Perihal Natal dan Ucapan Selamat Natal


Setiap menjelang hari Natal, selalu ada ketegangan, kontroversi, tentang halal-haram hukum mengucapkan selamat Hari Natal di kalangan umat Islam di tanahair, juga di banyak tempat lain di dunia. Sebagian berpendapat boleh, sebagian berpendapat mubah, sebagian lagi berpendapat haram. Umat jadi terpecah.

Saya tidak dalam posisi untuk mengulas hukum dan pendapat-pendapat itu. Orang-orang yang lebih mumpuni ilmunya telah melakukannya. Namun ada baiknya kita renungkan apa dan kenapanya di balik isu itu, agar kita bisa berbeda tanpa saling menghakimi, saling mencela, saling memukul, dan menjadi terpecah belah.

Orang-orang yang berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal haram hukumnya, berpegang pada keyakinan bahwa dalam ucapan selamat Natal, terdapat pengakuan implisit bahwa Isa Alaihisalam adalah putera Tuhan, dan oleh karena itu melanggar keyakinan fundamental dalam akidah Islam bahwa Tuhan tidak berputera dan tak diputerakan.

Bisa dimengerti.

Orang-orang itu juga berkeyakinan, dengan mengucapkan selamat Natal, umat akan menjadi luruh-hati, hangat, dan dekat dengan kaum Nasrani, dan hal itu (berpotensi) menyebabkan sekat identitas yang telah digariskan secara tegas antara kami dan mereka menjadi luruh. Ada kekhawatiran ghirah akan meluntur dan, dengannya, kemauan dan semangat untuk menegakkan agama, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, juga menjadi kabur.

Ini juga bisa dimengerti.

Di sisi lain, orang-orang yang merasa mengucapkan selamat Natal boleh, merasa bahwa ucapannya tak mengurangi keyakinannya, mendistorsi akidahnya. Lakum dinukum waliyadin, bagimu apa yang kau yakini, bagiku apa yang aku yakini. Rayakan apa yang kau yakini seperti aku merayakan apa yang aku yakini. Hubungan kita adalah hubungan kemanusiaan yang adil dan saling menghormati. Aku menghormatimu seperti kau menghormatiku; aku tak mencela dan memusuhimu seperti kau tak mencela dan memusuhiku. Aku mengucapkan ini karena aku tak mungkin meniadakan adamu, seperti kau tak bisa meniadakan adaku. Kita adalah realitas yang diciptakan, dipelihara, dan dijamin hak hidupnya oleh Tuhan — kalau tidak, mungkin Dia telah memusnahkan pihak-pihak yang Dia tahu pasti tidak benar dengan sekali jadi.

Perbedaan ada karena Dia tak ingin ditemukan dengan mudah. Bersua dan bermakrifat dengan Tuhan adalah perjuangan yang harus ditempuh dengan ilmu, perenungan dan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan. Itulah jalan yang ditempuh rasul-rasul Allah sebelum mendapatkan wahyu, hidayah, dan pencerahan.

Masalah ghirah juga bukan masalah ketegasan batas-batas identitas semata — meskipun itu perlu; pengakuan terhadap (keberadaan) lian (the other) justru bisa memperkuat the sense of who we are. Jadi tidak perlu takut.

Agama adalah identitas, dan identitas adalah bagian penting dari agama. Identitas agama dibentuk oleh kredo, keyakinan dasar, tentang apa yang baik dan benar dan apa yang buruk dan salah, termasuk dalam hal ketuhanan/akidah — yang menjadi inti dari kredo itu. Dengan kredo itu, umat beragama memperjuangkan tatakehidupan yang menurut keyakinan mereka pantas, baik, dan utama.

Bagi umat Islam, inti dari kredo itu adalah dua kalimat syahadat, yang mempersaksikan bahwa tiada tuhan melainkan Allah — Yang Tunggal mutlak, dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Inti inilah yang menggerakkan umat Islam dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, yang dalam fikih (Arab: fiqih) dilembagakan dalam rumusan rukun iman dan rukun Islam.

Dalam rukun iman, umat Islam meyakini enam hal yang utuh dan tak dapat dipisah-pisahkan — percaya pada sebagaian, namun tak percaya pada sebagian yang lain: orang yang mengaku beriman kepada Allah, harus percaya pula pada keberadaan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab wahyu-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qada dan qadar. Dan tanda-tanda orang-orang yang beriman adalah melaksanakan rukun yang menjadi perwujudan dari keimanannya itu, yaitu rukun Islam: sahadat, shalat, puasa, dan (bagi yang mampu) zakat dan haji.

Rukun iman dan rukun Islam adalah tiang-tiang (lembaga, penubuhan) agama, yang dengannya kita memperjuangkan dan menegakkan segala yang ma’ruf (baik, pantas) dan menghindarkan/mencegah segala yang mungkar. Di dalam perjuangan itu, dua relasi selalu menjadi pandunya: relasi pada Tuhan (hablumminallah) dan relasi pada sesama (hablumminannaas).

Dua pandu itu ibarat dua ujung magnet: ketika ujung yang satu bisa menunjuk ke utara dengan tepat dan benar (true north, tanpa distorsi), maka dengan sendirinya ujung selatan akan kita temukan. Ketika hubungan kita dengan Tuhan benar dan tak terdistorsi, maka hubungan kita dengan manusia juga pasti benar.

Masalahnya adalah, true north kita hampir tidak pernah tepat dan benar, selalu ada distorsi ego, sosial, politis — kecuali, mungkin, bagi pribadi-pribadi yang maksum (terjaga) seperti rasul, nabi, dan orang-orang saleh. Kita manusia, dan distorsi adalah bagian dari kemanusiaan kita dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kadang-kadang kita terlalu vain, kadang-kadang kita tak bisa melepaskan diri dari kepentingan diri dan kelompok sosial kita, kadang-kadang kita tak dapat melepaskan diri dari lingkungan dan tekanan sosial dan politik — termasuk dalam hal bertuhan.

Maka hubungan kita dengan Tuhan pun selalu diwarnai oleh kedirian dan kesosialan kita; maka hubungan kita dengan sesama manusia pun terlunturi oleh warna kita sendiri, bukan murni warna dan kehendak Tuhan.

Alangkah naifnya kita bila merasa bahwa kitalah yang paling benar, sementara yang lain salah. Keberagamaan kita adalah dinamis, karena kita dikarunia oleh Tuhan unsur-unsur yang membuat kita bersifat dinamis: kita semua mencari kebenaran yang tepat, yang pasti, tapi kebenaran yang seperti itu nyaris tak pernah tergenggam karena kita sendiri bergerak bersama — digerakkan oleh — unsur-unsur yang membangun diri kita.

Satu pemikiran pada “Perihal Natal dan Ucapan Selamat Natal

  1. Toleransi.
    Menurut saya kembali ke pribadi masing-masing. Mau ucapin silakan, mau cuek atau melarang ya monggo. Kalau saya masih tahap boleh, dunia terdiri dari banyak kepercayaan walau saya meyakini agama saya pling benar kita tetap harus menghormati kepercayaan orang lain. Samapi dunia kiamat taka akan ada satu agama yg dianut oleh seluruh umat. Akan ada perbedaan sampai dunia ini berakhir. Jadi di hidup yang singkat ini kenapa kita memikirkan hal yang bisa kita tak usah dipikirkan?
    Mending menikmati hidup dan lakukan apa yg kamu percayai.😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s