Instagram-ku


Salah satu tanda saya sedang sibuk, kelelahan, kurang fit, atau malas adalah saya tidak menulis untuk blog ini, seperti kemarin dan (mestinya) hari ini. Sejak kemarin saya memang merasa kurang sehat dan lesu, meskipun saya tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja, sepulang bekerja, saya langsung terkapar di tempat tidur, tak ada lagi tenaga dan hasrat untuk membuka komputer dan menulis.

Malam ini pun demikian. Saya menulis ini sambil berbaring, tanpa membuka komputer. Saya menulis di sabak (tablet) saya. Kurang nyaman memang, karena ukurannya kecil. Jari saya — yang sebenarnya ukurannya normal-normal saja — sering meleset memencet huruf yang salah (s untuk a, m alih-alih tombol spasi). Agak menjengkelkan. Tapi tiduran membuat saya lebih nyaman kalau kepala sedang berat begini.

Baiklah, malam ini saya tidak berencana menulis panjang lebar. Saya perlu beristirahat, agar kondisi cepat pulih. Saya hanya ingin sedikit berbagi tentang Instagram saya.

Ya, saya juga warga Instagram. Belum lama, baru sekitar satu tahunan, sejak saya punya sabak.

Instagram adalah cara baru saya menikmati hobi fotografi saya, yang sudah saya tekuni sejak masih di SMP.

Sejak mengenal Instagram, saya tidak lagi merasa terlalu perlu membawa-bawa kamera kemana-mana seperti sebelumnya. Paling tidak, saya tidak perlu takut ketinggalan kamera selama saya masih membawa sabak saya. Instagram lebih menyenangkan, karena saya bisa langsung menyunting hasil jepretan saya dan membagikannya serta memamerkannya saat itu juga. Saya juga bisa langsung dapat ‘like’ atau komentar, bukan cuma dari teman-teman dan pengikut saya, tapi juga dari seluruh dunia — kalau saya mau.

Pada mulanya, saya ber-Instagram karena/secara iseng saja. Untuk memotret secara serius, saya tetap memakai kamera sungguhan. Namun, lama-kelamaan, saya merasa Instagram punya potensi yang luar biasa dan bisa menjadi media ekspresi visual yang unik. Maka sekarang saya menganggapnya serius. Dengannya, saya tak cuma berusaha membuat foto-foto yang bagus, tapi juga berencana membuat pameran dan menerbitkan buku meja. Mudah-mudahan ada tenaga dan modal untuk melaksanakannya.

Rencana itu tengah saya garap serius. Tema projeknya sudah saya dapatkan. Narasi dan proses kurasinya pun sudah terbayangkan. Ada keyakinan bahwa pameran ini akan lebih berhasil daripada pameran tunggal pertama saya yang saya siapkan seadanya dengan bantuan mahasiswa dan teman-teman.

Baiklah, foto-foto seperti apa yang saya pamerkan di Instagram saya? Di bawah ini sebagian contohnya:

image

image

image

image

Saat ini di akun Instagram saya sudah ada hampir 500 foto, dan — insyaallah — akan terus bertambah setiap hari. Empat (atau tujuh?) sampel di atas bisa dianggap mewakili atau tidak mewakili kumpulan karya saya, karena saya cenderung eklektik dalam gaya dan tema. Bagi yang bisa melihatnya secara kritis, barangkali ada benang merah yang mengikat karya-karya itu. Namun, kalaupun tidak terlihat, tidak apa-apa juga. Saya tetap percaya, karya foto bisa dinikmati sebagai satuan-satuan tunggal maupun collective body of work yang mencerminkan pribadi dan cara pandang fotografernya.

Bagi yang berminat, atau sekedar penasaran, silakan kunjungi galeri Instagram saya di @equshay.

Selamat malam. Saya tidur dulu. Badan saya sudah memberi aba-aba memanas. Doakan saya segera bugar lagi ya!

Cup, cup,cup, … salam cinta untuk semua.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s