Berhentilah Mencela Indonesia


Tulisan ini terinspirasi oleh status seorang kawan saya di FB. Dia memulai statusnya dengan:

“Cuma di Indonesia, … Cuma di Indonesia …”

Titik-titik itu berisi keburukan seorang tersangka tindak pidana korupsi yang baru-baru ini ditahan oleh KPK.

Saya terhenyak, dan sedih. Kecenderungan korupsi dan perbuatan koruptif tidak hanya terjadi di Indonesia. Kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik juga tak cuma terjadi di Indonesia. Koruptor yang sudah ditangkap oleh penegak hukum, lalu tetap ngotot mempertahankan kewenangan, kekuasaan, privilege, harta, bahkan ‘kehormatan’-nya juga tak hanya dilakukan oleh manusia-manusia Indonesia. Kalau kita mengenal sifat manusia, hal-hal itu adalah hal yang azasi — sifat dasar manusia.

Saya tidak akan membela orang-orang yang telah (terindikasi) melakukan kejahatan dan merugikan kepentingan umum. Seperti kebanyakan orang, saya benci kejahatan dan ketidakadilan. Jika terbukti, orang-orang seperti itu pantas dicela, dihukum, dan menerima konsekwensi atas tindak kejahatan yang dilakukannya. Namun celaan dan hukuman itu tak pantas dijatuhkan pada orang-orang yang tidak secara langsung terlibat dalam kejahatannya: tidak kawan-kawannya, tidak keluarganya, tidak asal suku dan daerahnya, apalagi negara dan tanahairnya.

Saat ini kita terlalu sering melihat, mendengar, dan membaca orang menempelkan atribut Indonesia pada hal-hal buruk yang terjadi di negara ini. Orang-orang seperti itu, dalam pikiran saya, mirip seperti orang yang membakar dan meruntuhkan rumahnya sendiri hanya karena di rumah itu ada tikus atau kecoa. Mereka kalap, lalu rumah megah dan indah yang mereka bangun dengan susah payah, dengan segala pengorbanan itu, mereka obrak-abrik, mereka cela dan kutuki.

Rumah itu, yang di kala lain mereka puji-puji dan mereka banggakan di depan tetangga-tetangga mereka, dan mereka jaga dan bela mati-matian jika ada yang hendak mencuri dan menggarong, kini mereka cela, mereka kutuki, mereka obrak-abrik, dan mereka coba bakar sendiri.

Indonesia adalah rumah kita. Dengan susah payah kita telah merebutnya kembali dari orang-orang yang dengan tiada hak telah menguasainya. Dengan susah payah dan cucuran darah dan air mata orang-orang tua kita telah berjuang menegakkannya. Maka, janganlah kita menuding rumah itulah yang salah dan bersalah ketika di dalamnya kita temukan tikus-tikus dan kecoa-kecoa …

Kita bersihkan rumah ini bersama-sama, kita jaga, kita rawat, kita lindungi, kita perindah dengan rasa bangga yang sama yang kita tunjukkan ketika kita membanggakan dan memamerkan pusaka ini pada para tetangga kita. Mengutuki rumah sendiri, mencelanya dengan mengatribusikan segala keburukan yang terjadi pada rumah yang kita tempati (rumah yang kita bangun bersama untuk melindungi diri kita dan menjaga kehormatan kita) akan membuat kita berkurang cinta dan takzimnya kita pada rumah kita sendiri.

Belajarlah dari tetangga-tetangga kita, jauh dan dekat. Mereka tidak mengutuki rumah mereka ketika ada tikus dan kecoa di dalamnya. Mereka membersihkan rumah mereka dengan tetap menjaga muruah rumah mereka, karena mereka tahu yang mereka lakukan — bersih-bersih itu — adalah demi muruah rumah dan diri mereka sendiri.

Berhentilah mencela Indonesia, karena Indonesia adalah rumah kita sendiri. Jangan menghukum Indonesia karena keburukan-keburukan yang terjadi di dalamnya. Hukumlah pihak-pihak yang bersalah. Bersihkan. Perbaiki dan jaga kebersihannya, agar tak ada lagi kebocoran, agar tak ada lagi tikus-tikus dan kecoa-kecoa yang masuk dan suka bersarang di dalamnya.

Terus terang saya sangat khawatir dengan kecenderungan yang terus-menerus terjadi sejak era kebebasan kita menangkan: mengutuki dan mencela rumah sendiri. Kita tahu, dalam psikologi, semua yang diulang-ulang akan tertanam dalam, dianggap benar, dan menjadi kenyataan. Negara dan tanahair kita tidak buruk rupa. Banyak tetangga-tetangga kita, jauh dan dekat, yang mengaguminya, iri pada kemegahannya. Akankah kita, yang tinggal di dalamnya dan dilindunginya, justru merasa bahwa ia buruk rupa, lalu mengutukinya, dan pelan-pelan tanpa disadari menghancurkannya?

Jangan!

11 pemikiran pada “Berhentilah Mencela Indonesia

  1. hampir tiap hari nih saya denger Indonesia jelek. Ya itu tadi, kita-kita disuguhkannya yg jelek2 terus, jadinya tertanam dalam otak. Jumlah acara di televisi tentang kasus korupsi lebih banyak daripada acara yang menunjukan keindahan indonesia

    Menurut saya sih, kita harus sering jalan keluar dari rumah, biar lihat dan dengar sendiri gimana sih Indonesia itu. Jadi, jangan kemakan sama media (aduh maaf nih, saya suka sensi sama media). Demi Allah, banyak orang baik di Indonesia ini daripada penjahat-penjahat kayak para koruptor itu, tapinyaaaa yang baik-baik mah jarang muncul ke permukaan, alasannya biasanya sepele: ga menjual.

    Nice post sir!🙂

  2. setuju pak, appreciate sekali! pikiran melahirkan perkataan, perkataan melahirkan perbuatan, perbuatan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, semoga kita semua diliputi pikiran dan doa yang baik, Amiiin

    1. Mudah-mudahan itu bukan pertanda keputusasaan. Masih lebih banyak hal dan orang-orang baik dan hebat di negeri ini. Cuma karena pers selalu mengangkat dan memberitakan hal-hal yang buruk, kita jadi yakin bahwa negeri ini memang buruk. Dalam istilah psikologi massa itu disebut priming. Cobalah sekarang berpaling dari tv dan berita-berita buruk, lalu carilah dan renungkan yang hebat2nya. Insyaallah bisa, dan kita bisa menjadi bagian dari kekuatan positif itu.🙂

    1. Kata “kenyataan” barangkali harus dikasih tanda kutip. Masih lebih banyak hal baik di negeri ini daripada buruknya. “Kenyataan” itu hadir dalam benak kita karena yang buruk-buruk terus-menerus diberitakan. Kita jadi pesimis dan memandang rumah kita sendiri jelek. Efek psikologis “priming”: hal-hal yang diulang-ulang (terus-menerus kita dengar) akan kita anggap benar. Terima kasih sudah berkomentar.🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s