Catatan Pendek dari Berlin #1


Pukul 11 malam lebih sedikit tadi saya terbangun. Beberapa penghuni kamar terdengar sedikit gaduh: ada yang ke kamar mandi, berdandan, … Tampaknya mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat dugem. Maklum, anak muda.

Saya tetap di tempat tidur, mengambil dan memeriksa sabak (tablet), barangkali saja ada pesan atau notifikasi baru.

Malam ini saya menginap di kamar berjenis asrama berisi 8 orang di sebuah hostel di kawasan Mitte di Berlin. Hostel untuk para backpacker — yang ingin banyak melihat, berwisata, tanpa mengeluarkan biaya terlalu besar untuk urusan akomodasi — seperti saya.

Kamar berjenis asrama memang menjadi pilihan saya kalau bepergian sendiri (tanpa keluarga) ke tempat-tempat yang saya anggap mahal, seperti Eropa atau Amerika. Dengan cara ini, biaya penginapan jadi jauh lebih murah. Saya sudah melakukannya paling tidak di empat kota besar: New York, Washington DC, San Francisco, dan sekarang Berlin.

Saya tiba ZOB (Zentrale Omnibusbahnhof), terminal bis utama kota Berlin, pukul 7:15 bakda subuh tadi setelah menempuh perjalanan  kurang lebih delapan jam dari Warsawa, dengan perhentian tiga kali, di Łódź Kaliska, Torun, dan pinggir kota Berlin.

Dari sana saya naik Bahn, kereta api, ke pusat kota. Mula-mula untuk mencari penginapan yang direkomendasikan oleh teman saya, yang katanya dekat dengan kantor KBRI Berlin dan restauran Indonesia; namun karena kesulitan menemukanhya dan karena pertimbangan waktu, akhirnya saya putuskan untuk jalan-jalan dulu, dan mencari penginapan kemudian.

Kebetulan saat itu saya berhenti di Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama dan terbesar di kota Berlin (?), dan dari struktur atap kaca dan besi stasiun yang sangat megah dan ‘cantik’ ini, di luar saya lihat kubah kaca gedung Deutscher Bundestag (Parlemen Jerman) yang terkenal itu. Tampaknya tidak jauh, dan ternyata memang tidak terlalu jauh, karena letaknya hanya di seberang halaman stasiun — mungkin seperti jarak belakang stasiun Gambir ke pagar Istana Merdeka.

Méjéng di depan gedung Bundestag sebelum ikut antri masuk. :D
Méjéng di depan gedung Bundestag sebelum ikut antri masuk.😀

Setelah ikut antre untuk registrasi, saya mendapat giliran masuk dan naik ke kubah itu sekitar pukul 12:00, bersama beberapa orang lain.

Arsitektur kubah ini sungguh menakjubkan. Tak henti-henti saya memotret karena setiap detilnya — garis, lengkung, dan komposisi geometrisnya — terasa membetot-betot senar-senar harmoni visual yang ada di dalam diri saya.

Dari Deutcher Bundestag saya berjalan ke arah menara televisi Berlin (Berliner Fernsehturm), yang, meskipun terlihat dekat, ternyata jauh. Saya memutuskan tidak naik tadi, karena ketika sampai di sana, antrian masih cukup panjang, dan  saya diberitahu oleh petugasnya bahwa hari itu menara akan tutup lebih awal, yaitu pukul 4.

Untungnya, sebelum sampai ke dasar menara, dalam perjalanan dari Bundestag, saya menemukan banyak atraksi menarik yang memberi saya banyak kesempatan untuk memotret. Salah satunya pasar natal yang digelar di sebuah taman di tak jauh dari menara Berlin tadi.

Saya menemukan dan check in di di hostel sekitar pukul 5, setelah sempat kesasar karena salah naik tram.

4 pemikiran pada “Catatan Pendek dari Berlin #1

    1. Kata itu usulan saya saja. Dulu, zaman kakek nenek, mereka bersekolah menggunakan sabak yang bentuk dan fungsinya mirip dengan apa yang kita sebut tablet sekarang. Tentu sabak bukan peralatan elektronik. Tapi kita bisa mengadaptasikannya, kan?😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s