik di sana, tapi entah kenapa, saya belum terlalu tergerak untuk bersegera ke sana. Perasaan saya biasa-biasa saja tentang benua itu. Alamnya mungkin menarik, tapi kultur ‘Putih’nya membuatnya berasa kurang eksotis di mata saya. Saya masih bisa menunggu.

Asia?

Ini benua terbesar di muka bumi kita, tertua dari segi peradabannya (Mohenjo Daro, Mesopotamia), benua paling kompleks menurut saya. Ragam kebudayaannya sungguh menakjubkan. Sebagian India, Nepal, Tibet, Himalaya, Mongolia dan Asia tengah dengan jalur suteranya sangat eksotik di mata saya. Tentu saya ingin ke sana. Namun saya belum yakin apakah saya akan pernah sampai ke sana.

Sudah cukup banyak tempat yang saya kunjungi di Asia, meskipun tak seberapa dibandingkan besarnya.

Lalu?

Negara yang paling ingin saya kunjungi saat ini justru bukan negara yang besar atau terkenal turismenya. Saya ingin ke Korea Utara.

Kenapa?

Jawaban pastinya saya tidak tahu. Tapi negara ini di mata saya tampak eksotik, justru karena ia tertutup, sering digambarkan secara negatif oleh media, dan — sangat mungkin — disalahpahami oleh dunia. Sistem dan rezim yang berlaku di sana membuatnya tampak eksotik di mata saya: saya membayangkan di sana ada keteraturan dan disiplin yang amat berbeda dengan bagian-bagian lain di dunia, modern namun ‘sunyi’, tak ada ingar-bingar kebebasan yang gaungnya saat ini kadang-kadang terasa memekakkan telinga. Mungkin di sana ada ‘muted obedience’ yang tak ada di tempat-tempat lain, ada sisa-sisa dan artifak masa lalu yang tak terlalu jauh yang terbungkus dalam modernitas. Mungkin. Sulit menjelaskannya, apa yang membuat saya tertarik dengan negara ini.

Di situs-situs berita dan di Instagram, saya mengikuti dengan penuh minat apa yang terjadi di sana. Melihat gambar-gambar yang dikirimkan oleh satu atau dua Instagramers yang saya ikuti, insider’s look dari sana, seolah-olah seperti mengintip adegan-adegan sensual dari lubang pintu yang amat kecil yang menyajikan pemandangan eksotis yang berada di antara ada dan tiada. Sangat menggiurkan.

Bagaimana dengan kau? Negara atau tempat apa yang paling ingin kau kunjungi? Kenapa?

4 pemikiran pada “Negara Yang Paling Ingin Saya Kunjungi

  1. Saya sih ingin ke jazirah Arab pak. Penasaran wilayah tempat diutusnya Rasulullah itu seperti apa.

    lalu kanada, jepang, dan negara-negara viking karena standar kehidupannya yang tinggi,

    dan amerika hanya karena penasaran😀

      1. Hehe, iya Pak. Saya pikir “penasaran” bukan sekedar “hanya”😄 Banyak cerita mengenai kenabian yang pasti akan saya lihat dengan cara yang berbeda kalau saya tahu lokasi aslinya seperti apa. Lagipula pasti ada “sesuatu” disana makanya Rasul diutus di jazirah Arab, bukan kepulauan Indonesia😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s