Belajar Itu Apa?


Belajar itu apa? Apa itu belajar?

Tiga hari yang lalu, saya menuliskan ini di akun Twitter saya:

“Kalau saya bertanya, lalu menemukan jawabannya, maka saya sudah belajar.”

Belajar, bagi saya, adalah menemukan jawaban atas suatu pertanyaan, suatu masalah.

Pertanyaan, atau masalah, adalah awal dari suatu pembelajaran. Orang yang tak pernah mengajukan pertanyaan, tak pernah merasa ada masalah, tak kan banyak belajar. Bertanya dan mempermasalahkan adalah awal dari belajar.

Awal, karena ia hanya setengah dari prosesnya. Bagian kedua dari proses itu adalah mencari jawabannya, penyelesaiannya. Dan untuk itu, kita bergerak: mencari, mengamati, mencoba, mengalami, meneliti, membaca, menghubung-hubungkan, meruntuhkan (hipotesis, mitos, asumsi dan keyakinan yang dipertanyakan) dan membangun atau membangun/menyusun kembali apa yang telah kita runtuhkan — mungkin seperti bermain Lego, atau Jigsaw Puzzle.

Oleh karena keyakinan itu, saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli pada sekolah, apalagi sekolah konvensional, yang tidak mengajari murid-muridnya untuk bertanya dan mempertanyakan serta mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Sekolah yang hanya menyuapi murid-muridnya dengan informasi, bagi saya, adalah institusi kebodohan dan pembodohan yang melahirkan orang-orang yang tahu tapi tak tahu untuk apa yang dia tahu; calon-calon budak yang tidak kritis, penurut yang pasrah pada tempat dan kedudukannya, orang-orang yang tidak bergerak jika tak digerakkan (seperti sapi atau kerbau yang dicocok hidung untuk membajak sawah oleh lecutan petani yang ada di belakangnya), jumud dan menjalani kehidupan sebagai pengulangan hal-hal yang sama dari lahir hingga mati.

Belajar adalah bertanya, mempertanyakan, mempermasalahkan, lalu mencari jawaban atau penyelesaian atas pertanyaan atau masalah itu.

Orang yang bisa melakukan itu semua, tak perlu sekolah. Dia akan pintar dan menjadi bijak. Sekolah hanya perlu kalau ia bisa membekalinya alat — cara — untuk mencari jawaban atau menyelesaikan masalah; membantunya mencari dan menemukan apa yang ia cari. Tanpa itu — jika tak memenuhi persyaratan itu — sekolah hanyalah paberik korek api.

Eki Akhwan,
18 Desember 2013

3 pemikiran pada “Belajar Itu Apa?

  1. Pak, saya selalu bertanya-tanya seperti ini: apakah “curiosity” (awalnya saya menggunakan “rasa penasaran” tapi kok aneh ya..) pada siswa itu bisa di-“generate” oleh sistem pendidikan? Jika bisa, bagaimanakah caranya?

    1. Sangat bisa, Fikri. Itu bisa dilakukan dengan rekayasa kurikulum yang beimbas pada metodologi pengajaran, buku teks, dsb.

      Jika kurikulum belum memungkinkan, guru bisa melakukan rekayasa metodologi seperti menggunakan project-based learning dalam pembelajarannya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s