Toilet 7000, Toilet 14000


Toilet termahal?

Pernah membayar tujuh ribu rupiah atau empat belas ribu rupiah untuk masuk dan menggunakan toilet umum?

Melihat angka-angka itu, orang yang kebetulan sedang tidak pegang banyak uang, atau tidak betul-betul kebelet, mungkin akan lebih baik menunggu atau menunda buang hajatnya. Atau, kalau sudah tak tahan lagi, cari tempat gelap di antara pepohonan atau di balik tembok, kalau untuk sekedar pipis. [*Tutup mata dengan tangan seperti monyet di sebelah. Peringatan: Sangat tidak dianjurkan! Risiko ditanggung sendiri.*] 85-see-no-evil-monkey Untuk bab atau buang air besar, mungkin masalahnya lain lagi …

Namun angka-angka itu bukan sekedar candaan, gurauan. Saya betul-betul mengalaminya – membayar sejumlah itu untuk sekedar buang hajat kecil.

Terpaksa?

Mungkin. Menahan buang hajat adalah salah satu hal paling menyiksa, apalagi dalam perjalanan jauh.

Dalam perjalanan dari Warsawa ke Berlin minggu yang lalu, bus yang saya naiki singgah di beberapa stasiun. Salah satunya di Lódź Kaliska, sebuah kota kecil sekitar dua jam perjalanan dari Warsawa. Saya ingat betul waktunya pukul satu malam. Artinya perjalanan masih enam jam lagi sebelum sampai ke Berlin. Saya, yang dalam perjalanan banyak minum karena udara di dalam bus terlalu ‘panas’, merasa harus buang air kecil. Tidak terlalu kebelet sebenarnya, tapi mengingat jarak tempuhnya masih tiga perempat lagi, saya merasa lebih aman kalau segera membuang desakan kecil yang mulai terasa – daripada menahannya enam jam lagi.

Maka, setelah bertanya pada awak bus berapa lama bus akan berhenti, saya segera mencari WC umum. Saya yakin pasti ada. Terminal bus adalah salah satu tempat di mana toilet selalu tersedia, saya pikir. Dan memang ada, meskipun lokasi dan keadaannya tidak seperti yang ada dalam skemata di pikiran saya, yang referensinya masih pada terminal-terminal bus di tanahair.

Di sudut terminal, di ujung tempat terbuka tempat bus-bus parkir, tertulis ‘Toaleta’ – Nah! Ini dia yang saya cari. Tapi alamaaak … ternyata kubus itu terkunci pintunya! Jam segini, pasti penjaganya sudah pulang …, pikir saya.

Inilah tampak luar toilet koin otomatis itu.
Inilah tampak luar toilet koin otomatis itu.

Tapi dugaan saya ternyata salah. Kubus itu toilet koin. Setelah membaca petunjuk di sebelah pintunya, yang untungnya ada bahasa Inggrisnya, all I needed to do was to insert a coin or two … 2 Zloties … Hmmm … 7000 rupiah?

Untuk toilet 7000 rupiah, kubus itu ternyata tidak terlalu istimewa fasilitasnya. Tidak terlalu bersih, juga tidak harum. Di dalamnya juga nyaris tidak ada air, apalagi air untuk cebok – seperti umumnya toilet di wilayah-wilayah yang cebok (dengan air) tidak menjadi kewajiban. Air hanya ada di wastafel berukuran 10 x 10 cm, tempat cuci tangan. Saya juga tidak bisa berlama-lama di sini. Di dinding ada jam digital yang berdenyut merah menunjukkan jatah waktu yang saya punyai: maksimal 15 menit.

Tampak dalam toilet koin otomatis.
Tampak dalam toilet koin otomatis.
Petunjuk pemakaian toilet koin otomatis. Setelah 15 menit, orang lain bisa masuk … Braaakk … kebayang ya, sedang enak-enaknya duduk mules ada yang masuk … hehe ...
Petunjuk pemakaian toilet koin otomatis. Setelah 15 menit, orang lain bisa masuk … Braaakk … kebayang ya, sedang enak-enaknya duduk mules ada yang masuk … hehe …

Pengalaman itu bukan satu-satunya dan, setelah saya renungkan lagi, ternyata bukan yang pertama juga.

Di Krakowski Predmieście, salah satu jalan utama di Warsawa, saya pernah membayar 1 złoty untuk toilet umum. 1 złoty, yang nilainya kira-kira setara dengan 3500 rupiah, mungkin sebenarnya tidak mahal untuk ukuran masyarakat setempat. Cuma, dalam pikiran saya yang menerjemahkannya ke dalam rupiah, terasa menggelikan.

Gara-gara terjemahan nilai tukar itu pula, saya merasa lebih geli lagi ketika saya terpaksa harus menggunakan toilet umum di Berlin, yang bermata uang euro. Sekali masuk ke toilet umum di Berlin bertarif € 1. Dengan nilai tukar rupiah yang sedang merosot tajam sekarang, itu artinya 14.000-an. What a price!

Eropa memang tempat yang terlalu mahal untuk orang Indonesia, paling tidak untuk orang Indonesia seperti saya yang penghasilannya pas-pasan. Dan itu semua karena nilai mata uang kita yang begitu rendah. Itu pula yang membuat saya betul-betul berhitung untuk jalan-jalan di lebih banyak tempat di Eropa.

3 pemikiran pada “Toilet 7000, Toilet 14000

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s