Kisah Tepung Dan Bala-Bala


Catatan di Polandia #14

Terus terang saya sudah ngantuk, dan stamina saya sedang down. Tidak ada gairah untuk menulis. Tapi saya coba.

Jumat malam lalu(13/12), saya betul-betul ‘ngidam’ (duuh, kayak perempuan yang lagi hamil aja ya? :D). Tapi sungguh, hari itu tiba-tiba saya ingin goreng-gorengan yang asin dan gurih seperti … ya …, seperti bala-bala (disebut juga bakwan goreng di tempat lain). Padahal, sungguh mati, di tanahair saya termasuk orang yang tak begitu peduli dengan goreng-gorengan. Maksudnya, kalau kebetulan ada ya dimakan, kalau tidak ada pun tak apa-apa. Mungkin karena Friday the 13th ya? Jadi dedemit yang ada di dalam minta sesajen spesial … ha ha ha …

Maka, malam itu, sepulang dari kantor saya sempatkan mampir di Carrefour Express (swalayan kecil yang di Indonesia dirajai oleh Indomart, Alfamart, dan mart-mart lain). Saya mencari tepung terigu. Saya tahu, cuma itu yang bisa saya dapatkan di sana. Bahan-bahan lain tak bisa saya dapatkan.

Setelah bolak-balik di sekitar rak yang memajang maka (bahasa Polandia untuk tepung), saya ambil sebuah bungkusan setengah kiloan. Pertimbangannya sederhana saja, bungkusan itu termasuk yang paling murah, dan kecil. Kemasan-kemasan lain yang bertuliskan maka saya lihat lebih mahal dan isinya satu kiloan. Setengah kilo cukup lah untuk diri sendiri; toh saya tidak berencana jualan bala-bala?

OK. Sampai di rumah, saya lupakan sejenak keinginan makan bala-bala dengan menulis dan membaca. Bumbu-bumbu ada, tapi di kulkas saya lihat tak ada persediaan sayur-sayuran yang dibutuhkan untuk membuat bala-bala. Saya harus menunggu sampai pagi untuk ke Tesco, supermarket terdekat yang menjual bahan-bahan yang saya butuhkan.

Pagi-pagi benar saya berangkat ke Tesco, dan sepulang dari sana, langsung meracik adonan bala-bala yang resepnya saya dapatkan dari internet (nah, ketahuan kan, kalau sebelumnya saya belum pernah masak bala-bala?) .

Dengan gaya ala chef yang bekerja cekatan (mungkin sebenarnya karena kelaparan juga), tak lama kemudian jadilah itu bala-bala. Aromanya pas, dan ketika dicicipi, juga pas. Horeee … berhasil!

Namun di tengah eforia itu, ada sedikit kejanggalan. Kenapa bagian tepung bala-bala ini terlihat bening dan terasa kenyal seperti lem atau tepung kanji? Ada yang salah??

Maka, setelah setelah melahap hampir setengah piring (biar aneh, habis juga tuh setengah piring!), saya cek lagi tepung yang saya curigai menjadi sumber keanehan tadi. Di sana tertulis ‘MAKA ZIEMNIACZANA’. Saya ambil kamus, dan … alamaaaak … ternyata tepung itu adalah tepung kentang (ziemniaczana). Pantaaas … beda.

Intinya, saya cuma mau bilang, di sini tepung begitu banyak jenisnya. Di Indonesia, tepung mungkin cuma ada empat atau lima jenis: tepung terigu (gandum), tepung beras, tepung maizena (jagung), dan tepung tapioka (aci). Tepung kentang mungkin ada juga, meskipun yang tahu mungkin cuma ibu-ibu yang rajin memasak. Di sini tepung terigu pun bermacam-macam — mungkin seperti jenis-jenis beras dan produk-produk turunannya di negara kita. Maklumlah, mereka kan pemakan terigu, dan kita pemakan beras.

So, next time saya harus lebih berhati-hati kalau membeli tepung. Kamus harus dibawa, agat tak salah beli.🙂

Itulah kisah tepung dan bala-bala. Maaf kalau agak garing. Saya sudah ngantuk.

Good night!

Satu pemikiran pada “Kisah Tepung Dan Bala-Bala

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s